TVRINews, Jakarta
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyebut kekayaan budaya Melayu sebagai bagian penting dari identitas nasional yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Selain menjadi kekuatan pemersatu bangsa, kebudayaan juga berpotensi menggerakkan ekonomi melalui pemanfaatan warisan budaya.
Hal tersebut disampaikan Fadli Zon dalam kegiatan Arak-arakan Keberagaman Riau 2026 yang diselenggarakan Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau di halaman Balai Adat LAM Riau, Pekanbaru, Provinsi Riau, dalam rangka perayaan Hari Kebudayaan 2026.
Dalam sambutannya, Fadli mengapresiasi LAM Riau dan seluruh pihak yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut. Menurutnya, arak-arakan keberagaman menjadi salah satu upaya untuk merayakan kekayaan budaya Indonesia, khususnya tradisi dan adat Melayu Riau, sekaligus mempererat persaudaraan di tengah masyarakat.
Ia menilai keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia merupakan kekayaan luar biasa atau cultural mega diversity yang menjadi ciri khas bangsa.

(Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. [Foto: TVRINews/HO-kemenbud/Vidhy Fellizano Sfinoza])
“Melalui Arak-Arakan Keberagaman ini, kita bisa menyaksikan keberagaman budaya di Riau yang telah disampaikan. Keberagaman ini adalah kekayaan kita. Saya menyebutnya sebagai mega diversity atau cultural mega diversity, yaitu kekayaan dan keberagaman yang luar biasa,” ujar Fadli dalam keterangan yang diterima tvrinews, Senin, 19 Oktober 2026.
Fadli juga menyoroti panjangnya perjalanan peradaban Indonesia yang tercermin dari berbagai peninggalan budaya. Salah satunya adalah temuan lukisan gua berusia sekitar 67.800 tahun yang menunjukkan kekayaan sejarah dan ekspresi budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurutnya, kebudayaan memiliki cakupan luas, mulai dari bahasa, tradisi lisan, manuskrip, ritus, adat istiadat, pengetahuan tradisional, olahraga tradisional, permainan rakyat, hingga seni.
Indonesia telah menetapkan sebanyak 3.277 warisan budaya takbenda dan memiliki 1.485 cagar budaya. Di tingkat internasional, Indonesia juga telah mencatatkan 16 warisan budaya takbenda di UNESCO.
Salah satu upaya memperluas pengakuan dunia terhadap kebudayaan Melayu adalah rencana pengusulan Tari Zapin ke UNESCO bersama negara-negara tetangga, yakni Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura.

(Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. [Foto: TVRINews/HO-kemenbud/Vidhy Fellizano Sfinoza])
“Pengusulan Tari Zapin ke UNESCO bersama negara-negara tetangga menjadi salah satu langkah untuk memperkuat pengakuan internasional terhadap kebudayaan Melayu,” jelasnya.
Selain pelestarian tradisi, Fadli mendorong pengembangan museum dan cagar budaya di Riau agar kekayaan sejarah daerah semakin dikenal masyarakat luas. Penguatan kedua sektor tersebut diharapkan dapat menjaga keberlanjutan warisan peradaban sekaligus meningkatkan daya tarik wisata bagi pengunjung domestik maupun mancanegara.
Ia menegaskan, kebudayaan tidak hanya berfungsi sebagai identitas bangsa, tetapi juga menjadi kekuatan yang menyatukan masyarakat di tengah keberagaman. Di sisi lain, kebudayaan dapat dikembangkan sebagai bagian dari ekonomi budaya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Fadli turut menjelaskan bahwa penetapan Hari Kebudayaan pada 17 Oktober merujuk pada peristiwa 17 Oktober 1951, ketika lahir ketentuan mengenai lambang negara Garuda Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Peringatan tersebut menjadi momentum untuk mengingat kembali bahwa keberagaman merupakan kekuatan yang menyatukan bangsa Indonesia.
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi, berharap Kementerian Kebudayaan dapat mendukung penelitian dan penulisan sejarah Melayu, inventarisasi manuskrip, serta pendokumentasian tradisi dan pengetahuan budaya di Riau.
Menurut Syahrial, dukungan tersebut diperlukan agar kekayaan budaya daerah dapat terpelihara dengan baik dan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Semoga dalam peringatan Hari Kebudayaan ini semakin memperkuat persaudaraan, menjaga kekayaan tradisi, dan memberikan manfaat nyata bagi pemajuan kebudayaan di Provinsi Riau,” ungkap Syahrial.
Fadli juga berharap perayaan Hari Kebudayaan dapat meningkatkan keterlibatan generasi muda dalam berbagai kegiatan kebudayaan, termasuk arak-arakan yang menampilkan tradisi dan ekspresi budaya daerah. Ia menilai partisipasi generasi muda menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya agar tetap hidup dan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Anggota DPD RI Abdul Hamid, Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau Datuk Seri H. Raja Marjohan Yusuf, Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayudha, Direktur Warisan Budaya Agus Widiatmoko, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Riau Kristanto Januardi.










