TVRINews, Probolinggo
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap tiga faktor utama yang membuat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, sulit dipadamkan hingga memasuki hari ke-10.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan kendala tersebut meliputi kondisi medan yang ekstrem, keterbatasan sumber air, serta faktor cuaca yang belum mendukung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Meski menghadapi berbagai kendala, BNPB optimistis penanganan di dua titik utama kebakaran di kawasan Bromo dapat dituntaskan pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Suharyanto mengatakan kendala pertama adalah kondisi topografi kawasan TNBTS yang cukup berat. Sejumlah titik api berada di lokasi dengan kemiringan lereng mencapai 80 derajat sehingga sulit dijangkau personel melalui jalur darat.
"Untuk keselamatan jiwa para personel, tim darat tidak memungkinkan menjangkau titik api yang berada di medan dengan kemiringan sangat curam," ujar Suharyanto dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Selasa, 11 Agustus 2026.
Kendala kedua adalah keterbatasan sumber air di sekitar lokasi kebakaran. Saat ini, pengisian air untuk armada pemadaman masih mengandalkan pasokan dari Ranu Pani.
Kondisi tersebut membuat operasi pemadaman udara membutuhkan pengaturan pasokan air secara cermat agar armada water bombing dapat beroperasi secara optimal.
Sementara, kendala ketiga berkaitan dengan kondisi cuaca. BNPB belum dapat melakukan OMC karena pertumbuhan awan hujan di sekitar kawasan TNBTS belum memenuhi kondisi yang diperlukan untuk pelaksanaan hujan buatan.
Namun, berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat potensi pertumbuhan awan hujan pada 14 hingga 16 Agustus 2026.
"Berdasarkan penjelasan BMKG, terdapat potensi awan hujan pada 14-16 Agustus. Jika potensi tersebut dikonfirmasi, BNPB akan segera menggelar Operasi Modifikasi Cuaca agar hujan dapat diturunkan secara optimal di area terdampak," kata Suharyanto.
Berdasarkan data BNPB, luas lahan yang terdampak kebakaran di kawasan TNBTS hingga saat ini mencapai 889 hektare. Area terdampak tersebar di empat wilayah administratif, yakni Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Malang, dan Pasuruan.
BNPB bersama BPBD provinsi serta BPBD kabupaten/kota berkomitmen mempercepat pemadaman, khususnya pada dua titik utama di kawasan Bromo.
Target tersebut dinilai penting karena keberhasilan pemadaman di Bromo akan memungkinkan BNPB mengalihkan sebagian armada water bombing ke wilayah lain yang membutuhkan dukungan penanganan karhutla.
"Saat ini ada tiga unit helikopter water bombing yang disiagakan. Begitu dua titik di Bromo ini berhasil dipadamkan dengan target hari Jumat, dua unit armada akan segera kita geser untuk mendukung operasi pemadaman di daerah lain yang juga membutuhkan dukungan udara," ucap Suharyanto.
BNPB akan terus memantau perkembangan kondisi di lapangan sekaligus mengoptimalkan operasi pemadaman melalui jalur udara dan dukungan personel di darat. Faktor cuaca juga akan terus dipantau untuk menentukan kemungkinan pelaksanaan OMC di kawasan terdampak.








