TVRINews, Jakarta
Pemerintah Indonesia dan Maroko menjajaki pembentukan Preferential Trade Agreement (PTA) sebagai langkah memperkuat hubungan perdagangan dan industri kedua negara. Kerja sama tersebut diharapkan dapat menekan hambatan tarif, memperluas akses pasar produk manufaktur Indonesia di kawasan Mediterania, sekaligus mengamankan pasokan bahan baku bagi industri strategis nasional.
Pembahasan tersebut mengemuka dalam pertemuan bilateral antara Wakil Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Faisol Riza, dan Wakil Menteri yang membidangi Perdagangan Luar Negeri Maroko, H.E. Omar Hejira, di Jakarta.
Selain membahas pembentukan PTA, kedua negara juga menjajaki penguatan kerja sama di bidang investasi, industri halal, dirgantara, farmasi, energi baru terbarukan (EBT), serta sektor manufaktur lainnya.
"Maroko memiliki posisi strategis sebagai gerbang menuju Afrika Utara dan kawasan Mediterania. Kami melihat peluang besar untuk memanfaatkan keunggulan tersebut untuk memperluas akses produk industri Indonesia ke pasar regional, sekaligus memperkuat kemitraan di sektor-sektor industri masa depan seperti dirgantara, industri halal, farmasi, dan energi baru terbarukan," kata Wakil Menteri Perindustrian RI, Faisol Riza dalam keterangan tertulis, dikutip, Selasa, 14 Juli 2026.
Hubungan diplomatik Indonesia dan Maroko yang telah terjalin sejak 1956 menjadi landasan penguatan kerja sama ekonomi kedua negara. Dalam beberapa tahun terakhir, nilai perdagangan bilateral terus menunjukkan tren positif, termasuk peningkatan perdagangan nonmigas pada 2025 yang melonjak hampir 33 persen hingga mencapai sekitar USD235 juta.
Indonesia melihat Maroko sebagai mitra strategis untuk memperluas penetrasi produk manufaktur ke kawasan Afrika Utara dan Mediterania. Produk ekspor unggulan Indonesia ke Maroko antara lain minyak nabati, karet dan turunannya, alas kaki, tekstil, mesin dan peralatan listrik, serta komoditas seperti kopi, teh, dan rempah-rempah.
Sementara itu, Indonesia mengimpor pupuk, aluminium, tekstil, dan berbagai bahan baku industri dari Maroko. Dalam pertemuan tersebut, kedua negara juga menindaklanjuti kerja sama industri halal melalui Mutual Recognition Agreement (MRA) Sertifikasi Halal yang telah ditandatangani antara Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Indonesia dan Moroccan Institute of Standardization (IMANOR) pada Mei 2026.
Kesepakatan itu diharapkan mempermudah produk halal Indonesia memasuki pasar Maroko tanpa harus melalui proses sertifikasi ulang, sekaligus membuka peluang investasi dan pengembangan industri halal di kedua negara.
Sebagai tindak lanjut, Kementerian Perindustrian mengundang Pemerintah Maroko untuk berpartisipasi dalam Halal Expo 2026 yang akan digelar pada September mendatang. Keikutsertaan tersebut diharapkan memperluas jejaring bisnis, mempertemukan pelaku usaha kedua negara, serta membuka peluang investasi dan perdagangan produk halal.
Di sektor industri strategis, Indonesia juga berupaya memperkuat rantai pasok melalui peningkatan impor komoditas seperti fosfat, bahan baku pupuk, aluminium, dan mineral lain dari Maroko. Sebaliknya, Indonesia siap meningkatkan ekspor produk manufaktur bernilai tambah, termasuk produk berbasis kelapa sawit, karet, tekstil, alas kaki, mesin, dan peralatan listrik.
Kedua negara juga menjajaki peluang kolaborasi di bidang industri dirgantara, termasuk pengembangan kegiatan maintenance, repair and overhaul (MRO) di Indonesia. Selain itu, kerja sama juga diarahkan pada pengembangan industri farmasi, kosmetik halal, energi baru terbarukan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penelitian bersama, promosi investasi, penyelenggaraan pameran industri, hingga business matching antarpelaku usaha.
Sebagai tindak lanjut hasil pertemuan, Kementerian Perindustrian akan berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan untuk mempersiapkan penyelenggaraan Indonesia–Maroko Business Forum pada awal 2027. Forum tersebut diharapkan menjadi sarana memperluas peluang investasi, memperkuat kemitraan bisnis, serta mempercepat realisasi berbagai kerja sama yang telah disepakati.
Melalui pertemuan bilateral ini, Indonesia dan Maroko menegaskan komitmen untuk mempererat kemitraan ekonomi dan industri. Dengan potensi yang saling melengkapi, kedua negara optimistis kerja sama tersebut mampu memperluas akses pasar, memperkuat rantai pasok industri, serta menciptakan nilai tambah bagi pertumbuhan industri nasional.










