TVRINews – Jakarta
Pemerintah minta kelompok rentan batasi aktivitas luar ruang dan gunakan masker saat kualitas udara memburuk.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengimbau masyarakat yang berada di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk meningkatkan tindakan pencegahan guna mengantisipasi ancaman bahaya paparan asap.
Langkah ini diambil seiring meningkatnya risiko gangguan kesehatan akibat penurunan kualitas udara di sejumlah titik wilayah yang terpapar pencemaran polusi karhutla.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati, menyatakan bahwa sebaran asap dari kebakaran lahan memiliki daya rusak yang luas dan berpotensi memicu masalah kesehatan akut hingga memperberat kondisi penderita penyakit menahun.
"Partikel asap karhutla tidak sekadar mengganggu saluran pernapasan, tetapi juga berisiko menimbulkan iritasi pada mata dan kulit, serta memperburuk kondisi pasien penyakit kronis," kata Widyawati dalam keterangan resmi bersama Badan Komunikasi Pemerintah dikutip Minggu 18 Oktober 2026.
Oleh karena itu, pemerintah memberikan perhatian khusus kepada kelompok masyarakat yang dinilai paling rentan terhadap paparan polusi udara tersebut. Kelompok ini mencakup anak-anak, usia lanjut, ibu hamil, serta individu yang memiliki riwayat penyakit pernapasan bawaan.
Sebagai langkah antisipasi untuk menekan risiko paparan, Otoritas Kesehatan Nasional merilis empat panduan utama bagi warga di kawasan terdampak:
1. Pembatasan Kegiatan Outing: Meminimalkan aktivitas di luar rumah, khususnya saat indeks kualitas udara menunjukkan status tidak sehat.
2. Penggunaan APD: Mengenakan masker pelindung yang memadai jika terpaksa beraktivitas di ruang terbuka untuk menyaring partikel berbahaya.
3. Kondisi Fisik: Menjaga kebugaran dan imunitas tubuh secara konsisten.
4. Penanganan Medis: Segera mengunjungi fasilitas kesehatan terdekat apabila muncul gejala gangguan kesehatan.
Widyawati menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah pusat dan daerah terus diperkuat untuk memastikan penanganan serta pencegahan dampak kesehatan berjalan optimal di lapangan.
Menurutnya, pemantauan berkala dan penyiapan fasyankes menjadi fokus utama saat ini demi melindungi keselamatan warga dari ancaman krisis udara bersih.









