TVRINews, Labuan Bajo
Kunker ke Labuan Bajo, Menpar Widiyanti pastikan investasi pariwisata di Parapuar dan Golo Mori sejahterakan masyarakat lokal.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mendorong percepatan pengembangan kawasan Parapuar dan Golo Mori di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, untuk memperkuat daya saing pariwisata sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
Dorongan tersebut disampaikan Widiyanti saat melakukan kunjungan kerja ke sejumlah kawasan pariwisata di Labuan Bajo.
Peninjauan dilakukan untuk memetakan kebutuhan pengembangan sekaligus menetapkan prioritas, terutama penyelesaian infrastruktur dasar yang dapat mendukung investasi dan aktivitas pariwisata.
"Infrastruktur dasar terus disiapkan, bersamaan dengan masuknya minat investasi untuk fasilitas olahraga, wellness, kuliner, hingga glamping," kata Widiyanti dalam keterangan tertulis yang dikutip oleh tvrinews.com, Selasa, 11 Agustus 2026.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Parapuar, lahan otoritatif yang dikembangkan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF). Pengembangan kawasan tersebut masih membutuhkan penguatan infrastruktur jalan, air bersih, pengelolaan sampah, investasi, serta optimalisasi daya tarik wisata.
Saat ini, lahan Parapuar yang telah berstatus clear and clean mencapai 129,6 hektare. Terdapat pula penambahan enclave area seluas 3.361 meter persegi yang menjadi bagian dari koridor akses menuju kawasan Parapuar dari Jalan Trans-Flores.
Pengembangan Tourist Information Center (TIC) di Lot A1 Kawasan Parapuar juga terus berjalan. Progres pematangan lahan telah mencapai 92,3 persen dan ditargetkan selesai pada September 2026.
TIC nantinya dilengkapi warehouse yang berfungsi sebagai etalase produk ekonomi kreatif lokal. Fasilitas tersebut diharapkan dapat memperkuat pelayanan informasi wisata sekaligus membuka akses promosi dan pemasaran bagi produk unggulan masyarakat.
BPOLBF juga mengembangkan atraksi trekking di kawasan Parapuar untuk menambah pilihan aktivitas wisata bagi pengunjung.
Widiyanti meminta BPOLBF memperkuat perannya sebagai penghubung antara pemerintah daerah, masyarakat, pelaku usaha, dan investor. Menurutnya, pengembangan destinasi tidak cukup hanya dengan membangun kawasan wisata, tetapi juga harus memastikan pertumbuhan pariwisata memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Penguatan hubungan antara industri pariwisata dan ekonomi lokal menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan Labuan Bajo. Pertumbuhan hotel, restoran, dan industri pariwisata meningkatkan kebutuhan terhadap bahan pangan, tetapi pasokan dari pelaku usaha lokal belum selalu mampu memenuhi permintaan secara konsisten.
Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang bagi petani dan UMKM untuk masuk lebih jauh ke dalam rantai pasok industri pariwisata.
"Petani dan UMKM lokal harus kita tingkatkan kapasitasnya agar semakin terhubung dengan industri pariwisata," ujar Widiyanti.
Dalam kunjungan tersebut, Widiyanti juga menyerahkan sertifikat kepada peserta Floratama Academy 2026 bertema "Rantai Pasok Pangan". Program yang diinisiasi BPOLBF tersebut bertujuan memperkuat keterhubungan pelaku usaha lokal dengan kebutuhan industri pariwisata.
KomoJamur, D'Sawitra, dan Kopi Bubuk Nuca Lale terpilih sebagai tiga peserta terbaik dari 30 peserta yang mengikuti program tersebut.
Selain Parapuar, Widiyanti meninjau Golo Mori Convention Center yang dikembangkan sebagai salah satu pusat Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) di Labuan Bajo.
Kawasan tersebut memiliki lanskap perbukitan yang berbatasan langsung dengan laut dan menghadap gugusan pulau di kawasan Taman Nasional Komodo. Potensi itu dinilai dapat memperkuat posisi Labuan Bajo sebagai destinasi wisata sekaligus tujuan penyelenggaraan kegiatan MICE.
Berdasarkan data InJourney, Golo Mori mencatat 28.405 kunjungan wisatawan sepanjang 2025 dengan 31 kegiatan berskala internasional, nasional, dan lokal. Hingga Juli 2026, jumlah kunjungan tercatat sekitar 15.938 orang dengan tujuh kegiatan yang telah berlangsung.
Widiyanti menegaskan pengembangan Labuan Bajo harus dilakukan dengan menjaga keseimbangan antara investasi, pelestarian budaya dan lingkungan, serta peningkatan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
"Harapannya investasi meningkat, budayanya tetap hidup, alamnya terjaga, dan yang paling penting, masyarakat lokal semakin besar menikmati manfaat dari pariwisata," ucap Widiyanti.








