TVRINews, Kab. Bogor
Sebanyak 50 peserta dari empat pondok pesantren dan kelompok peternak di Kabupaten Bogor mendeklarasikan Gerakan Santri Garda Pangan usai mengikuti Pelatihan Budidaya Sapi Perah dan Sapi Potong yang berlangsung pada 19–25 Juli 2026. Gerakan ini menjadi langkah menyiapkan sumber daya manusia di sektor peternakan sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.
Peserta berasal dari Pondok Pesantren Miftahum Ulum, Miftahul Huda Al Barkah, Nurul Falah, Daruur Rosul, serta kelompok peternak di wilayah Bogor. Program merupakan inisiatif Yayasan Maju Bersama Kanawa melalui Santri Garda Pangan. Selama tujuh hari, peserta mengikuti pembekalan teori di Villa Kanawa, Puncak Dua, Sukamakmur, Kabupaten Bogor, kemudian menjalani praktik lapangan di Balai Peternakan dan Pengembangan Inseminasi Buatan Ternak Sapi Perah Bunikasih, Kabupaten Cianjur.
Pelatihan membekali peserta dengan materi budidaya sapi perah dan sapi potong, manajemen pakan, kesehatan ternak, reproduksi dan pembibitan, sanitasi kandang, pengelolaan usaha peternakan, praktik pemerahan sapi perah, serta manajemen pemeliharaan ternak.
Kepala UPTD Balai Pembibitan dan Pengembangan Inseminasi Buatan Ternak Sapi Perah (BPPIBT) Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Lukman Dwi A., menyambut positif pelatihan yang menyasar kalangan santri. Menurutnya, peserta diharapkan mampu menerapkan ilmu yang diperoleh sekaligus memanfaatkan fasilitas pembibitan milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk meningkatkan kompetensi di bidang peternakan.
"Kami memiliki regulasi, program pengembangan, dan fasilitas di UPTD pembibitan yang dapat dimanfaatkan para santri untuk belajar sekaligus mengaplikasikan ilmu peternakan," kata Lukman Dwi, Senin, 20 Juli 2026.
Ia menilai peluang usaha peternakan sapi perah masih terbuka lebar karena produksi susu nasional belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
"Produksi susu nasional masih sangat kurang. Saat ini Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan nasional. Untuk Jawa Barat sendiri, produksi sudah mampu memenuhi sekitar 60 persen kebutuhan daerah," lanjutnya.
Ketua Pembina Yayasan Maju Bersama Kanawa, Daniel Oktasela, mengatakan pembangunan ketahanan pangan harus dimulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia.
"Indonesia membutuhkan lebih banyak generasi muda yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis, karakter kepemimpinan, dan semangat membangun sektor peternakan. Melalui Santri Garda Pangan, kami ingin menghadirkan ekosistem pembelajaran yang mampu melahirkan pelaku-pelaku usaha peternakan baru dari lingkungan pesantren maupun masyarakat," kata Daniel.
Ia menambahkan model pelatihan berbasis kolaborasi diharapkan terus berkembang sehingga semakin banyak pesantren dan kelompok masyarakat yang memperoleh manfaat.
Salah seorang peserta, M. Nasrullah, santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Barkah asal Desa Sukawangi, berharap pelatihan menjadi bekal untuk membangun usaha peternakan setelah menyelesaikan pendidikan.
"Harapan kami setelah mengikuti pelatihan ini adalah mampu mengembangkan usaha peternakan sehingga ke depan menjadi lebih baik," kata Nasrullah.
Ia mengaku bercita-cita menjadi peternak.
"Insyaallah ke depan saya ingin beternak karena di sini kami belajar dengan sungguh-sungguh," lanjutnya.
Nasrullah mengatakan keluarganya pernah memelihara kambing, tetapi terkendala minimnya pengetahuan mengenai kesehatan ternak. Menurutnya, pelatihan memberikan banyak pengetahuan baru mengenai pemeliharaan dan kesehatan hewan.
"Banyak sekali ilmu yang didapat, mulai dari cara pemeliharaan hingga penanganan kesehatan hewan," ujarnya.
Pelatihan mendapat dukungan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Balai Peternakan dan Pengembangan Inseminasi Buatan Ternak Sapi Perah Bunikasih Cianjur, Pemerintah Kabupaten Bogor, Pertamina Patra Niaga, Trinusa Resources, dan Tuban Petro melalui kolaborasi dalam pengembangan sektor pangan dan peternakan.
Melalui deklarasi Santri Garda Pangan, peserta diharapkan menjadi penggerak lahirnya generasi muda yang memiliki kompetensi di bidang peternakan modern serta mampu mengembangkan usaha peternakan yang berdaya saing guna memperkuat ketahanan pangan nasional.










