TVRINews, Jawa Tengah
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mendorong sekolah memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar untuk mendukung penerapan pembelajaran mendalam (deep learning). Melalui pemanfaatan lingkungan sekolah, murid diharapkan dapat memperoleh pengalaman belajar secara langsung, mulai dari mengenali jenis tanaman hingga memahami karakteristik dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan sekolah ialah memasang papan informasi pada pohon-pohon di lingkungan sekolah. Papan tersebut dapat berisi nama pohon, nama ilmiah, karakteristik, serta manfaatnya sehingga murid dapat belajar melalui pengamatan langsung.
Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar juga diharapkan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, mendorong murid untuk aktif bertanya, serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Abdul Mu’ti menjelaskan, pemanfaatan lingkungan sekolah merupakan bagian dari penerapan pembelajaran mendalam yang didukung oleh penciptaan lingkungan belajar yang kondusif. Menurutnya, lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam mendukung proses pendidikan melalui penerapan konsep hidden curriculum.
“Namanya deep learning itu antara lain terintegrasi dengan penciptaan lingkungan sekolah yang disebut dengan hidden curriculum,” kata Mu'ti dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa, 13 Oktober 2026.
Konsep hidden curriculum mencakup nilai, kebiasaan, dan pengalaman yang diperoleh murid melalui lingkungan serta aktivitas sehari-hari di sekolah. Dengan demikian, lingkungan sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter dan pengembangan rasa ingin tahu murid.
Dalam kunjungan tersebut, Abdul Mu’ti turut meninjau pelaksanaan program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026 di SMA Negeri 1 Patikraja. Pekerjaan revitalisasi di sekolah tersebut meliputi pembangunan dua ruang baru dan rehabilitasi tiga ruang.
Selain itu, area dak berpotensi dikembangkan menjadi ruang kelas pada masa mendatang dengan mempertimbangkan kebutuhan sekolah dan kelayakan teknis. Pengelolaan serta pemeliharaan fasilitas pendidikan juga menjadi perhatian agar sarana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan untuk mendukung pembelajaran.
Di Jawa Tengah, program Revitalisasi Satuan Pendidikan pada 2025 menjangkau 1.783 sekolah atau satuan pendidikan dengan total anggaran Rp1,475 triliun. Program tersebut juga menyerap 23.430 tenaga kerja.
Sementara itu, pada 2026, sebanyak 5.443 sekolah telah menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) dengan nilai mencapai Rp4,169 triliun. Hingga data yang tersedia, penyaluran dana telah dilakukan kepada 4.597 sekolah dengan total Rp2,434 triliun dan menyerap 62.609 tenaga kerja.
Khusus di Kabupaten Banyumas, program revitalisasi pada 2025 mencakup 30 sekolah atau satuan pendidikan dengan anggaran Rp29,786 miliar serta menyerap 499 tenaga kerja.
Pada 2026, sebanyak 176 sekolah di Kabupaten Banyumas telah menandatangani PKS senilai Rp114,875 miliar. Penyaluran dana telah dilakukan kepada 156 sekolah dengan total Rp69,387 miliar dan menyerap 1.996 tenaga kerja.
Selain membahas pemanfaatan lingkungan sekolah, Abdul Mu’ti juga memberikan pesan kepada murid mengenai persiapan menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA). Ia menyebut penguasaan materi, strategi mengerjakan soal, dan kesiapan mental sebagai tiga aspek penting yang harus dipersiapkan secara seimbang.
“Pertama, kuasai materi. Kedua, siapkan strategi. Ketiga, persiapkan mental. Ketiga itu adalah kuncinya,” jelasnya.
Ia menjelaskan, penguasaan materi perlu diimbangi dengan strategi pengerjaan soal yang tepat dan kondisi mental yang baik. Ketidakseimbangan ketiga aspek tersebut dapat memengaruhi kemampuan murid dalam menyelesaikan soal.
“Materi dikuasai tetapi jika strateginya salah, kalian tidak bisa menguasai materinya dengan baik. Tapi strateginya oke, mentalnya down, lihat soal sudah stres dulu, tidak ada hasilnya. Makanya kita membuat moto jujur dan gembira,” lanjutnya.
Abdul Mu’ti juga mengingatkan murid agar tidak merasa minder ketika menghadapi soal TKA dengan bacaan panjang. Ia menjelaskan bahwa penyusunan soal TKA mengacu pada standar PISA (Programme for International Student Assessment).
Menurutnya, murid perlu mempersiapkan penguasaan materi, strategi, dan mental secara bersamaan agar dapat mengerjakan soal dengan baik serta menunjukkan kemampuan akademik mereka secara optimal.
Lebih lanjut, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam menentukan masa depan murid sekaligus meningkatkan kemampuan mereka untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat dan bangsa.
“Jangan percaya kalau ada orang bilang tidak usah sekolah penting-penting, yang penting pintar. Tidak ada orang pintar tanpa sekolah. Sekolah itu intinya membuat kita sukses. Pendidikan juga bisa membuat kita melakukan lebih baik dan lebih banyak bagi orang lain dan bangsa,” tuturnya.










