TVRINews, Medan
Pembelajaran berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) di UPT SMP Negeri 1 Medan dikembangkan dengan mengajak murid mengamati persoalan di lingkungan sekitar dan mengubahnya menjadi gagasan serta karya inovatif.
Pendekatan tersebut mengantarkan karya ilmiah murid UPT SMP Negeri 1 Medan meraih Gold Medal pada Malaysia Technology Expo (MTE) 2026 melalui proyek Durabata, yakni inovasi batako berbahan kulit durian dan abu sekam padi.
Selain itu, murid sekolah tersebut juga memperoleh sertifikat penghargaan dalam 10th World Young Inventors Exhibition 2026 melalui proyek yang memanfaatkan potensi buah pedada dari pohon mangrove. Kedua ajang tersebut berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia.
Salah satu anggota Tim Karya Ilmiah Remaja UPT SMP Negeri 1 Medan, Aira Haryono, mengatakan inovasi Durabata berangkat dari persoalan limbah kulit durian yang banyak ditemukan di Indonesia.
“Kami membuat proyek yang diberi nama Durabata merupakan batako berbasis kulit durian yang kami buat dari limbah kulit durian dan abu sekam padi. Tujuan kami membuat produk ini adalah untuk mengurangi limbah kulit durian yang bertebaran terutama di Indonesia,” ujar Aira dalam keterangan tertulis, Selasa, 15 September 2026.
Menurut Aira, timnya melihat kulit durian yang selama ini lebih banyak dibuang sebagai sampah dan kemudian mencari cara untuk mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai guna.
“Dengan Durabata ini, kami menciptakan batako yang ramah lingkungan serta menangani banyak masalah, terutama di Indonesia. Karena di Indonesia, masyarakat kita sangat gemar makan durian dan kulit duriannya itu hanya jadi sampah dan tidak diinovasikan ke mana-mana,” jelasnya.
Kulit durian selanjutnya diolah menjadi salah satu bahan pembuatan batako yang memiliki fungsi seperti batako pada umumnya.
Aira menilai proses pengembangan Durabata memberikan pengalaman langsung kepada murid dalam menerapkan konsep STEM. Murid tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mengidentifikasi masalah, melakukan eksperimen, mencari solusi, hingga menghasilkan produk.
“STEM itu diperlukan karena kita ini perlu terus membuat inovasi-inovasi untuk menyelesaikan masalah yang ada di sekitar kita sehari-hari,” ucapnya.
Manfaatkan Buah Pedada dari Mangrove
Semangat serupa diterapkan Tim Milea yang mengembangkan inovasi berbahan dasar buah pedada yang dihasilkan pohon mangrove. Nama Milea merupakan singkatan yang berkaitan dengan Mangrove dan Milk Tea.
Salah satu anggota Tim Milea, Raisya Aurellia, menjelaskan gagasan tersebut muncul setelah tim melihat buah pedada yang belum dimanfaatkan secara optimal, khususnya di kawasan pesisir.
“Dikarenakan buah pedada yang dihasilkan pohon mangrove ini kan kurang dimanfaatkan. Jadi kami membuat inovasi ini agar lebih berguna dan bisa diperjualbelikan,” ungkap Raisya.
Dalam proses pembuatannya, buah pedada diperoleh dari para pedagang, kemudian dikupas, dicuci, dipotong, dan direbus. Setelah itu, buah disaring untuk mengambil ekstraknya.
Ekstrak tersebut kemudian diolah dengan menambahkan susu kedelai sebagai sumber lemak, daun pandan sebagai pewarna alami, serta stevia sebagai pemanis hingga menghasilkan minuman dengan cita rasa menyerupai teh susu.
“Cara bikinnya itu gampang. Jadi pertama kita kupas kulit buah pedada yang kami dapat dari para pedagang. Setelah itu dicuci lalu dipotong-potong kemudian direbus. Setelah direbus disaring untuk diambil ekstraknya. Ekstrak tersebut selanjutnya diolah dengan menambahkan susu kedelai sebagai sumber lemak, daun pandan sebagai pewarna alami, serta stevia sebagai pemanis, yang menghasilkan minuman dengan rasa seperti teh susu,” jelas Raisya.
Raisya menilai inovasi tersebut masih dapat dikembangkan agar lebih praktis sekaligus memiliki peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir.
“Mungkin kita buat jadi bubuk supaya lebih praktis, setelah itu nanti bisa juga sebagai produk UMKM masyarakat pesisir pantai juga,” tambahnya.
Sekolah Beri Ruang Eksperimen
Pengembangan karya ilmiah murid juga mendapat dukungan dari pihak sekolah. Guru mata pelajaran IPS sekaligus pendamping kegiatan penelitian ilmiah remaja UPT SMP Negeri 1 Medan, Malahayati, mengatakan sekolah memberikan waktu dan ruang bagi murid untuk melakukan penelitian dan mengembangkan karya.
“Dukungan sekolah untuk karya ilmiah ini, sekolah memberikan waktu untuk anak-anak melakukan kegiatan aktivitas di sekolah dengan memberikan ruang. Kemudian, sekolah juga bekerja sama dengan orang tua,” kata Mala.
Mala berharap pembelajaran STEM dapat semakin terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Menurutnya, STEM dapat membantu murid mengembangkan kemampuan berpikir kritis sekaligus menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapannya, ke depannya tentu saja diharapkan STEM ini merupakan bagian dari sekolah. Karena ini kan berkaitan dengan berpikir kritis dan STEM ini bisa diaplikasikan dalam kehidupan mereka. Jadi, diharapkan STEM dapat dikembangkan lebih maksimal lagi di sekolah,” tegasnya.
Sementara itu, Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengapresiasi kreativitas dan keberanian murid UPT SMP Negeri 1 Medan dalam menghasilkan karya berbasis STEM yang berangkat dari persoalan nyata di lingkungan sekitar.
“Prestasi murid UPT SMP Negeri 1 Medan menunjukkan bahwa pembelajaran yang dekat dengan kehidupan dapat mendorong lahirnya kreativitas dan inovasi. Melalui STEM, murid belajar melihat persoalan di sekitarnya, melakukan penelitian, mencoba berbagai solusi, dan menghasilkan karya yang bermanfaat. Inilah semangat pembelajaran yang ingin kita tumbuhkan, agar murid menjadi pembelajar yang kritis, kreatif, dan mampu memberikan solusi bagi lingkungan dan masyarakat,” ujar Mendikdasmen Abdul Mu’ti.










