TVRINews – Jakarta
Strategi Diplomasi Global Perkuat Ekonomi Domestik Lewat Kerja Sama Bilateral.
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 di New Delhi, India beberapa waktu lalu, membawa dimensi strategis yang lebih luas bagi perekonomian nasional.
Langkah diplomasi luar negeri ini difokuskan sebagai instrumen nyata untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi domestik melalui penguatan kemitraan bilateral dengan negara-negara anggota.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, menjelaskan bahwa partisipasi aktif Indonesia dalam forum internasional tersebut bukan sekadar agenda diplomatik seremonial.
Pemerintah secara terarah mengoptimalkan jaringan ekonomi BRICS yang mencakup kekuatan ekonomi besar seperti Rusia, India, Tiongkok, hingga Brasil untuk membuka akses pasar baru, mendorong investasi strategis, serta memperluas lapangan kerja di dalam negeri.
"Pemerintah memanfaatkan forum tersebut untuk memperluas kerja sama agar dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari pembukaan lapangan kerja hingga peningkatan kesejahteraan," ujar Qodari dikutip Selasa 15 september 2026.
Memperkuat Kerja Sama Bilateral dan Diversifikasi Ekonomi
Dalam kerangka hubungan bilateral, pelibatan aktif Indonesia dengan negara-negara anggota BRICS, termasuk Rusia, membuka peluang besar dalam sektor-sektor krusial seperti ketahanan pangan, energi, dan industri manufaktur.
Diversifikasi mitra dagang ini dinilai sebagai langkah taktis untuk melindungi stabilitas ekonomi nasional dari hantaman krisis global dan menguatnya tren proteksionisme perdagangan dunia.
Melalui pendekatan yang berimbang, Indonesia menegaskan posisi tawar yang kuat sebagai mitra sejajar. Hal ini sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif, di mana kerja sama internasional dijalin atas dasar saling menguntungkan tanpa ketergantungan pada blok kekuatan tertentu.
"Diversifikasi mitra ekonomi tersebut menjadi strategi utama untuk memperkuat ketahanan nasional di tengah meningkatnya kompleksitas situasi global," tambahnya.
Diplomasi untuk Kesejahteraan Rakyat
Pemerintah memastikan bahwa setiap inisiatif kerja sama luar negeri yang dijajaki Presiden Prabowo memiliki relevansi langsung dengan kebutuhan domestik. Urusan dalam negeri dan diplomasi internasional diposisikan sebagai dua elemen yang saling menopang demi tercapainya kemandirian bangsa.
Sebagai tolok ukur keberhasilan, Bakom RI menegaskan bahwa orientasi utama dari setiap lawatan kenegaraan adalah hasil nyata yang dapat dinikmati oleh publik secara luas.
"Ukuran keberhasilan diplomasi bukanlah seberapa banyak pertemuan yang terlaksana, melainkan seberapa besar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat," tutup Qodari.










