TVRINews, Jakarta
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, dan Menteri Kebudayaan Republik Prancis, Catherine Pégard, sepakat memperkuat kerja sama kebudayaan kedua negara melalui sejumlah program konkret. Kerja sama tersebut mencakup promosi budaya Indonesia di Prancis, pelindungan warisan budaya, pengembangan perfilman, permuseuman, sastra, musik, hingga kolaborasi di tingkat UNESCO.
Kesepakatan tersebut dibahas dalam pertemuan bilateral kedua menteri yang turut dihadiri Ketua ALIPH Bariza Khiari, Direktur ALIPH Valéry Freland, serta Presiden Centre des monuments nationaux (CMN), Marie Lavandier. Ketiga pihak tersebut merupakan mitra penting dalam pelindungan warisan budaya serta pengelolaan dan pengembangan situs bersejarah.
Fadli Zon mengatakan, kerja sama kebudayaan Indonesia dan Prancis yang diperkuat melalui Deklarasi Borobudur 2025 terus berkembang di berbagai sektor. Ke depan, kedua negara berupaya menerjemahkan hubungan tersebut menjadi program yang memberikan manfaat timbal balik bagi masyarakat.

(Foto: TVRINews/HO-Kementerian Kebudayaan)
“Indonesia dan Prancis memiliki hubungan budaya yang panjang dan sangat kaya. Kami ingin kemitraan ini semakin konkret, resiprokal, dan memberi ruang yang lebih luas bagi masyarakat kedua negara untuk mengenal kekayaan budaya satu sama lain,” ujar Menbud Fadli Zon dalam keterangan tertulis, dikutip, Senin, 12 Oktober 2026.
Salah satu agenda yang dibahas adalah peningkatan visibilitas kebudayaan Indonesia di Prancis melalui berbagai program, mulai dari konser atau resital musik Indonesia, pameran mode yang menampilkan tradisi tekstil dan kreativitas kontemporer, hingga pameran seni rupa.
Fadli Zon menilai, program tersebut dapat memperluas kesempatan bagi seniman, musisi, desainer, dan pelaku budaya Indonesia untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat internasional, khususnya di Prancis.
“Indonesia adalah negara dengan keragaman budaya yang sangat besar. Kami ingin semakin banyak karya, seniman, musisi, desainer, dan ekspresi budaya Indonesia hadir dan dikenal oleh masyarakat Prancis,” tegasnya.
Menteri Kebudayaan Prancis Catherine Pégard menyambut baik rencana pengembangan kerja sama tersebut. Ia menyatakan kesiapan institusi kebudayaan Prancis untuk mendukung berbagai inisiatif bersama, termasuk promosi budaya Indonesia dan pelindungan warisan budaya.
“Prancis menyambut baik meluasnya kerja sama kebudayaan dengan Indonesia. Institusi-institusi kebudayaan Prancis siap mendukung berbagai inisiatif bersama, baik dalam memperkuat kehadiran budaya Indonesia di Prancis maupun dalam pelindungan warisan budaya,”ungkap Menteri Pégard.
Kerja Sama Pelindungan 10 Proyek Warisan Budaya
Pelindungan warisan budaya menjadi salah satu fokus utama dalam pembahasan bilateral tersebut. Kementerian Kebudayaan berencana melanjutkan kolaborasi dengan ALIPH Foundation, lembaga yang berfokus pada pelindungan warisan budaya yang terdampak konflik, krisis, dan bencana alam.

