TVRINews – Jakarta
Fokus pada investasi energi dan perdagangan, Jakarta dorong transformasi ekonomi melalui kerja sama bilateral yang lebih dalam dengan Moskow.
Memasuki tujuh dekade lebih jalinan diplomatik, Indonesia dan Rusia menegaskan komitmen untuk memperdalam kemitraan strategis yang mencakup berbagai sektor krusial, mulai dari ekonomi hingga teknologi. Momentum peringatan 76 tahun hubungan kedua negara menjadi titik tolak bagi Jakarta untuk mengakselerasi kolaborasi yang saling menguntungkan.
Dalam acara resepsi Hari Nasional Federasi Rusia pada Senin 29 Juni 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia Airlangga Hartarto menekankan pentingnya menjaga fondasi kerja sama yang telah dirintis selama ini. Menurutnya, stabilitas hubungan bilateral yang terbangun di atas rasa saling menghormati adalah aset vital bagi generasi saat ini.
"Selama lebih dari tujuh dekade, kemitraan kita terus berkembang berdasarkan rasa saling menghormati dan kepentingan bersama. Fondasi kokoh yang telah dibangun oleh para pendahulu kita terus dipertahankan lintas generasi kepemimpinan dan hingga kini tetap menjadi landasan yang mengawal kerja sama kita," ujar Menko Perekonomian dalam pidato resminya yang dikutip Selasa 30 Juni 2026.
Data perdagangan mencatat capaian positif dengan nilai transaksi bilateral mencapai USD 5 miliar sepanjang tahun 2025. Sektor pariwisata juga menunjukkan sinyal penguatan, ditandai dengan dibukanya kembali rute penerbangan langsung antara Moskow dan Denpasar yang memfasilitasi arus kunjungan wisatawan.
Akselerasi Kerja Sama Kelembagaan
Upaya penguatan hubungan ini tidak hanya berhenti pada retorika diplomatik. Pada Mei 2026, delegasi Indonesia telah melakukan kunjungan ke Kazan untuk memimpin sesi ke-14 Komisi Bersama Indonesia-Rusia di bidang Perdagangan, Ekonomi, dan Kerja Sama Teknik bersama Wakil Perdana Menteri Rusia, Denis Manturov.
Langkah ini dipandang sebagai bentuk keseriusan kedua negara dalam menciptakan kerangka kerja kelembagaan yang lebih tangguh, yang mampu menjembatani kepentingan pemerintah dengan sektor privat.
Pemerintah Indonesia melihat peluang besar bagi Rusia untuk berkontribusi pada transformasi ekonomi nasional, khususnya dalam bidang:
• Hilirisasi industri dan pembangunan infrastruktur.
• Ketahanan energi dan pengembangan teknologi.
• Digitalisasi ekonomi dan pembangunan berkelanjutan.
Peluang Pasar Eurasia
Salah satu instrumen penting yang mendasari optimisme ini adalah Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia dengan Uni Ekonomi Eurasia yang disepakati pada Desember 2025.
Pakta ini diproyeksikan menjadi katalisator bagi dunia usaha Indonesia untuk memperluas akses pasar di kawasan Eurasia, termasuk Rusia.
Sebagai bentuk nyata dari kemitraan yang kian erat, Indonesia dijadwalkan akan hadir sebagai negara mitra (partner country) pada pameran industri terkemuka di Rusia bulan depan. Keikutsertaan ini diharapkan menjadi ajang pertukaran inovasi di sektor otomotif, manufaktur bernilai tambah, dan teknologi digital.
Menutup rangkaian diskusi tersebut, Menko Perekonomian menegaskan bahwa seluruh langkah strategis ini selaras dengan agenda pembangunan nasional Indonesia, yakni Asta Cita, yang menempatkan penguatan kerja sama internasional sebagai pilar penting dalam mewujudkan kemandirian ekonomi.
Acara tersebut turut dihadiri oleh jajaran duta besar serta sejumlah menteri terkait dari kabinet Pemerintah Indonesia, menandakan komitmen lintas sektor dalam mendukung keberlanjutan hubungan diplomatik kedua negara.










