TVRINews, Jakarta
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa keberhasilan menghafal 30 juz Al-Qur'an merupakan pencapaian besar, namun bukan akhir dari proses belajar. Menurutnya, kemampuan menghafal Al-Qur'an harus diikuti dengan pendalaman ilmu dan pemahaman yang lebih luas terhadap makna serta hakikat kandungan Al-Qur'an.
Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin Umar saat menghadiri Wisuda Tahfidz Yayasan Sulaimaniyah yang berlangsung di kawasan Jakarta Selatan. Dalam kesempatan itu, ia mengajak para santri untuk terus mengembangkan kapasitas intelektual dan spiritual, serta tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menghafal semata.
Menag menjelaskan, terdapat empat tingkatan pemahaman Al-Qur'an yang perlu ditempuh untuk melahirkan generasi ulama yang memiliki kedalaman ilmu. Tahap pertama adalah Ibarat Al-Qur'an, yang mencakup kemampuan membaca, tajwid, dan hafalan. Tahap berikutnya adalah Isyarat Al-Qur'an, yang menuntut penguasaan ilmu bahasa Arab seperti nahwu, sharaf, dan balaghah.
Setelah menguasai dua tingkatan tersebut, para penghafal Al-Qur'an didorong untuk memasuki tahap Latha'if Al-Qur'an, yaitu kemampuan memahami pesan-pesan spiritual dan nilai batin yang terkandung dalam ayat-ayat suci.
Adapun tingkatan tertinggi adalah Haqaiqul Qur'an, yakni kemampuan memahami hakikat terdalam dari firman Allah SWT.
"Bangsa Indonesia dan dunia mengharapkan orang-orang yang sudah sampai ke tingkat Haqaiqul Qur'an. Tidak perlu semuanya, tapi mungkin segelintir, tapi itu sudah bisa menjadi matahari menerangi dunia," ujar Menag Nasaruddin dalam keterangan tertulis, Selasa, 16 Juni 2026.
Menurut Nasaruddin Umar, untuk mencapai tingkatan tersebut diperlukan pendekatan yang tidak hanya mengandalkan kemampuan berpikir logis. Ia menekankan pentingnya memadukan konsentrasi intelektual (concentration), perenungan spiritual (contemplation), dan kepasrahan total kepada Allah SWT (consecration).
Kombinasi antara penguatan ilmu, kebersihan hati, dan kedekatan spiritual dinilai menjadi jalan untuk memahami makna Al-Qur'an secara lebih mendalam.
Di hadapan ratusan wisudawan dan wisudawati, Menag juga mengingatkan bahwa prosesi wisuda bukanlah akhir dari perjalanan menuntut ilmu, melainkan awal dari proses pembelajaran yang lebih panjang.
"Ini bukan akhir daripada sebuah pencarian setelah khatam 30 Juz. Justru kita menganggap ini adalah awal daripada sebuah pencarian panjang untuk mengenali Al-Quran," pesannya.
Pada kesempatan yang sama, Menag memberikan apresiasi kepada Yayasan Tahfidz Sulaimaniyah yang dinilai konsisten mencetak generasi penghafal Al-Qur'an sejak berdiri pada 2005.
Ia menilai yayasan tersebut telah menunjukkan dedikasi besar dalam pengembangan pendidikan Al-Qur'an, meski tidak banyak menonjolkan capaian yang telah diraih kepada publik.
"Yayasan Sulaimaniyah ini tidak 'berkoar-koar', tidak pernah 'menepuk dada', dan minim mempublikasikan prestasinya. Tapi diam-diam mereka melakukan bakti kemanusiaan. Maaf saya agak terharu pada pagi hari ini, (yayasan ini) tidak populer di bumi tapi bisa saja menjadi 'selebriti' (di) langit,"lanjutnya.
Menutup sambutannya, Nasaruddin Umar mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam keberhasilan para penghafal Al-Qur'an. Menurutnya, dukungan dan pengorbanan orang tua menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan anak.
"Kelak di akhirat, para orang tua yang menuntun anaknya menghafal Al-Qur'an akan dikalungkan mahkota yang cahayanya lebih terang dari matahari," pungkasnya.
Wisuda Tahfidz Yayasan Sulaimaniyah tahun ini diikuti sekitar 350 wisudawan dan wisudawati. Acara tersebut turut dihadiri Wakil Presiden RI ke-13 Ma'ruf Amin, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DKI Jakarta Adib, jajaran pengurus Yayasan Sulaimaniyah, para ulama, serta tamu undangan dari berbagai negara, termasuk Turki, Malaysia, Singapura, Australia, dan sejumlah negara di Eropa.










