TVRINews, Pangandaran
Kementerian Kehutanan mencatat kelahiran seekor anak banteng Jawa (Bos javanicus) berjenis kelamin jantan di Pusat Reintroduksi Banteng Jawa Pangandaran (Purbajapa), Cagar Alam Pananjung, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Selasa, 27 Oktober 2026 pukul 22.23 WIB.
Anak banteng tersebut lahir dari induk bernama Bindi dan pejantan Senta. Kelahiran ini menambah populasi banteng Jawa di Purbajapa menjadi tujuh ekor sekaligus menjadi kelahiran ketiga sejak program reintroduksi dimulai pada Desember 2024.
Plt. Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Mahfudz, menyampaikan kegembiraan dan apresiasi kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat beserta seluruh mitra yang terlibat dalam program konservasi tersebut.
"Kelahiran ini menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam menjaga dan melindungi satwa liar asli Jawa," ujar Mahfudz dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat, 30 Oktober 2026.
Menurutnya, keberhasilan perkembangbiakan banteng Jawa di Purbajapa menjadi perkembangan positif bagi upaya pelestarian satwa yang saat ini menghadapi ancaman kepunahan.
Berdasarkan catatan International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada 2024, status keterancaman banteng Jawa ditetapkan sebagai Critically Endangered atau sangat terancam punah. Populasi globalnya diperkirakan hanya tersisa sekitar 3.300 individu dewasa.
Ancaman terhadap keberadaan banteng Jawa antara lain perburuan liar untuk diambil daging, kulit, dan tanduknya, serta kerusakan habitat akibat perluasan kawasan pertanian dan perkebunan.
Di Pulau Jawa, populasi banteng saat ini tersebar di sejumlah kawasan konservasi, seperti Taman Nasional Alas Purwo, Baluran, Meru Betiri, dan Ujung Kulon. Populasi yang terfragmentasi juga meningkatkan risiko penurunan keragaman genetik.
Sebelumnya, Cagar Alam Pananjung Pangandaran merupakan habitat alami banteng Jawa. Pada 1979, kawasan tersebut tercatat masih dihuni sekitar 60 hingga 90 ekor banteng.
Namun, letusan Gunung Galunggung pada 1982–1983 berdampak terhadap habitat dan ketersediaan pakan banteng. Abu vulkanik yang menutupi padang savana menyebabkan populasi satwa tersebut mengalami penurunan drastis. Hingga 2023, keberadaan banteng Jawa di kawasan itu tidak lagi ditemukan.
Upaya mengembalikan populasi banteng Jawa di Pananjung dimulai pada 11 Desember 2024 melalui program reintroduksi yang ditandai dengan pelepasliaran empat ekor banteng oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.
Keempat banteng tersebut terdiri atas dua jantan dan dua betina, yakni Uchi dari Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor, Bindi dari TSI Prigen, serta Bejo dan Senta dari TSI Gianyar, Bali.
Program konservasi dilaksanakan melalui Purbajapa, kawasan ekosistem semi alami seluas sekitar lima hektare yang dirancang untuk mendukung proses adaptasi dan perkembangbiakan banteng Jawa.
Dalam pengelolaannya, sembilan petugas lapangan Kementerian Kehutanan melakukan pemantauan secara rutin, mulai dari pemberian pakan dan nutrisi tambahan, pemeriksaan kesehatan, pemantauan masa birahi, hingga pemeliharaan kandang dan padang gembala.
Keberhasilan perkembangbiakan mulai terlihat pada 2025. Pada 27 Juli 2025, induk Uchi melahirkan anak banteng bernama Eksploitasia. Selanjutnya, pada 7 Agustus 2025, induk Bindi melahirkan anak banteng bernama Haruni.
Kelahiran terbaru pada 27 Oktober 2026 melengkapi keberhasilan tersebut dan menambah jumlah populasi banteng Jawa di Purbajapa menjadi tujuh ekor.
Program ini merupakan hasil kolaborasi Kementerian Kehutanan melalui BBKSDA Jawa Barat dengan Taman Safari Indonesia, PT Star Energy Geothermal Darajat II Limited, Pemerintah Kabupaten Pangandaran, serta masyarakat setempat.
Ke depan, BBKSDA Jawa Barat tengah menyusun standar tata kelola reintroduksi yang mencakup aspek kesehatan, perilaku, pakan, dan habitat. Selain itu, pengembangan prototipe laporan digital juga dilakukan untuk memantau kondisi satwa secara real-time.
Melalui berbagai upaya tersebut, Kementerian Kehutanan berharap populasi banteng Jawa di Pananjung terus berkembang biak, mampu beradaptasi dengan habitat alaminya, dan pada akhirnya dapat hidup liar secara mandiri.










