TVRINews, Jakarta
Menteri Transmigrasi (Mentrans), M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia saat ini bukanlah ketimpangan pendapatan, melainkan ketimpangan kesempatan yang dirasakan masyarakat di berbagai daerah.
Menurut Iftitah, setiap anak yang lahir di Indonesia memiliki status yang sama sebagai warga negara. Namun, belum tentu mereka lahir dengan akses dan peluang yang setara untuk berkembang.
"Ketimpangan terbesar yang kita hadapi hari ini bukanlah ketimpangan pendapatan. Ketimpangan terbesar bangsa ini adalah ketimpangan kesempatan," ujar Iftitah dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Senin, 22 Juni 2026.
Ia menekankan bahwa tugas negara bukan menjadikan seluruh warga memiliki kondisi yang sama, melainkan memastikan setiap anak bangsa memperoleh kesempatan yang sama untuk maju, terlepas dari tempat mereka dilahirkan.
Karena itu, pembangunan Indonesia ke depan harus dimulai dari pemerataan kesempatan. Menurutnya, distribusi kesempatan pada akhirnya merupakan distribusi talenta, pengetahuan, teknologi, serta akses terhadap kemajuan.
Lebih lanjut, Iftitah mengutip pesan Bung Hatta yang menyebut Indonesia tidak akan menjadi bangsa besar karena obor yang menyala di Jakarta, melainkan karena lilin-lilin yang menyala di desa-desa. Ia meyakini potensi tersebut sesungguhnya telah tersebar di seluruh pelosok Nusantara.
"Sesungguhnya lilin-lilin itu sudah ada di seluruh Indonesia. Tapi kita semua menunggu korek api yang jumlahnya terbatas di Jakarta," tuturnya.
Ia menilai, sudah saatnya seluruh elemen bangsa mengubah cara pandang pembangunan. Tugas pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat bukan membawa seluruh sumber daya dari Jakarta, tetapi membantu setiap daerah menyalakan potensi yang dimilikinya.
"Dengan demikian, tugas kita bukan membawa api dari Jakarta, tetapi membantu setiap daerah menyalakan apinya sendiri," ucapnya.
Sebagai implementasi gagasan tersebut, Kementerian Transmigrasi mendorong kolaborasi dengan perguruan tinggi melalui Program Transmigrasi Patriot. Program itu dirancang untuk menghadirkan talenta muda, dosen, peneliti, inovator, serta para pemecah masalah ke kawasan-kawasan yang tengah bertumbuh.
Kemudian Iftitah menegaskan, masa depan Indonesia tidak dapat dibangun hanya dari pusat kekuasaan maupun pusat ekonomi yang telah mapan. Indonesia membutuhkan semakin banyak pusat pertumbuhan baru yang tersebar di seluruh wilayah.
"Indonesia masa depan tidak akan dibangun hanya dari Jakarta. Indonesia masa depan akan dibangun dari ribuan pusat pertumbuhan baru yang tersebar di seluruh Nusantara," tegasnya.










