TVRINews, Jakarta
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno mengingatkan mahasiswa untuk tidak menjadikan gelar akademik sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Menurutnya, di tengah semakin banyaknya masyarakat yang memiliki gelar sarjana, karya dan kontribusi nyata justru akan semakin menentukan nilai seseorang.
Pesan tersebut disampaikan Pratikno saat mengisi materi Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di Agung Putra University (APU), Semarang, Jawa Tengah, Selasa, 1 September 2026.
Pratikno mengatakan, ijazah tetap penting sebagai bagian dari perjalanan pendidikan. Namun, mahasiswa harus mampu membuktikan kompetensinya melalui karya serta manfaat yang diberikan kepada masyarakat.
"Jangan hanya terbebani, bahwa saya harus sarjana. Itu betul, ijazah betul, tapi hampir semua orang punya ijazah. Nanti ke depan semua orang punya ijazah sarjana, makin inflasi, tidak ada harganya ijazah. Yang dihargai orang adalah pada akhirnya adalah apa yang pernah Anda perbuat, karya apa yang pernah Anda produksi, kontribusi apa yang pernah Anda lakukan," kata Pratikno dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Rabu, 2 September 2026.
Karena itu, Pratikno mendorong mahasiswa membangun growth mindset atau pola pikir untuk terus berkembang. Mahasiswa diminta tidak takut menghadapi kegagalan dalam proses belajar dan berani mencoba kembali ketika menemui kesulitan.

(Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno. [Foto: TVRINews/HO-Kemenko PMK])
"Yang penting bagi kita itu adalah growth mindset. Tantangan dalam proses belajar itu terus ada, tidak bisa itu wajar. Yang penting berani mencoba," ucapnya.
Selain growth mindset, Pratikno menilai mahasiswa perlu memiliki learning agility, yakni kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan. Menurutnya, perjalanan pendidikan maupun karier seseorang tidak selalu harus berjalan secara linear.
Kemudian ia mencontohkan, mahasiswa dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya dengan bidang yang berbeda dari pendidikan sebelumnya. Kemampuan untuk beradaptasi dengan bidang baru, menurutnya, menjadi salah satu ciri pembelajar sejati.
"Bisa lulus S1 lanjut linear S2 itu wajar, tetapi melanjutkan studi lanjut yang tidak linear dan sukses lulus itu adalah pembelajar sejati," ujarnya.
Pratikno juga menekankan pentingnya keterampilan T-shaped bagi mahasiswa. Konsep tersebut menggambarkan seseorang yang memiliki satu bidang keahlian yang dikuasai secara mendalam, namun juga mempunyai wawasan luas untuk memahami dan bekerja sama dengan berbagai bidang.
"Garis tegak, satu keahlian utama. Pilih, tekuni, latih, jadikan karya. Garis datar, wawasan luas: kerja sama, komunikasi, teknologi, memahami masyarakat," jelasnya.
Menurut Pratikno, kemampuan tersebut dibutuhkan agar mahasiswa tidak hanya menjadi ahli dalam satu bidang, tetapi juga mampu berkolaborasi dan mengikuti perkembangan teknologi serta perubahan kebutuhan masyarakat.
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan mahasiswa mengenai pentingnya integritas. Menurutnya, ilmu dan kompetensi yang dimiliki harus dibarengi karakter yang kuat agar dapat memberikan manfaat secara nyata.
"Pada akhirnya Anda bisa jujur walau tidak diawasi, Anda selalu berkarya walau tidak diuji, Anda bermanfaat walaupun tidak ada kamera yang mengikuti. Inilah kontribusi nyata untuk bangsa," tuturnya.
Pratikno turut mengingatkan mahasiswa untuk menjaga kesehatan fisik dan mental, serta membangun hubungan sosial dan spiritual yang baik. Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga harus membentuk individu yang sehat, berkarakter, adaptif, dan kompeten.
Dalam kesempatan tersebut, Pratikno mengapresiasi antusiasme mahasiswa baru APU. Ia juga menilai sejumlah program studi yang ditawarkan APU relevan dengan kebutuhan masa depan dan dunia industri, antara lain S1 Ilmu Biomedis, S1 Bioteknologi, S1 Hukum, S1 Manajemen, S1 Ilmu Komunikasi, S1 Kebidanan, dan D3 Kebidanan.
Pratikno menegaskan, masa perkuliahan harus dimanfaatkan mahasiswa sebagai ruang untuk mengembangkan diri, bukan sekadar sebagai tahapan untuk memperoleh ijazah.
"Belajar di kampus ini benar-benar kesempatan Anda untuk tumbuh. Jangan sampai di kampus hanya sekadar sampingan daripada tidak keterima pekerjaan. Kuliah adalah tempat untuk tumbuh," ungkapnya.









