TVRINews, Jakarta
Menteri Kebudayaan sekaligus Ketua Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Fadli Zon, meluncurkan buku berjudul Tumbuh di Dunia yang Terhubung: Panduan Keluarga untuk Era Digital dalam rangka memperingati Global Media and Information Literacy Week 2026.
Peluncuran buku tersebut berlangsung di Plaza Insan Berprestasi, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Senayan, Jakarta. Buku ini diharapkan dapat membantu keluarga dalam mendampingi anak menghadapi perkembangan teknologi digital sekaligus meningkatkan literasi media dan informasi.
Dalam sambutannya, Fadli Zon mengapresiasi kolaborasi UNESCO, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Yayasan AIRA dalam menghadirkan panduan bagi keluarga.
Menurutnya, pendampingan orang tua semakin penting di tengah berbagai tantangan ruang digital, mulai dari disinformasi, penyebaran hoaks, perundungan siber (cyberbullying), hingga ancaman terhadap privasi dan kebocoran data pribadi yang berpotensi memicu doxing.
“Literasi media dan informasi tidak boleh sekadar dimaknai sebagai kemampuan menggunakan perangkat digital. Lebih dari itu, literasi ini menuntut kemampuan berpikir kritis (critical thinking) untuk mengolah, menyaring, memeriksa kebenaran informasi, serta menggunakan informasi secara etis dan bertanggung jawab. Ini adalah bagian dari upaya kita membangun budaya baru di era digital,” ujar Menbud Fadli Zon dalam keterangan yang diterima tvrinews, Jumat, 30 Oktober 2026.
Fadli menjelaskan, penguatan literasi media dan informasi menjadi bagian penting dalam kerja sama Indonesia dengan UNESCO, khususnya di bidang pendidikan, komunikasi, informasi, dan kebudayaan. Melalui KNIU, agenda UNESCO diupayakan selaras dengan prioritas pembangunan nasional melalui kolaborasi lintas sektor.
Ia menilai pendidikan dan kebudayaan harus berjalan beriringan. Pendidikan memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan, sedangkan kebudayaan menjadi landasan nilai dan etika dalam memanfaatkan pengetahuan tersebut.
“Ruang digital adalah ruang budaya yang menjadi tempat nilai, identitas, dan ekspresi terus dibentuk serta diwariskan. Dengan modal budaya yang kuat seperti gotong royong, musyawarah, tenggang rasa, penghormatan terhadap keberagaman, orang tua, guru, dan antara masyarakat. Hal ini harus menjadi landasan etika digital agar kemajuan teknologi justru memperkuat karakter dan kemanusiaan kita,” tambahnya.
Lebih lanjut, Fadli menekankan pentingnya keterlibatan keluarga dalam membimbing anak menggunakan teknologi. Menurutnya, keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak untuk mempelajari nilai, etika, dan tanggung jawab.
Karena itu, orang tua perlu membangun komunikasi terbuka, hadir sebagai pendamping, serta memberikan pemahaman kepada anak mengenai manfaat dan risiko penggunaan teknologi digital. Hal tersebut juga sejalan dengan kebijakan pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.
Meski demikian, upaya menciptakan ruang digital yang aman tidak dapat hanya mengandalkan keluarga. Sekolah, pemerintah, dan komunitas juga memiliki tanggung jawab membangun ekosistem yang mendukung tumbuhnya generasi yang cakap digital, kritis, berkarakter, dan berbudaya.
Fadli berharap, kemajuan teknologi dapat berjalan seiring dengan kebijaksanaan dan nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya, literasi media dan informasi perlu menjadi bagian dari budaya masyarakat, antara lain melalui kebiasaan berpikir kritis sebelum mempercayai informasi, memeriksa kebenaran sebelum membagikannya, serta menghargai perbedaan dalam interaksi digital.
“Saya berharap Panduan Keluarga UNESCO "Tumbuh di Dunia yang Terhubung: Panduan Keluarga untuk Era Digital" ini tidak berhenti sebagai publikasi semata, melainkan dimanfaatkan secara luas oleh keluarga, pendidik, sekolah, dan komunitas di seluruh penjuru Indonesia. Buku ini juga diharapkan dapat memperkuat literasi media dan informasi guna mewujudkan manusia Indonesia yang berpengetahuan, berbudaya, dan berkeadaban menuju Indonesia Emas 2045,” tandasnya.
Peluncuran buku tersebut turut dihadiri Direktur Kantor UNESCO Jakarta Maki Katsuno-Hayashikawa, Program Specialist Sektor Komunikasi dan Informasi UNESCO Jakarta Virginia Antonelli, Associate Project Officer Sektor Komunikasi dan Informasi UNESCO Jakarta Yekthi Hesthi Murthi, serta Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Yudhistira Nugraha.
Melalui peluncuran panduan ini, Kementerian Kebudayaan bersama KNIU berharap kolaborasi lintas sektor semakin memperkuat upaya membangun ruang digital yang aman dan bertanggung jawab. Panduan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh orang tua, pendidik, sekolah, dan komunitas untuk membimbing anak menghadapi tantangan era digital.










