TVRINews, Jakarta
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memperkuat standar keselamatan wisata bahari melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan sumber daya manusia (SDM) pariwisata di delapan provinsi.
Upaya tersebut dilakukan sebagai bagian dari pengembangan destinasi wisata yang aman, berkualitas, dan berdaya saing. Penguatan kapasitas SDM diwujudkan melalui Pelatihan Peningkatan Keselamatan Wisata Bahari dalam Program Tugas Pembantuan Tahun 2026.
Pelatihan dilaksanakan secara bertahap pada Juni hingga Juli 2026 di Bengkulu, Jawa Tengah, Papua, Kepulauan Riau, Nusa Tenggara Timur, DKI Jakarta, Maluku Utara, dan Sulawesi Tengah.
Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenpar Martini Mohamad Paham mengatakan penguatan kapasitas SDM merupakan investasi penting untuk meningkatkan kualitas dan daya saing destinasi wisata bahari Indonesia.
"Indonesia memiliki potensi wisata bahari yang sangat besar. Untuk mengoptimalkan kekuatan tersebut, perlu didukung oleh SDM profesional yang memahami aspek keselamatan, mampu mengantisipasi risiko, serta memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan," ujar Martini dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Selasa, 11 Agustus 2026.
Pelatihan diikuti sekitar 30 peserta di setiap provinsi. Peserta berasal dari pengelola destinasi wisata bahari, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pemandu wisata, pelaku usaha pariwisata, masyarakat pesisir, serta pemangku kepentingan terkait.
Materi pelatihan disampaikan oleh narasumber dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Balawista Indonesia.
Peserta mendapatkan pembekalan mengenai identifikasi potensi bahaya, pemanfaatan informasi cuaca, prosedur tanggap darurat, teknik penyelamatan dasar, hingga simulasi penanganan kondisi darurat di lapangan.
Martini berharap pelatihan tersebut dapat meningkatkan kemampuan peserta dalam menerapkan standar keselamatan, mengidentifikasi potensi risiko, memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, serta memberikan pelayanan yang profesional kepada wisatawan.
Menurutnya, keselamatan merupakan salah satu fondasi penting dalam pengembangan wisata bahari. Kesiapan SDM di destinasi tidak hanya memberikan perlindungan kepada wisatawan, tetapi juga memperkuat kepercayaan terhadap kualitas pelayanan pariwisata Indonesia.
"Penguatan kapasitas masyarakat menjadi langkah strategis untuk membangun budaya sadar keselamatan sekaligus mewujudkan destinasi wisata bahari yang aman, nyaman, dan berkelanjutan," kata Martini.
Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas Masyarakat Kemenpar Ika Kusuma Permana Sari mengatakan keselamatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kualitas sebuah destinasi wisata.
Menurut Ika, pembangunan destinasi yang aman tidak cukup hanya dengan menyediakan sarana dan prasarana. Destinasi juga membutuhkan SDM yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai situasi di lapangan.
"Pelatihan ini dirancang dengan memadukan pembelajaran di kelas dan praktik lapangan melalui simulasi, sehingga peserta mampu menerapkan standar keselamatan secara langsung di destinasi masing-masing," ucap Ika.
Ia menjelaskan program tersebut merupakan bagian dari Peningkatan Kapasitas Masyarakat melalui Tugas Pembantuan Tahun 2026 yang secara keseluruhan akan dilaksanakan di 38 provinsi.
Dengan cakupan tersebut, penguatan kapasitas masyarakat diharapkan dapat menumbuhkan budaya sadar keselamatan di berbagai destinasi wisata, khususnya wisata bahari.
Kesadaran terhadap keselamatan menjadi bagian penting dalam menciptakan pengalaman wisata yang berkualitas sekaligus meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia.
Salah satu peserta dari Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) DPD Bengkulu Nurul mengatakan materi yang diperoleh membuatnya lebih siap menghadapi berbagai kondisi saat bertugas di destinasi.
"Yang paling saya rasakan dari pelatihan ini adalah bertambahnya rasa percaya diri saat bertugas. Bekal tentang membaca prakiraan cuaca dan menangani keadaan darurat membuat kami lebih siap memberikan pelayanan yang aman dan nyaman bagi wisatawan," tutur Nurul.
Hal senada disampaikan anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) asal Kepulauan Riau Vernando. Ia menilai pelatihan tersebut relevan dengan kebutuhan pengelola destinasi wisata bahari yang berhadapan langsung dengan dinamika kondisi alam dan aktivitas wisatawan.
"Pelatihan ini memberi kami pemahaman yang lebih baik tentang pengelolaan wisata pantai yang aman dan tertib. Materi yang diberikan sangat membantu Pokdarwis dalam meningkatkan standar pelayanan sekaligus memperkuat kesiapan destinasi dalam menghadapi situasi darurat," ujar Vernando.








