TVRINews – Jakarta
Langkah strategis pemerataan kualitas belajar nasional resmi dimulai lewat operasionalisasi 17 titik sekolah terintegrasi bagi ribuan pelajar daerah.
Pemerintah memperluas jangkauan layanan pendidikan berkualitas tinggi langsung ke wilayah-wilayah daerah, memastikan setiap anak memiliki kesempatan belajar setara tanpa harus meninggalkan kampung halaman mereka.
Melalui siaran pers bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI di Jakarta, program strategis ini resmi berjalan di 17 titik wilayah Indonesia sejak 10 Agustus 2026.
Sebanyak 1.360 murid angkatan pertama yang terbagi rata menjadi 680 siswa tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 680 siswa tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) telah memulai aktivitas belajar mengajar harian mereka.
Kehadiran fisik para pelajar di ruang kelas bersama para tenaga pengajar menandai transisi nyata dari sekadar konsep perencanaan menuju implementasi operasional di lapangan, sementara pembangunan infrastruktur permanen terus dikebut secara paralel.
Juru Bicara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa inisiatif ini dirancang untuk memangkas kesenjangan akses belajar antardaerah yang selama ini berpusat di perkotaan besar.
Menurutnya, potensi besar anak bangsa tersebar merata di seluruh penjuru negeri dan negara memiliki kewajiban moral untuk mendekatkan fasilitas pendidikan bermutu tersebut.

(Juru Bicara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Gogot Suharwoto. [Foto: Bakom RI])
"Anak-anak dengan potensi luar biasa lahir di seluruh penjuru Indonesia. Mereka tidak seharusnya kehilangan kesempatan hanya karena jauh dari pusat-pusat pendidikan. Melalui SNT, negara ingin menghadirkan layanan pendidikan bermutu lebih dekat dengan tempat mereka tumbuh," ujar Gogot, dikutip Selasa, 15 September 2026.
Model operasional ini telah dirasakan langsung di berbagai daerah, salah satunya di SNT 6 Bone Bolango, Gorontalo. Di sana, fasilitas pendidikan tersebut menampung 80 murid jenjang SMP dan SMA, lengkap dengan dukungan tenaga pendamping serta armada bus antar-jemput khusus untuk memfasilitasi mobilitas harian siswa dari titik kumpul terdekat.
Ekosistem Pemerataan dan Seleksi Ketat
Lebih dari sekadar institusi akademis konvensional, Sekolah Nasional Terintegrasi diproyeksikan sebagai pusat ekosistem peningkatan mutu pendidikan regional. Keberadaannya diharapkan mampu memicu peningkatan kompetensi guru, mendorong inovasi metode pembelajaran, mengoptimalkan pemanfaatan teknologi, serta memperkuat kolaborasi aktif dengan satuan pendidikan lain di sekitarnya.
Mengusung pendekatan nonasrama, program ini memberikan keunggulan bagi para pelajar untuk tetap tinggal bersama keluarga dan mempertahankan kedekatan sosial di lingkungan asalnya.
Seleksi penerimaan murid baru (SPMB) sendiri telah melalui tahapan ketat, mulai dari seleksi administratif hingga Tes Skolastik, dengan memprioritaskan anak-anak berdomisili lokal serta membuka ruang bagi talenta berprestasi dari wilayah penyangga.
Pada fase perdana penyelenggaraannya, program ini mencakup 17 wilayah strategis meliputi Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Gowa, Kabupaten Bone Bolango, Kota Tidore Kepulauan, Ibu Kota Nusantara, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Jepara, Kota Subulussalam, Kota Tarakan, Kabupaten Donggala, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Kupang, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Tebo, hingga Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Pemerintah berkomitmen untuk terus mengevaluasi dan memperluas kapasitas layanan ini secara bertahap demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Melalui pemerataan fasilitas ini, batasan geografis bukan lagi halangan bagi generasi muda daerah untuk meraih standar akademik tertinggi.










