TVRINews, Jakarta
Menteri Kebudayaan menekankan bahwa keraton merupakan ruang hidup yang terus menyemai beragam ekspresi budaya lintas generasi.
Keberadaan keraton dan kerajaan Nusantara dinilai memegang peranan krusial tidak hanya dalam merawat keberagaman, tetapi juga sebagai pilar utama penguatan identitas budaya nasional.
Urgensi pelestarian dan pengembangan warisan luhur tersebut menjadi fokus pembahasan utama dalam Sarasehan Nasional Keraton Nusantara bertajuk “Mewujudkan Jakarta Sebagai Etalase Keindahan Budaya Nusantara, Menyongsong 5 Abad Jakarta” yang diselenggarakan di Hotel Arya Duta Menteng, Jakarta.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, yang hadir memberikan pandangan strategis, menegaskan bahwa keraton dan kesultanan di Nusantara merupakan cultural capital (modal budaya) bangsa yang harus dijaga, dirawat, dan dikembangkan secara berkesinambungan.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon (kedua dari kanan). [Foto: TVRINews/HO-Kementerian Kebudayaan/Vidhy Fellizano Sfinoza]
Menurutnya, keraton bukan sekadar peninggalan artefak sejarah masa lampau, melainkan ruang hidup yang terus menyemai beragam ekspresi budaya lintas generasi.
“Keraton dan kerajaan kesultanan di Nusantara ini merupakan modal budaya atau cultural capital kita yang perlu kita jaga,” ungkap Fadli Zon dalam keterangan yang diterima tvrinews, Minggu, 18 Oktober 2026.
Menbud Fadli menjelaskan bahwa kekayaan budaya Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke tercermin dalam ragam etnis, bahasa, tradisi, adat istiadat, hingga kesenian.
Dalam ekosistem ini, keraton dan lembaga adat berfungsi strategis sebagai penjaga nilai-nilai luhur sekaligus jembatan penghubung antara warisan sejarah dan dinamika kehidupan masyarakat modern.
Transformasi Keraton Menjadi Kantong Budaya dan Penggerak Ekonomi
Lebih lanjut, Menteri Kebudayaan mendorong agar keraton dan berbagai ruang budaya di tanah air dapat direvitalisasi dan dioptimalkan pemanfaatannya oleh masyarakat luas. Melalui penguatan fungsi fasilitas budaya, warisan sejarah diharapkan tidak sekadar terpelihara, tetapi juga mampu memberikan multiplier effect berupa manfaat sosial dan ekonomi.
“Kita harapkan ini bisa menjadi semacam upaya untuk mendorong kemajuan kebudayaan dan menjadikan museum, taman budaya, keraton, istana, dan semuanya ini sebagai enklaf budaya atau kantong budaya,” kata Menteri Fadli Zon.
Penguatan fungsi ruang budaya ini dinilai mampu membuka peluang besar bagi tumbuhnya sektor ekonomi budaya dan industri kreatif. Kolaborasi strategis seperti pengembangan cendera mata khas, produk kreatif bernilai estetika tinggi, hingga kuliner tradisi keraton dapat menjadi wahana pemberdayaan masyarakat berbasis warisan budaya.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menekankan pentingnya mentransformasikan kekayaan aset budaya menjadi produk-produk bernilai tambah di sektor ekonomi kreatif. Narasi, sejarah, dan nilai filosofis yang terkandung di dalam pusaka serta tradisi Nusantara dapat diolah menjadi berbagai komoditas kreatif, mulai dari kriya hingga karya sinema/film.
“Setelah aset budaya menjadi aset ekonomi, pengelolaan dan penjualannya bisa melalui wadah koperasi. Jadi, ini sebuah ekosistem tempat para stakeholder yang mungkin selama ini puzzle-nya tercerai-berai, hari ini insyaallah mulai tergabung menjadi satu,” ungkap Teuku Riefky.
Aspirasi FSKN dan Penguatan Peran Jakarta
Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) sekaligus Karaeng Turikale VIII Maros, Brigjen Pol. (Purn.) A.A. Mapparessa, menyampaikan apresiasi serta menyerahkan sejumlah aspirasi strategis kepada pemerintah. Poin utama yang didorong meliputi:
1. Penguatan payung pelindungan hukum bagi kebudayaan keraton Nusantara.
2. Penyusunan ensiklopedia keraton Nusantara.
3. Digitalisasi aset dan dokumentasi sejarah keraton guna memperkuat sistem pendataan serta mendukung perumusan kebijakan kebudayaan yang lebih akurat dan terarah.
Melalui momentum sarasehan yang menyongsong 5 abad kota Jakarta, forum ini berhasil merajut sinergi erat antara pemerintah pusat, para raja, sultan, pemangku adat, dan komunitas budaya.
Jakarta diharapkan semakin kokoh menjelma sebagai etalase utama yang merepresentasikan keindahan, kekayaan, dan keragaman identitas budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke.










