TVRINews – Jakarta
Transformasi Digital Penyiaran Olahraga Global Menuju Era Baru Sinergi Infrastruktur.
Di balik gemuruh stadion dan gol-gol spektakuler yang disaksikan oleh miliaran pasang mata, tersimpan kerja senyap dari ekosistem digital yang kompleks. Ajang Piala Dunia 2026 tidak hanya meninggalkan catatan sejarah di atas rumput hijau, tetapi juga menandai titik balik evolusi penyiaran olahraga internasional melalui perpaduan kecerdasan buatan, komputasi awan, hingga jaringan 5G.
Dalam seminar bertajuk “Beyond World Cup 2026: Lessons Learned & The Future of Broadcasting Technology” yang dihelat di Media Center TVRI. Acara yang terselenggara berkat kolaborasi IEEE Indonesia Section dan TVRI ini mempertemukan para pemangku kepentingan industri penyiaran, telekomunikasi, dan teknologi untuk memetakan arah masa depan penyiaran nasional.
Acara ini diawali dengan sambutan pembuka dari Dr. Kurnianingsih selaku IEEE Indonesia Section Chair, serta pengantar dari Dr. Agnes Irwanti selaku Chair, Industry Relations & Professional Activities Committee, Indonesia Section.
Kecerdasan Buatan dan Presisi Pertandingan
Peran teknologi kini telah bertransformasi menjadi elemen vital dalam menjaga keadilan di lapangan hijau. Dikutip Selasa 11 Agustus 2026 Direktur Tehnik LPP TVRI, Bernardus Satriyo Dharmanto, memaparkan bahwa adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) telah menjadi standar baru dalam ekosistem sepak bola modern.

(Direktur Tehnik LPP TVRI, Bernardus Satriyo Dharmanto (Berdiri depan) saat memaparkanadopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). [Foto: TVRI Nasional])
Menurut Bernardus, pemanfaatan AI difokuskan untuk mendukung deteksi posisi pemain serta bola, analisis offside otomatis, hingga mempercepat rekomendasi bagi perangkat VAR guna meminimalisasi kesalahan manusia.
Teknologi canggih ini mengombinasikan kamera berkecepatan tinggi, sensor bola pintar, pembelajaran mesin (machine learning), visi komputer (computer vision), serta Teknologi Semi-Automated Offside lanjutan (SAOT). Seluruh data tersebut diolah secara instan demi menjamin transparansi serta konsistensi keputusan wasit.
Transformasi tersebut turut merambah ruang kendali siaran televisi. TVRI, kata Bernardus, secara konsisten mengintegrasikan sistem distribusi satelit dan IP, protokol Secure Reliable Transport (SRT), tata suara multibaris, hingga pengarsipan digital demi menghadirkan pengalaman visual yang mendalam bagi pemirsa. Langkah ini menegaskan komitmen lembaga penyiaran publik dalam mengadopsi standar penyiaran olahraga global yang aman dan andal.
Mengelola Lonjakan Trafik Digital Skala Masif
Bagi penyedia layanan penyiaran berbasis streaming, tantangan utama terletak pada kemampuan menjaga stabilitas layanan di tengah lonjakan penonton secara serentak. General Manager Digital Content Creation & Community MAXStream TV, Anto Sihombing, mengungkapkan bahwa pihaknya melakukan penguatan infrastruktur jaringan nasional secara masif, optimasi ribuan titik konsentrasi massa, serta pemanfaatan jaringan seluler generasi kelima guna mengantisipasi ledakan trafik selama turnamen berlangsung.
Kendati demikian, Anto menegaskan bahwa kapasitas server semata tidak menjadi jaminan tunggal keberhasilan siaran digital skala luas.

(General Manager Digital Content Creation & Community MAXStream TV, Anto Sihombing, saat menjelaskan terkait penguatan infrastruktur jaringan nasional secara masif. [Foto: TVRI Nasional])
“Keberhasilan layanan streaming skala nasional tidak hanya bergantung pada kapasitas server, tetapi juga pada kesiapan jaringan, arsitektur cloud, CDN, keamanan, monitoring real-time, serta kemampuan tim dalam menangani gangguan operasional secara cepat,” ujar Anto.
Catatan operasional menunjukkan skala fantastis dari layanan tersebut. Pada pertandingan puncak, jumlah pemirsa bersamaan (Peak Concurrent User) menyentuh angka sekitar 700 ribu pengguna, sementara total pelanggan yang mengaktifkan paket khusus turnamen mencapai sekitar 1 juta dengan akumulasi hampir 2 juta transaksi sepanjang perhelatan berlangsung.
Peran Strategis Satelit di Era Digital
Di tengah dominasi layanan berbasis internet, infrastruktur satelit terbukti tetap memegang posisi vital dalam peta distribusi konten penyiaran. Direktur Operasi Transvision, Agung Trijoko, berpandangan bahwa konvergensi antara siaran konvensional dan streaming bukan merupakan bentuk kompetisi, melainkan sebuah hubungan yang saling melengkapi.
Satelit tetap difungsikan sebagai tulang punggung utama distribusi jangkauan nasional, sementara platform digital bertindak sebagai medium interaktif bagi konsumen akhir.
Model hibrida ini dinilai sangat relevan diterapkan di wilayah geografis Indonesia yang bercirikan kepulauan luas, di mana belum seluruh daerah tersentuh jaringan serat optik secara merata. Kolaborasi lintas sektor antara penyedia satelit dan operator telekomunikasi diyakini mampu menciptakan efisiensi distribusi yang lebih luas bagi masyarakat.
Menyongsong Era 5G Broadcast
Horizon industri penyiaran kini mulai melangkah menuju adopsi teknologi 5G Broadcast. Account Manager Rohde & Schwarz Indonesia, Lucky Recarwijaya, menerangkan bahwa pergeseran kebiasaan konsumen yang beralih ke perangkat telepon pintar menuntut metode transmisi konten yang lebih adaptif.
Teknologi 5G Broadcast bekerja melalui standar penyiaran one-to-many berbasis 3GPP, yang memungkinkan pengiriman muatan data dalam skala besar secara simultan tanpa membebani kapasitas pita lebar seluler konvensional.
“5G Broadcast tidak dimaksudkan menggantikan streaming, melainkan menjadi pelengkap untuk distribusi konten live berskala besar, sementara streaming tetap digunakan untuk layanan personal dan interaktif,” jelas Lucky.
Lebih lanjut, implementasi teknologi ini dinilai menyimpan potensi besar bagi lanskap telekomunikasi Indonesia, tidak hanya dalam hal efisiensi siaran, tetapi juga sebagai penopang layanan informasi publik serta sistem peringatan dini bencana berbasis infrastruktur penyiaran yang ada.
Kolaborasi sebagai Fondasi Utama Masa Depan
Benang merah dari seluruh diskursus industri ini bermuara pada satu esensi penting: kolaborasi lintas sektor. Kecerdasan buatan memerlukan sokongan data, layanan digital menuntut ketahanan jaringan, satelit memperluas batas teritorial siaran, dan inovasi 5G Broadcast membuka efisiensi baru bagi publik.
Masa depan penyiaran modern tidak semata ditentukan oleh kecerahan perangkat teknologi, melainkan kesiapan kapasitas sumber daya manusia, penguatan infrastruktur, serta sinergi erat antara lembaga penyiaran, regulator, operator telekomunikasi, dan industri teknologi.
Transformasi ini membuktikan bahwa teknologi telah menjelma menjadi “pemain kedua” yang bekerja di balik layar, memastikan standar kualitas penyiaran terbaik bagi jutaan penikmat olahraga di seluruh dunia.








