TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap obesitas. Menurutnya, obesitas tidak lagi sekadar berkaitan dengan penampilan, tetapi merupakan penyakit kronis yang dapat memicu berbagai komplikasi serius, terutama diabetes melitus tipe 2.
Dante mengatakan, obesitas menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Berdasarkan data Program Cek Kesehatan Gratis, kondisi tersebut secara konsisten masuk dalam lima besar temuan kesehatan terbanyak.
"Berbicara tentang obesitas berarti berbicara tentang perubahan metabolisme tubuh. Dengan mengendalikan dan menurunkan angka obesitas, kita secara langsung dapat mencegah komplikasi lanjutan, seperti menurunkan angka kasus diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung," ujar Dante dalam keterangan tertulis, Senin, 6 Juli 2026.
Ia mengungkapkan, hasil penelitian genetik di Indonesia menunjukkan hampir seluruh masyarakat memiliki bakat genetik terhadap diabetes. Namun, menurutnya, risiko tersebut sangat dipengaruhi oleh pola hidup yang dijalani setiap hari. Faktor keturunan juga berperan besar dalam meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami diabetes.
"Jika hanya salah satu orang tua yang mengidap diabetes, risiko anak terkena diabetes masih di bawah 10 persen. Namun, jika kedua orang tua menyandang diabetes, risiko anak meningkat drastis menjadi 20 hingga 30 persen pada usia yang jauh lebih muda. Kurva risikonya naik tajam,”tambahnya.
Dante menjelaskan, tingginya risiko tersebut tercermin dari hasil survei kesehatan di Jakarta yang menunjukkan prevalensi diabetes telah mencapai 12,8 persen atau sekitar satu dari delapan penduduk. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 3 persen yang telah terdiagnosis, sedangkan sekitar 9,8 persen baru mengetahui dirinya mengidap diabetes saat mengikuti survei karena sebelumnya tidak merasakan gejala.
Menurutnya, menjaga berat badan melalui perubahan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik masih menjadi tantangan. Ia menyebutkan tingkat keberhasilan diet mandiri dalam jangka panjang hanya sekitar 5 persen. Sementara itu, operasi bariatrik belum dapat diakses secara luas karena biayanya relatif tinggi dan hanya diperuntukkan bagi pasien dengan indikasi medis tertentu.
"Di antara diet mandiri dan operasi bariatrik terdapat celah yang perlu diisi. Di sinilah pentingnya kehadiran inovasi obat-obatan medis terbaru untuk menjembatani kebutuhan tersebut,"tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Spesialis Endokrinologi dari Persatuan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Em Yunir, mengatakan prevalensi diabetes di Indonesia saat ini berada pada kisaran 11,5 hingga 11,7 persen. Ia menilai penanganan diabetes tidak hanya berfokus pada pengendalian gula darah karena penyakit ini umumnya disertai berbagai penyakit penyerta, seperti hipertensi dan dislipidemia, yang dapat meningkatkan risiko kerusakan organ, termasuk gagal ginjal.
Em Yunir menjelaskan, hadirnya inovasi terapi baru berupa zat tirzepatide diharapkan dapat memberikan pilihan pengobatan yang lebih komprehensif. Obat tersebut bekerja dengan meniru dua hormon alami tubuh yang berperan mengatur rasa lapar sehingga pasien merasa kenyang lebih cepat dan lebih lama, yang pada akhirnya membantu mengurangi asupan kalori.
"Cukup dengan satu jenis pengobatan, berbagai masalah dapat ikut terkendali. Tidak hanya menurunkan kadar gula darah dengan sangat baik, tetapi juga menurunkan tekanan darah, memperbaiki profil kolesterol, hingga membantu menurunkan berat badan secara signifikan,"ungkap Em Yunir.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa kemajuan terapi medis tidak menggantikan pentingnya gaya hidup sehat. Pengaturan pola makan, aktivitas fisik secara teratur, serta menjaga berat badan ideal tetap menjadi langkah utama untuk mencegah dan mengendalikan obesitas maupun diabetes.










