TVRINews, Semarang
Suasana penuh tawa mewarnai pelaksanaan orientasi murid baru di TK 'Aisyiyah Terpadu Birrul Walidain, Kudus. Berbeda dengan anggapan bahwa anak harus mengikuti tes membaca atau berhitung, para peserta didik justru diajak bermain, berinteraksi, dan mengenal lingkungan sekolah.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang mengedepankan pendekatan ramah anak.
Bagi para guru, orientasi menjadi kesempatan untuk mengenali karakter setiap anak sejak awal. Sementara bagi orang tua, kegiatan tersebut memberikan rasa tenang karena anak dapat beradaptasi dengan lingkungan sekolah secara bertahap.

Salah satu orang tua murid, Eni Uswati, mengaku proses pendaftaran berlangsung sederhana dan memberi kesempatan bagi sekolah untuk memahami karakter anak sejak dini.
"Persyaratannya cukup membawa akta kelahiran, Kartu Keluarga, dan pas foto. Setelah diverifikasi, kami mengikuti orientasi bersama anak. Anak-anak diajak asesmen awal agar guru mengenal karakter mereka sejak awal,"ujar Eni dalam keterangan yang diterima tvrinews, Senin, 6 Juli 2026.
Eni mengatakan kepercayaannya terhadap sekolah tersebut didasarkan pada pengalaman tiga anaknya yang lebih dulu menempuh pendidikan di tempat yang sama. Menurutnya, lingkungan belajar yang ramah serta perhatian guru memberikan dampak positif terhadap perkembangan anak.
"Guru-gurunya sangat peduli. Anak saya yang dulu sangat aktif sekarang menjadi lebih terarah, lebih fokus, dan mulai terbiasa menjalankan ibadah. Kami berharap anak yang sekarang juga mendapatkan fondasi agama, ilmu pengetahuan, dan kemandirian sebagai bekal untuk jenjang berikutnya,"jelasnya.
Hal senada disampaikan Fathur Rohman. Setelah putranya menyelesaikan pendidikan di Kelompok Bermain, ia memutuskan melanjutkan ke jenjang taman kanak-kanak di sekolah yang sama. Ia menilai pendidikan anak usia dini seharusnya tidak berorientasi pada pencapaian akademik semata.
"Kami merasa prosesnya sangat baik. Orang tua diberikan penjelasan, sementara anak-anak dikenalkan dengan lingkungan sekolah melalui kegiatan yang menyenangkan. Harapan kami, anak menjadi lebih mandiri, lebih bertanggung jawab, dan semakin berkarakter,"ungkap Fathur.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan fondasi penting bagi perkembangan anak pada jenjang pendidikan berikutnya.
"Hampir semua teori pendidikan menyebutkan bahwa tujuh tahun pertama kehidupan merupakan masa yang paling menentukan. Pendidikan anak usia dini adalah fondasi bagi seluruh proses pendidikan selanjutnya,"kata Mu’ti.
Sebagai bentuk penguatan layanan PAUD, pemerintah memasukkan pendidikan anak usia dini ke dalam program Wajib Belajar 13 Tahun. Selain itu, dukungan juga diberikan melalui Program Indonesia Pintar (PIP) bagi peserta didik TK dari keluarga sasaran serta peningkatan kompetensi guru PAUD.
Abdul Mu'ti juga mengingatkan agar satuan pendidikan tidak membebani anak dengan tuntutan akademik yang belum sesuai dengan tahap perkembangannya.
“Jangan membebani anak-anak TK dengan tuntutan akademik yang berlebihan. Pendidikan di usia dini adalah ruang bagi anak untuk bermain, bersosialisasi, membangun rasa percaya diri, melatih motorik, menanamkan kebiasaan baik, dan membangun karakter,"ucapnya.
Semangat tersebut diterapkan dalam pelaksanaan SPMB di TK 'Aisyiyah Terpadu Birrul Walidain. Kepala sekolah, Ami, mengatakan proses penerimaan murid baru tidak hanya berfokus pada administrasi, tetapi juga menjadi momentum membangun kemitraan dengan orang tua melalui penyampaian informasi mengenai visi sekolah, kurikulum, dan pola kolaborasi.
"Kami ingin memastikan setiap orang tua memahami sejak awal visi sekolah, kurikulum, hingga pola kolaborasi yang akan dibangun. TK bukan tempat berlomba agar anak cepat bisa membaca, tetapi tempat membangun fondasi akhlak, karakter, dan kesiapan belajar,"ujar Ami.
Sementara itu, Ketua Panitia SPMB, Lelly, menjelaskan bahwa layanan pendaftaran disiapkan secara fleksibel melalui tatap muka, daring, maupun WhatsApp agar memudahkan orang tua selama proses pendaftaran.
"Target kami sederhana, orang tua merasa tenang saat mendaftarkan anaknya. Karena itu kami menyediakan berbagai jalur komunikasi, mendampingi selama proses pendaftaran, dan memastikan setiap berkas diverifikasi secara teliti,"ungkap Lelly.
Pelaksanaan SPMB PAUD yang mengedepankan pendekatan ramah anak menunjukkan bahwa proses penerimaan murid baru tidak sekadar memenuhi persyaratan administrasi. Lebih dari itu, SPMB menjadi langkah awal membangun kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan pemerintah dalam menumbuhkan karakter, kemandirian, serta kecintaan anak terhadap proses belajar melalui pengalaman yang menyenangkan.










