TVRINews, Riau
Revitalisasi dan restorasi Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, akan dilakukan untuk mengatasi kerusakan bangunan sekaligus menyelamatkan warisan peradaban Buddha yang memiliki nilai sejarah dan arkeologis. Selain perbaikan fisik, pemerintah juga merencanakan ekskavasi untuk menelusuri kemungkinan adanya struktur candi lain di luar kawasan situs yang saat ini dikelola.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, meninjau kompleks Candi Muara Takus untuk melihat kondisi bangunan dan berdiskusi dengan para arkeolog mengenai langkah pelestarian yang diperlukan. Kompleks candi yang diperkirakan dibangun pada abad ke-8 hingga ke-11 Masehi tersebut merupakan salah satu cagar budaya nasional yang penting dalam kajian sejarah peradaban Buddha di Nusantara.
Berdasarkan hasil peninjauan, bangunan Candi Muara Takus yang tersusun dari bata merah dan batu paras mengalami degradasi akibat pelapukan, pertumbuhan lumut, kelembapan, serta penggaraman. Kondisi tersebut membuat material bangunan semakin rapuh sehingga memerlukan penanganan konservasi sesuai karakteristik bahan penyusunnya.

(Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, meninjau kompleks Candi Muara Takus, Minggu, 18 Oktober 2026. [Foto: TVRINews/HO-Kemenbud/Vidhy Fellizano Sfinoza])
“Kompleks ini pernah dipugar pada tahun 1978 hingga 1987. Sejak pemugaran tersebut hingga sekarang, belum ada pemugaran lagi. Karena itu, kompleks ini memang memerlukan revitalisasi dan restorasi. Bagian-bagian bangunan ini sudah berlumut dan mengalami pelapukan. Kondisi tersebut menyebabkan materialnya menjadi sangat mudah lapuk,” kata Menbud Fadli dalam keterangan tertulis, dikutip Senin, 19 Oktober 2026.
Fadli mengatakan, Kementerian Kebudayaan akan menyusun perencanaan pemugaran dengan mempertimbangkan kondisi bangunan dan lingkungan di sekitarnya. Upaya konservasi tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik, tetapi juga mencakup perlindungan material untuk memperlambat kerusakan.
Penanganan tersebut meliputi pengaturan tata air, pengendalian kelembapan, serta kajian stabilisasi kimiawi material untuk mengatasi dampak penggaraman. Langkah ini diperlukan agar proses pelapukan dapat dikendalikan dan kelestarian bangunan candi tetap terjaga.
Selain kerusakan material, terdapat indikasi keberadaan struktur percandian di luar pagar utama kompleks. Saat ini, kawasan yang terlihat dan dikelola terdiri atas empat candi. Namun, hasil penelitian arkeologis menunjukkan kemungkinan adanya struktur tambahan di area yang berjarak sekitar 100 meter dari luar pagar utama.

(Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, meninjau kompleks Candi Muara Takus, Minggu, 18 Oktober 2026. [Foto: TVRINews/HO-Kemenbud/Vidhy Fellizano Sfinoza])
Kompleks ini semestinya memiliki cakupan yang lebih besar daripada yang ditemukan sekarang, yakni terdiri atas empat candi. Mungkin terdapat candi-candi lain. Berdasarkan penelitian, pada jarak sekitar 100 meter di luar pagar juga ditemukan candi lain yang lokasinya sekarang menjadi kebun. Area ini nantinya akan kita coba ekskavasi sehingga mungkin dapat ditemukan struktur-struktur lainnya,”lanjutnya.
Sebagai tindak lanjut, tim akan menyiapkan ekskavasi untuk memastikan keberadaan struktur yang diduga masih terpendam. Penelitian tersebut juga bertujuan mengidentifikasi persebaran temuan arkeologis dan memetakan cakupan kompleks percandian secara lebih menyeluruh.
Hasil ekskavasi nantinya diharapkan menjadi dasar dalam menentukan batas kawasan, menyusun strategi pelindungan, serta merencanakan pengembangan situs. Dengan demikian, upaya pelestarian tidak hanya mencakup bangunan yang telah diketahui, tetapi juga potensi peninggalan arkeologis di sekitarnya.
Secara historis dan arkeologis, Candi Muara Takus memiliki peran penting dalam penelitian perkembangan kebudayaan Buddha di Nusantara, termasuk keterkaitannya dengan peradaban Sriwijaya dan jejaring budaya Buddhis di Asia.
Fadli juga mendorong kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta para ahli arkeologi dan konservasi dalam menangani situs tersebut. Pembahasan lanjutan akan mencakup pendalaman bukti sejarah, keterkaitan temuan Candi Wajra dengan tradisi Buddhis setempat, metode konservasi material bata di lingkungan lembap, serta strategi pelindungan kawasan dengan melibatkan masyarakat.
Melalui revitalisasi, konservasi, dan penelitian lanjutan, Candi Muara Takus diharapkan dapat terhindar dari kerusakan lebih lanjut sekaligus menjadi sumber pengetahuan untuk memahami perkembangan peradaban Buddha dan perjalanan kebudayaan Indonesia.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Daerah Provinsi Riau Syahrial Abdi, Anggota Komisi I DPR RI Syahrul Aidi Maazat, Bupati Kampar Ahmad Yuzar, Ketua Lembaga Adat Melayu Riau Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil, Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayudha, Direktur Warisan Budaya Agus Widiatmoko, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Riau Kristanto Januardi.










