TVRINews, Muaro Jambi
Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan Museum Sriwijaya Dharmakirti di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muaro Jambi. Peresmian museum tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat pelestarian warisan budaya sekaligus mengembangkan Muaro Jambi sebagai pusat edukasi, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat.
Dalam sambutannya, Fadli Zon mengatakan Muaro Jambi merupakan salah satu lanskap peradaban terpenting di Nusantara. Pada masa lampau, kawasan ini berkembang sebagai pusat kebudayaan, keagamaan, dan pertukaran ilmu pengetahuan yang menghubungkan Sumatra dengan India, Tiongkok, Tibet, serta berbagai wilayah Asia Tenggara.
Menurutnya, pembangunan Museum Sriwijaya Dharmakirti dan revitalisasi KCBN Muaro Jambi merupakan langkah untuk menjaga sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah yang dimiliki kawasan tersebut.
Fadli menjelaskan, setelah diresmikan museum dan kawasan cagar budaya itu diharapkan menjalankan tiga fungsi utama, yakni sebagai pusat edukasi dan penelitian bertaraf global, ruang kebudayaan yang inklusif, serta penggerak kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan sektor budaya dan pariwisata.

(Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. (Foto: TVRINews/HO-Kemenbud RI))
“Museum Sriwijaya Dharmakirti dan Candi Muaro Jambi tentunya dapat menjadi wadah bagi generasi muda, peneliti nasional, maupun internasional untuk mempelajari sejarah maritim, tata kota berbasis air, dan peradaban pengetahuan Nusantara. Selain itu, keduanya juga menjadi ruang bagi masyarakat lokal untuk terus merayakan tradisi, seni, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur,” kata Menteri Kebudayaan Fadli dalam keterangan yang diterima tvrinews, Minggu, 2 Agustus 2026.
Fadli menambahkan, revitalisasi KCBN Muaro Jambi juga merupakan bagian dari amanat Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga sejarah dan akar budaya bangsa.
“Sejarah merupakan akar budaya dan jati diri identitas kita. Karena itu, Presiden Prabowo Subianto sangat mendorong revitalisasi situs-situs budaya, keraton, istana, dan juga berbagai peninggalan-peninggalan warisan budaya dari nenek moyang dan leluhur. Kita mewarisi pengetahuan, nilai-nilai, termasuk warisan budaya yang sifatnya kebendaan, maupun warisan budaya tak benda,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, Menteri Kebudayaan bersama Gubernur Jambi Al Haris juga menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi dengan Kepolisian Daerah Jambi.
Kerja sama itu bertujuan memperkuat pengawasan dan pengamanan kawasan KCBN Muaro Jambi dari berbagai ancaman terhadap pelestarian cagar budaya.
Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, menjelaskan revitalisasi kawasan meliputi pembebasan lahan, pemugaran dan penataan lingkungan, peningkatan infrastruktur pengunjung dengan konsep urban landscape, hingga digitalisasi museum melalui penyediaan film animasi.
“Kegiatan revitalisasi KCBN Muarajambi meliputi pembebasan lahan, pemugaran dan penataan lingkungan, peningkatan kualitas infrastruktur pengunjung dengan konsep urban landscape, serta melakukan digitasi dan pembuatan film animasi Museum Sriwijaya Dharmakirti,” ungkap Dirjen Restu.
Sementara itu, Gubernur Jambi Al Haris menyambut baik kehadiran Museum Sriwijaya Dharmakirti sebagai sarana pelestarian sejarah sekaligus media pembelajaran bagi masyarakat.
“Adanya Museum Sriwijaya Dharmakirti memperlihatkan miniatur sejarah lampau dari peradaban Buddha. Artinya, museum ini tidak hanya menjadi sesuatu yang ditonton oleh banyak orang, tapi juga akan menjadi kenangan dan ruang edukasi,” ujar Gubernur Al Haris.
Usai peresmian, Menteri Kebudayaan bersama rombongan meninjau berbagai fasilitas museum, mulai dari ruang immersive, ruang koleksi, ruang sinema, perpustakaan, hingga area suvenir.
Menutup rangkaian kegiatan, Fadli Zon mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama mengembangkan ekosistem KCBN Muaro Jambi agar menjadi pusat pelestarian budaya yang memberi manfaat bagi masyarakat.
“Mari kita jadikan juga Museum Sriwijaya Dharmakirti ini sebagai jembatan antara ingatan masa lalu dan juga rancangan masa depan, antara pengetahuan lokal dan percakapan global, serta wujud pelindungan warisan budaya dan pemanfaatan untuk kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.









