TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha Djumaryo, menegaskan komitmen Kementerian Kebudayaan untuk mengawal implementasi sejumlah rekomendasi strategis hasil Konferensi Musik Indonesia (KMI) 2026. Rekomendasi tersebut diharapkan mampu memperkuat ekosistem musik nasional, mulai dari peningkatan kesejahteraan musisi hingga perluasan akses pasar musik Indonesia ke tingkat global.
Mengusung tema “Gerak Seirama”, KMI 2026 menjadi ruang kolaborasi sekaligus evaluasi terhadap rekomendasi konferensi sebelumnya. Ia menilai, pengembangan industri musik nasional membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan dan tidak dapat hanya mengandalkan peran pemerintah.
“Kementerian Kebudayaan tidak bisa melakukannya sendiri. Kami membutuhkan bantuan, informasi, dorongan, rekomendasi, dan kerja keras bersama dari seluruh ekosistem musik Indonesia,” ujar Giring dalam keterangan yang dikutip, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Hasil utama KMI 2026 dituangkan dalam dokumen Minutes of Conference (MoC), yang merangkum berbagai rekomendasi dari seluruh sesi konferensi. Dokumen tersebut memuat satu fondasi utama, tiga tonggak strategis, serta dua penopang untuk memperkuat keberlanjutan ekosistem musik Indonesia.
Fondasi utama yang disepakati adalah peningkatan kesejahteraan pelaku musik melalui penguatan regulasi dan perlindungan hukum. Hal ini mencakup perlindungan hak cipta, transparansi royalti, keadilan upah dan kontrak kerja, hingga pengaturan etika penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam industri musik.
Sementara itu, tiga tonggak strategis meliputi pembaruan pendidikan musik melalui penyempurnaan kurikulum, reposisi pengelolaan institusi pendidikan seni, serta penyaluran talenta melalui skema talent pool MKN Musik di Kementerian Kebudayaan.
Selain itu, KMI 2026 merekomendasikan pengembangan sirkuit venue dan manajemen penyelenggaraan acara musik berskala nasional dengan standar pengelolaan yang seragam. Rekomendasi lainnya adalah pembentukan Export Music Office guna membuka akses distribusi musisi dan karya Indonesia ke industri musik dunia, festival internasional, serta pasar global.
Adapun dua penopang yang menjadi perhatian adalah penguatan riset dan pencatatan berbasis dampak ekonomi melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, serta penyusunan peta jalan hilirisasi musik tradisi untuk menjamin keberlanjutan musik tradisional dan genre yang belum terjangkau industri.
Giring menyatakan, rekomendasi yang telah disusun bersama tersebut tidak boleh berhenti sebagai dokumen konferensi. Menurutnya, diperlukan langkah nyata, kolaborasi, dan tanggung jawab bersama agar seluruh rumusan dapat diwujudkan.
“Yang paling penting adalah bagaimana rekomendasi ini bisa kita tindak lanjuti bersama. Jangan sampai konferensi hanya menghasilkan dokumen, tetapi tidak ada langkah nyata setelahnya. Semangat kolaborasi yang sudah terbangun harus terus dijaga,” tegasnya.
Penutupan KMI 2026 turut dihadiri Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, Group Head of Global Sales and Distribution Garuda Indonesia Micky Irfandi, Makassar Branch Manager Garuda Indonesia Ihsan Wartadiredja, perwakilan Tim Program KMI Aristofani, serta Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Judi Wahjudin bersama sejumlah insan musik dari berbagai daerah.
Melalui hasil konferensi tahun ini, Kementerian Kebudayaan berharap terbangun langkah berkelanjutan untuk mewujudkan ekosistem musik Indonesia yang lebih kuat, adil, inklusif, dan berdaya saing di tingkat internasional.









