TVRINews, Yogyakarta
Tekan penggunaan pupuk kimia dan atasi wereng, BRIN kembangkan Slow Release Fertilizer (SRF) bersama petani di Klaten.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat komitmen pendampingan kepada para petani melalui penerapan teknologi Slow Release Fertilizer (SRF) yang dipadukan dengan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Program inovatif ini dikembangkan melalui program demplot di Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, guna mendongkrak produktivitas padi sekaligus memangkas ketergantungan pada pupuk kimia konvensional.
Program ini kini memasuki Demplot II seluas 3.200 meter persegi, melanjutkan kesuksesan Demplot I seluas 3.300 meter persegi. Pada tahap kedua ini, BRIN tidak hanya berfokus pada efisiensi pemupukan, tetapi juga mengintegrasikannya dengan strategi pengendalian organisme pengganggu tanaman secara berkelanjutan.
Peneliti Pendamping dari Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Agus Supriyo, menjelaskan bahwa dalam program Demplot II, para petani dilatih secara mandiri untuk meracik pupuk SRF Formula B. Formula ini diracik menggunakan bahan baku utama seperti Urea, SP36, dan Kalium yang dienkapsulasi menggunakan bahan pembenah tanah ramah lingkungan, yakni arang tempurung kelapa, arang sekam, bahan organik, dan zeolit.
"Formula B dirancang untuk meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara oleh tanaman sekaligus membantu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan rizosfer tanah," jelas Agus dalam keterangan tertulis, Selasa, 11 Agustus 2026.
Karakteristik slow release membuat pelepasan unsur hara berlangsung secara perlahan dan bertahap (controlled release), sehingga dapat diserap secara optimal oleh tanaman padi. Dengan cara ini, produktivitas tanaman tetap terjaga tinggi meskipun dosis pupuk kimia yang diberikan lebih sedikit dari biasanya.
Integrasi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Atasi Wereng
Selain persoalan pemupukan, musim tanam gadu di Klaten turut diwarnai tantangan peningkatan serangan hama Wereng Batang Coklat (WBC). Untuk mengatasi hal ini, BRIN mengombinasikan teknologi SRF dengan pendekatan PHT secara menyeluruh.
Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Arlina B. Puspita, memaparkan bahwa strategi pengendalian WBC dilakukan secara dini melalui:
* Penggunaan varietas unggul: Memanfaatkan varietas tahan wereng seperti Inpari 32 WBC dan Bioni 63.
* Pemantauan berkala: Mengawasi populasi hama sejak awal masa tanam.
* Pola tanam serentak: Menerapkan pola tanam serentak untuk memutus siklus hidup hama.
Ke depan, BRIN mendorong agar inovasi pembuatan pupuk SRF dapat ditransformasikan menjadi model unit usaha mandiri bagi petani. Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN, Gutomo Bayu Aji mengatakan pupuk SRF direncanakan dikembangkan melalui koperasi bersama Gapoktan, sehingga teknologi tidak berhenti di demplot, tetapi memiliki peluang untuk diterapkan secara lebih luas.
“Pupuk SRF bukan hanya mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia dan pembenah tanah, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam menurunkan emisi karbon dari sektor nitrogen pertanian,” ujar Gutomo.








