TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Christina Aryani mendorong perluasan peluang kerja dan peningkatan kuota penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Selandia Baru. Upaya ini dilakukan dengan menjajaki akses kerja di sejumlah sektor potensial, mulai dari agrikultur, peternakan, pertambangan, hingga hospitality.
Hal tersebut disampaikan Christina saat bertemu dengan Calon Duta Besar Republik Indonesia untuk Selandia Baru, Dindin Wahyudin, di Kantor Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Jakarta, Senin, 12 Oktober 2026.
Christina mengatakan, Indonesia ingin menjajaki peluang kerja baru di Selandia Baru, mengingat selama ini penempatan PMI di negara tersebut lebih dikenal pada sektor agrikultur.

"Menjelang penugasan Pak Dindin di Selandia Baru, kami menyampaikan intensi Indonesia untuk menjajaki peluang-peluang kerja baru di sana. Selama ini kita mengenal sektor agrikultur, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk peternakan, pertambangan, hingga hospitality," kata Christina dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Senin, 12 Oktober 2026.
Menurut Christina, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Wellington memiliki peran strategis dalam memetakan kebutuhan pasar kerja, mengidentifikasi sektor potensial, serta membangun komunikasi dengan para pemangku kepentingan dan pemberi kerja di Selandia Baru.
Berdasarkan data yang disampaikan Christina, target pekerja asing di Selandia Baru mencapai 20.700 orang. Namun, kuota bagi negara-negara Asia hanya sekitar 1.500 orang dan masih didominasi pekerja dari Filipina dan Thailand. Sementara itu, jumlah PMI yang ditempatkan di Selandia Baru pada 2026 baru mencapai 131 orang.
Kondisi tersebut dinilai memerlukan langkah aktif untuk memperluas akses tenaga kerja Indonesia ke pasar kerja Selandia Baru, termasuk melalui peningkatan peluang dan kuota penempatan.
"Kondisi ini menunjukkan perlunya langkah aktif untuk mengenali kebutuhan pasar dan memperkenalkan tenaga kerja Indonesia kepada pengguna di Selandia Baru. Kami meminta dukungan agar peluang dan kuota penempatan bagi Indonesia dapat ditingkatkan," ungkapnya.
Christina menambahkan, penguatan fungsi market intelligence KBRI Wellington diperlukan untuk memperoleh informasi mengenai kebutuhan tenaga kerja, persyaratan kompetensi, serta peluang penempatan yang dapat diakses oleh PMI.
Untuk mendukung upaya tersebut, Kementerian P2MI siap memfasilitasi penyelenggaraan bursa kerja (job fair), menggelar pertemuan dengan kementerian dan lembaga terkait di Selandia Baru, serta menjajaki kemungkinan kerja sama melalui nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU).
Christina berharap, pemetaan pasar kerja yang lebih komprehensif, promosi tenaga kerja yang tepat, serta komunikasi intensif dengan para pemangku kepentingan dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi PMI untuk bekerja di Selandia Baru.
"Dengan pemetaan pasar yang lebih baik, promosi yang tepat, serta komunikasi intensif dengan para pemangku kepentingan, pekerja migran Indonesia bisa mendapatkan kesempatan yang lebih besar untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di Selandia Baru," ucapnya.










