TVRINews, Jakarta
Pemerintah Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) membuka peluang kerja sama yang lebih luas dalam pengembangan infrastruktur berbasis kebudayaan dan kearifan lokal. Langkah tersebut dibahas dalam dialog strategis antara Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Chairman of China State Construction International Holdings Limited (CSCI), Gao Bo, di Kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta.
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari pembahasan sebelumnya antara Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas terkait penguatan kolaborasi pembangunan yang mengintegrasikan aspek budaya.
Dalam pertemuan tersebut, Fadli Zon menjelaskan bahwa hubungan bilateral Indonesia dan RRT selama ini telah berkembang melalui berbagai kerja sama, mulai dari pembangunan infrastruktur transportasi hingga penguatan ekosistem budaya.Menurutnya, dialog dengan CSCI menjadi bagian dari upaya kedua negara untuk mendorong pembangunan yang berkelanjutan dan berorientasi pada nilai-nilai kebudayaan.
Salah satu gagasan yang dibahas adalah pembangunan pusat pengobatan tradisional di Indonesia. Menurut Fadli, fasilitas tersebut tidak hanya berfungsi sebagai layanan kesehatan, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan dan melestarikan ekspresi budaya kepada masyarakat.
"Kami sangat menyambut baik gagasan pembangunan pusat pengobatan tradisional di Indonesia. Seperti yang kita tahu, salah satu bagian dari pengobatan tradisional yakni jamu atau Wellness Culture merupakan ekspresi budaya yang telah diinkripsi sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO,"kata Menbud Fadli dalam keterangan yang diterima tvrinews, Kamis, 18 Juni 2026.
Selain itu, Fadli menilai kerja sama di bidang konstruksi memiliki potensi besar untuk mendukung pelestarian warisan budaya Indonesia, termasuk melalui revitalisasi bangunan bersejarah dan penataan kawasan kota tua di berbagai daerah.
"Kerja sama pembangunan dan revitalisasi bangunan bersejarah dapat menjadi poin utama kerja sama bilateral ini. Di bidang kebudayaan, termasuk di antaranya penataan kota lama atau kota tua di berbagai daerah Indonesia sangat potensial. Gagasan ini bisa kita eksplorasi lebih lanjut dengan stakeholder, kementerian dan lembaga Indonesia lain,"imbuhnya.
Sementara itu, Chairman CSCI Gao Bo menegaskan bahwa kerja sama pembangunan tidak hanya berfokus pada aspek fisik infrastruktur, tetapi juga harus memperhatikan penguatan sumber daya manusia dan karakter budaya masyarakat setempat.
"Selain desain, konsep, dan perencanaan, sebuah pembangunan juga harus mengetahui karakteristik budaya lokal kawasan tersebut,"ungkap Gao Bo.
Kementerian Kebudayaan berharap dialog ini dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat kerja sama Indonesia-RRT dalam bidang kebudayaan, sekaligus mendorong pembangunan infrastruktur yang mendukung pelestarian warisan sejarah dan budaya secara berkelanjutan.
Pertemuan tersebut juga dihadiri perwakilan Bappenas, jajaran pimpinan CSCI, serta sejumlah pejabat Kementerian Kebudayaan yang membahas berbagai peluang kolaborasi strategis di masa mendatang.










