TVRINews, Probolinggi
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur.
BNPB menargetkan seluruh titik api di kawasan lereng Gunung Bromo dapat dipadamkan secara menyeluruh dalam waktu tiga hari.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan percepatan penanganan diperlukan mengingat kondisi medan di kawasan TNBTS cukup sulit dijangkau. Dukungan peralatan pemadaman juga diperkuat untuk meningkatkan efektivitas sekaligus keselamatan personel di lapangan.
Instruksi tersebut disampaikan Suharyanto saat membuka Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla TNBTS di Probolinggo, Jawa Timur, Selasa, 11 Agustus 2026.
BNPB meminta seluruh sarana dan prasarana penanganan bencana yang tersedia di gudang BPBD segera dimobilisasi. Peralatan tersebut meliputi alat pelindung diri (APD), pompa portabel, serta perlengkapan pendukung lainnya.
Suharyanto menilai penggunaan peralatan sederhana seperti gepyok tidak lagi memadai untuk menangani kebakaran di kawasan dengan medan terjal.
"Penggunaan cara-cara tradisional seperti gepyok harus kita tinggalkan. Kita dukung penuh pasukan darat dari TNI dan tim gabungan dengan perlengkapan modern, APD, serta pompa portabel agar proses pemadaman berjalan efisien dan aman," ujar Suharyanto dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Selasa, 11 Agustus 2026.
Keterbatasan sumber air menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman. Untuk mengatasinya, BNPB menyiapkan kantong air elastis atau flexible tank berkapasitas enam ton yang akan ditempatkan di sejumlah titik di sepanjang jalur darat utama.
Kantong air tersebut akan diisi secara berkala menggunakan helikopter water bombing. Pasokan air itu selanjutnya dapat digunakan personel pemadam di darat untuk mempercepat pemadaman dan membasahi area yang telah terbakar guna mencegah munculnya kembali titik api.
Kemudian, BNPB telah memobilisasi tiga unit helikopter untuk mendukung pemadaman dari udara. Strategi water bombing menjadi salah satu metode utama karena kondisi medan TNBTS memiliki lereng curam dengan kemiringan mencapai sekitar 80 derajat.
Pada Selasa, 11 Agustus 2026, operasi water bombing difokuskan pada titik kebakaran di Pusung Duwur, wilayah Dingklik. Selain menjatuhkan air ke titik api, operasi juga diarahkan untuk membasahi area yang sebelumnya terbakar.
Sementara, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum dapat dilakukan karena belum terdapat pertumbuhan awan hujan yang memadai di sekitar kawasan TNBTS.
"Kita manfaatkan cuaca cerah dan optimalkan pemadaman udara (water bombing) sampai sore hari. Kita patok target, paling lambat Jumat seluruh titik api sudah padam sehingga armada pemadaman udara dapat dialokasikan untuk membackup penanganan bencana di titik rawan lainnya," ucap Suharyanto.
BNPB juga meminta pemerintah daerah dan satuan tugas penanganan karhutla di Jawa Timur meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi meluasnya kebakaran ke kawasan gunung di sekitar TNBTS, termasuk Gunung Arjuno.
Kesiapsiagaan juga diminta diperkuat terhadap potensi kebakaran di tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah. Kebakaran di lokasi tersebut dapat menghasilkan asap pekat yang berpotensi mengganggu masyarakat di wilayah permukiman dan perkotaan.
Pemerintah daerah diminta memastikan ketersediaan sumber air dan sarana pemadaman. Langkah yang disiapkan antara lain memetakan lokasi sumur bor baru, mengisi kolam penampungan air masyarakat, serta memastikan kesiapan armada tangki air milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Berdasarkan kaji cepat per Selasa, 11 Agustus 2026, luas area yang terbakar di kawasan TNBTS mencapai sekitar 889 hektare. Vegetasi yang terdampak antara lain cemara gunung, mentigi, akasia, dan semak belukar.
BNPB bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, TNBTS, dan unsur terkait akan terus mengoptimalkan penanganan hingga seluruh titik api dapat dikendalikan.
Masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di kawasan dengan vegetasi kering dan kondisi rawan terbakar.








