TVRINews, Labuan Bajo
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menegaskan partisipasi masyarakat lokal menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberlanjutan Festival Golo Koe 2026 di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.
Menurut Widiyanti, festival yang menggabungkan unsur budaya dan religi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata tidak selalu bergantung pada kemegahan atraksi.
Keterlibatan masyarakat dan kekuatan tradisi lokal justru menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman wisata yang berkualitas.
"Di sinilah saya melihat kekuatan Festival Golo Koe. Wisatawan hadir untuk experience Labuan Bajo secara lebih utuh, sementara masyarakat tetap menjadi pelaku utama yang menentukan bagaimana identitasnya diperkenalkan kepada dunia," kata Widiyanti dalam keterangan tertulis yang dikutip oleh tvrinews.com, Selasa, 11 Agustus 2026.
Festival Golo Koe 2026 mengusung tema "Maria Assumpta Nusantara" dengan memadukan prosesi religi, atraksi budaya, pameran UMKM, serta pertunjukan seni lokal.
Festival tersebut kembali masuk dalam Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN), sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu agenda pariwisata berbasis budaya dan religi di Indonesia.
Dampak ekonomi festival juga terlihat dari penyelenggaraan tahun sebelumnya. Pada 2025, Festival Golo Koe mencatat lebih dari 45 ribu kunjungan wisatawan. Kegiatan tersebut melibatkan 173 pelaku UMKM dan 883 pekerja seni serta menciptakan 1.473 kesempatan kerja.
Pada penyelenggaraan 2026, panitia menargetkan 50 ribu pengunjung dengan nilai perputaran ekonomi yang diharapkan melampaui capaian tahun sebelumnya. Peningkatan kunjungan juga diperkirakan berdampak terhadap tingkat hunian hotel dan homestay di Labuan Bajo.
"Inilah pariwisata berkualitas, ketika pengalaman wisatawan tumbuh bersama manfaat ekonomi dan keberlanjutan kehidupan lokal," ujar Widiyanti.
Widiyanti mengapresiasi Keuskupan Labuan Bajo, Keuskupan Ruteng, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, serta seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Festival Golo Koe.
Pada 2026, Festival Golo Koe kembali terpilih sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara untuk ketiga kalinya secara berturut-turut sejak 2024. Festival tersebut juga untuk kedua kalinya masuk dalam daftar Top 10 KEN.
Widiyanti berharap festival tersebut dapat turut mendukung target kunjungan pariwisata Indonesia pada 2026, yakni 16-17,6 juta wisatawan mancanegara dan 1,18 miliar perjalanan wisatawan nusantara.
"Kiranya Festival Golo Koe terus mengiringi perjalanan Labuan Bajo sebagai destinasi kelas dunia yang maju bersama masyarakat dan tetap teguh pada akar budayanya," ucap Widiyanti.
Uskup Labuan Bajo Maksimus Regus mengatakan Festival Golo Koe tidak hanya menjadi sarana promosi pariwisata, tetapi juga bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pariwisata Labuan Bajo.
"Kita ingin agar ruang pariwisata yang bertumbuh dengan cepat, juga memiliki dampak konstruktif bagi kita yang ada di masyarakat lokal," tutur Widiyanti.
Festival Golo Koe 2026 berlangsung selama enam hari, 10-15 Agustus 2026, dengan pusat kegiatan di Waterfront City Marina dan Bukit Golo Koe serta sejumlah lokasi lainnya di Labuan Bajo.
Sejumlah agenda disiapkan dalam festival tersebut, mulai dari pentas seni budaya Nusantara, pameran ekonomi kreatif dan kuliner lokal, edukasi ekologis, aksi penanaman pohon, pertunjukan tari Caci, karnaval budaya, Prosesi Akbar Maria Assumpta Nusantara, hingga ekaristi agung.
Prosesi Akbar Maria Assumpta Nusantara menjadi salah satu agenda utama festival. Patung Bunda Maria diarak menggunakan kapal pinisi melintasi perairan Labuan Bajo sebelum dibawa menuju Gua Maria di Golo Koe dari Pelabuhan Marina Waterfront.
Ribuan peserta mengikuti prosesi dengan mengenakan busana adat Manggarai, seperti kain songke, baju putih, selendang, dan berbagai atribut tradisional. Prosesi tersebut mempertemukan nilai religius dengan tradisi budaya dan identitas masyarakat lokal Manggarai.








