TVRINews, Jakarta
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tentang Penguatan Ekosistem Pemajuan Kebudayaan di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta.
Nota kesepahaman ditandatangani Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Kepala Badan Pelaksana BPI Danantara Rosan Perkasa Roeslani. Kerja sama ini menjadi landasan sinergi kedua lembaga dalam mendukung pemajuan kebudayaan sekaligus memperkuat pengelolaan aset dan potensi yang berada di bawah BPI Danantara beserta afiliasinya.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, kerja sama tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat ekosistem kebudayaan nasional sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
"Jadi kita berharap dukungan dari semua sektor pemajuan kebudayaan. Dalam waktu dekat ini kita harap akan mendirikan paling tidak tiga museum melalui pemanfaatan aset-aset yang dimiliki Danantara, yaitu Museum Perfilman Indonesia di Jakarta, Museum Musik Indonesia di Bandung, dan Museum Fotografi Indonesia di Semarang,"ujar Menbud Fadli dalam keterangan yang diterima tvrinews, Selasa, 14 Juli 2026.
Fadli menegaskan, kolaborasi kedua institusi sebenarnya telah berjalan sebelum penandatanganan MoU. Danantara sebelumnya telah memberikan dukungan terhadap revitalisasi Museum Nasional pascakebakaran, pembangunan perpustakaan Museum Nasional, hingga partisipasi Indonesia pada Venice Biennale setelah sempat vakum selama tujuh tahun.
Menurutnya, Indonesia saat ini memiliki sekitar 516 museum. Namun, jumlah museum yang telah memenuhi standar internasional masih terbatas sehingga peningkatan kualitas museum daerah menjadi salah satu prioritas untuk mendukung pelestarian budaya sekaligus sektor pariwisata.
"Selain itu Kementerian Kebudayaan terus mempercepat penetapan cagar budaya nasional dan registrasi Warisan Budaya Takbenda sebagai bagian dari upaya pelindungan sekaligus pengembangan ekonomi budaya. Saat ini Indonesia telah memiliki 2.727 Warisan Budaya Takbenda. Sekitar 20 persen di antaranya merupakan kuliner dan pangan lokal yang memiliki potensi besar sebagai sumber ekonomi budaya," jelasnya.
Fadli optimistis sinergi dengan Danantara akan memperkuat promosi budaya Indonesia di tingkat global.
"Saya yakin hari ini merupakan langkah yang sangat strategis, apalagi CEO Danantara juga menjabat sebagai Ketua Danantara Trust. Kita harus mempromosikan budaya Indonesia sesuai amanat konstitusi agar benar-benar hadir di tengah peradaban dunia,"tegasnya.
Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani menilai kebudayaan merupakan aset strategis bangsa yang harus dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan melalui kolaborasi lintas sektor.
"Nota kesepahaman yang ditandatangani bersama Kementerian Kebudayaan hari ini tidak akan berhenti sebagai dokumen administratif semata, melainkan akan diwujudkan dalam berbagai program nyata melalui kolaborasi kedua lembaga," tandasnya.
MoU tersebut berlaku selama lima tahun sejak ditandatangani. Ruang lingkup kerja sama meliputi sinkronisasi program kedua lembaga, pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan kebudayaan yang berdampak sosial dan ekonomi, pengembangan kemitraan nasional maupun internasional, pembinaan sumber daya manusia, digitalisasi kebudayaan, serta penyediaan dan pertukaran data sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.










