TVRINews, Jakarta
Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) mengungkap masih terdapat ratusan ribu peluang kerja di luar negeri yang belum terisi. Berdasarkan data Sistem Informasi Pelayanan dan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (SIP2MI), dari 289.938 peluang kerja yang tersedia hingga 30 Agustus 2026, baru 74.335 posisi atau sekitar 25,64 persen yang terserap.
Pelaksana Harian (Plh) Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), sekaligus Wakil Menteri P2MI, Christina Aryani mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat 215.603 peluang kerja yang terbuka bagi tenaga kerja Indonesia. Hal itu disampaikannya dalam konferensi pers bersama Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI Muhammad Qodari, Rabu, 2 September 2026.
"Artinya, masih ada 215.603 peluang kerja yang terbuka. Ini adalah kesempatan bagi tenaga kerja Indonesia, tetapi tentu harus diisi oleh sumber daya manusia yang kompeten dan memenuhi kualifikasi," kata Christina dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com, Rabu, 2 September 2026.
Untuk mengisi peluang tersebut, Kementerian P2MI mendorong program SMK Go Global yang menargetkan penempatan 500.000 tenaga kerja Indonesia ke pasar kerja internasional secara bertahap hingga 2029. Target tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menyiapkan 500.000 tenaga kerja, yang terdiri atas 300.000 calon pekerja migran Indonesia lulusan SMK dan 200.000 tenaga kerja dari kalangan umum.
Kemudian Christina menjelaskan, program SMK Go Global tidak hanya berorientasi pada pelatihan. Program tersebut dirancang untuk memastikan kompetensi peserta sesuai dengan kebutuhan industri dan dapat berujung pada penempatan kerja.

(Plh. Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI)/Wakil Menteri P2MI, Christina Aryani. [Foto: TVRINews/HO-KP2MI])
"Program SMK Go Global dibentuk untuk memberi akses kepada lulusan pendidikan vokasi menuju pasar kerja global. Kita tidak hanya bicara pelatihan, tetapi bagaimana kompetensi yang dimiliki benar-benar terhubung dengan kebutuhan industri dan berujung pada penempatan," ujarnya.
Penempatan tenaga kerja melalui program tersebut ditargetkan meningkat secara bertahap. Pada 2026, pemerintah menargetkan 40.000 tenaga kerja ditempatkan, kemudian 140.000 orang pada 2027, 180.000 orang pada 2028, dan 140.000 orang pada 2029.
Sejumlah sektor yang menjadi sasaran antara lain perawat, caregiver atau careworker, tukang las (welder), sopir bus dan truk, hospitality, serta sektor prioritas lainnya. Adapun negara tujuan mencakup Jepang, Korea Selatan, Jerman, Malaysia, Singapura, sejumlah negara di kawasan Eropa, Turki, hingga Taiwan.
Pada 2026, pelaksanaan SMK Go Global dibagi dalam dua batch. Untuk Batch 1 gelombang 1 dan 2, sebanyak 3.340 peserta telah terpilih mengikuti pelatihan yang tersebar dalam 167 kelas di 20 wilayah kerja BP3MI. Sementara itu, pendaftaran Batch 1 Gelombang 3 masih dibuka pada 1–11 September 2026.
Lebih lanjut, Christina menegaskan bahwa peserta program tidak dikenakan biaya selama mengikuti pelatihan. Seluruh pembiayaan program ditanggung melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta juga akan mendapatkan pendampingan kesiapan kerja, informasi peluang kerja, serta fasilitasi pencocokan pekerjaan atau job matching dengan mitra industri dan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI).
"Harapan kami, SMK Go Global menjadi salah satu instrumen memanfaatkan bonus demografi Indonesia sekaligus menjawab kebutuhan tenaga kerja di pasar internasional," ungkapnya.