(Foto: TVRINews/HO-Kementerian Kebudayaan)
Setelah keberhasilan konservasi Masjid Wapauwe di Maluku pada 2025, kerja sama tersebut akan dilanjutkan melalui revitalisasi 10 proyek prioritas yang tersebar di delapan provinsi.
Proyek tersebut mencakup Tjong A Fie House di Medan, Rumah Betang di Putussibau, kawasan Kota Tua Jakarta dan Museum Bahari, Candi Borobudur di Jawa Tengah, Desa Sendangduwur di Jawa Timur, Gua Leang Karampuang di Sulawesi Selatan, rumah vernakular Mabur di Alor, Gereja Santo Petrus dan Paulus di Lorulun, Desa Adat Kaitetu, serta Museum Rumphius di Maluku.
Di bidang permuseuman dan konservasi, kedua negara juga membahas peningkatan kapasitas melalui kerja sama dengan CMN, lembaga yang bertanggung jawab atas pengelolaan, pelestarian, dan pengembangan monumen bersejarah di Prancis.
Fadli Zon menyoroti pentingnya memperkuat konservasi Candi Borobudur, termasuk melindungi relief candi dari tekanan lingkungan dan dampak perubahan iklim. Kerja sama ini diharapkan dapat mendukung pengembangan keahlian konservasi sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya Indonesia.
Perfilman Indonesia-Prancis Disiapkan untuk Pasar Internasional
Di sektor perfilman, Kementerian Kebudayaan tengah mendorong pembentukan Indonesia International Film Co-production Fund yang ditargetkan mulai berjalan pada 2027. Pengembangan program tersebut direncanakan mendapat dukungan teknis dari Centre National du Cinéma et de l'Image Animée (CNC) Prancis.
Kedua negara juga menyiapkan penyelenggaraan Indonesia–France Film Lab ke-3 di JAFF Market serta membahas penguatan kehadiran Indonesia dalam ajang Festival Film Cannes pada 2028. Catherine Pégard menilai hubungan yang telah terbangun dengan CNC menjadi modal penting untuk memperluas kolaborasi perfilman kedua negara.

(Foto: TVRINews/HO-Kementerian Kebudayaan)
“Hubungan dan jejaring yang telah dibangun dengan CNC sangat kuat dan sangat baik,” lanjutnya.
Melalui kerja sama tersebut, Indonesia dan Prancis berupaya memperluas peluang kolaborasi produksi film, meningkatkan pertukaran keahlian, serta membuka akses yang lebih luas bagi karya perfilman Indonesia di tingkat internasional.
Kerja Sama Sastra hingga 150 Tahun Perjalanan Rimbaud ke Jawa
Penguatan kerja sama juga mencakup bidang sastra, terutama penerjemahan, penerbitan, serta pengembangan jejaring antara penulis dan penerbit Indonesia-Prancis.
Fadli Zon menyampaikan bahwa 2026 menandai 150 tahun perjalanan penyair Prancis Arthur Rimbaud ke Jawa, khususnya Semarang dan Salatiga pada 1876. Momentum tersebut menjadi salah satu peluang untuk mempererat hubungan sastra dan sejarah kebudayaan kedua negara.
“Tahun 2026 juga menandai 150 tahun perjalanan Arthur Rimbaud ke Jawa, khususnya Semarang dan Salatiga pada 1876. Rimbaud adalah penyair besar Prancis pelopor surealisme dan simbolisme abad ke-19,” ucapnya.
Sebagai bagian dari pengembangan kerja sama sastra, program residensi Rimbaud 2026–2027 telah berjalan dengan penulis Prancis Louis-Philippe Dalembert sebagai residen pertama di Semarang sejak September 2026.
Program tersebut diharapkan membuka ruang pertukaran gagasan dan pengalaman kreatif antara penulis kedua negara sekaligus memperkenalkan hubungan sejarah Indonesia-Prancis melalui karya sastra.
Pada tingkat multilateral, Fadli Zon juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Prancis terhadap Indonesia dalam pemilihan anggota UNESCO Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritageuntuk periode 2026–2030.
Pertemuan bilateral tersebut turut dihadiri Duta Besar Republik Indonesia untuk Prancis, Mohamad Oemar. Menteri Kebudayaan didampingi Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retnoastuti, Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan Anindita Kusuma Listya, serta Direktur Kerja Sama Kebudayaan Mardisontori.
Fadli Zon menegaskan, penguatan kerja sama di berbagai bidang perlu diikuti dengan langkah konkret, pertukaran keahlian, dan kemitraan yang memberikan manfaat bagi kedua negara.
“Momentum positif ini harus diterjemahkan menjadi tindak lanjut yang nyata, resiprositas, pertukaran keahlian, serta pertumbuhan ekosistem budaya yang berkelanjutan sebagai fondasi penting bagi hubungan kedua negara,” pungkas Menbud Fadli Zon.










