TVRINews, Jakarta
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya mendorong pemanfaatan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) sebagai momentum untuk memperluas pasar produk lokal, khususnya produk dari 21 subsektor ekonomi kreatif.
Upaya tersebut dilakukan melalui penjajakan kolaborasi dengan Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA). Kerja sama ini diharapkan dapat membuka peluang lebih luas bagi pelaku ekonomi kreatif untuk memasarkan produknya melalui platform perdagangan digital.
Dalam audiensi bersama idEA, Riefky menyampaikan sejumlah peluang kolaborasi, mulai dari penguatan Harbolnas, pembahasan regulasi dan kebijakan, fasilitasi komunikasi dengan berbagai asosiasi, hingga kurasi bersama kekayaan intelektual (intellectual property/IP) binaan Kementerian Ekraf.
"Saya mengapresiasi berbagai upaya yang dilakukan idEA dan memahami bahwa para anggotanya menghadapi tantangan yang tidak mudah. Ada sejumlah hal yang dapat kita kolaborasikan, mulai dari penguatan Harbolnas, pembahasan regulasi dan kebijakan, fasilitasi komunikasi dengan berbagai asosiasi, hingga kurasi bersama kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) binaan Kementerian Ekraf dari 21 subsektor ekonomi kreatif," ujar Riefky dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com, dikutip dari siaran pers, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Menurutnya, kolaborasi dengan industri perdagangan digital menjadi salah satu peluang untuk memperkuat pemasaran produk ekonomi kreatif sekaligus memperluas jangkauan konsumen. Terlebih, Harbolnas memiliki potensi pasar yang tercermin dari capaian transaksi pada penyelenggaraan tahun sebelumnya.
Berdasarkan data yang dipaparkan idEA, Harbolnas 2025 mencatat nilai transaksi sebesar Rp36,4 triliun selama satu pekan. Dari jumlah tersebut, transaksi produk lokal mencapai Rp16,6 triliun atau sekitar 45,6 persen dari total transaksi.
Capaian tersebut menunjukkan besarnya potensi pasar domestik bagi produk dalam negeri. Melalui momentum Harbolnas, pelaku ekonomi kreatif berpeluang memperkenalkan produknya kepada konsumen yang lebih luas sekaligus meningkatkan penjualan melalui kanal digital.
Sementara itu, Ketua Umum idEA Budi Primawan menyatakan, pihaknya melihat peluang kolaborasi dalam mempromosikan produk ekonomi kreatif melalui identifikasi pelaku usaha potensial yang dapat difasilitasi.
"Kami melihat peluang untuk berkolaborasi dalam promosi dengan mengidentifikasi pelaku usaha ekonomi kreatif yang potensial untuk difasilitasi. Pelaksanaannya tentu perlu menyesuaikan kebutuhan, karakter, dan keputusan masing-masing pelaku usaha. Pada prinsipnya, idEA ingin menghadirkan nilai tambah melalui kolaborasi yang tepat," kata Budi.
Sebagai informasi, Harbolnas pertama kali digelar pada 12 Desember 2012 dengan melibatkan enam perusahaan e-commerce yang tergabung dalam idEA. Seiring perkembangannya, kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk kementerian, untuk memperluas partisipasi pelaku usaha dan mendorong transaksi belanja daring.









