TVRINews, Papua Barat
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana meninjau penguatan tata kelola destinasi pariwisata kelas dunia sekaligus memastikan kesiapan revalidasi status UNESCO Global Geopark Raja Ampat.
Raja Ampat dijadwalkan menjalani proses revalidasi oleh tim asesor UNESCO pada Agustus 2026. Proses tersebut merupakan penilaian menyeluruh untuk menentukan keberlanjutan status UNESCO Global Geopark yang saat ini disandang kawasan tersebut.
Saat meninjau Geosite Piaynemo, Widiyanti menegaskan bahwa status UNESCO Global Geopark bukan sekadar pengakuan internasional, melainkan wujud komitmen jangka panjang dalam menjaga keberlanjutan kawasan.
“Status geopark dunia harus dijaga melalui tata kelola yang kuat, konservasi yang nyata, dan pelibatan masyarakat lokal,” ujar Widiyanti dalam keterangan tertulis yang dikutip tvrinews.com, Kamis, 14 Mei 2026.
Ia menekankan pentingnya sinergi antara perlindungan lingkungan, penguatan tata kelola destinasi, serta pemberdayaan masyarakat lokal agar manfaat sektor pariwisata dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Dalam kunjungan tersebut, Menpar juga meninjau Desa Wisata Arborek yang sebelumnya meraih penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.

(Foto: Menpar Widiyanti Putri Wardhana Ber-Swafoto dengan Warga di Desa Wisata Arborek. (dok. Kementerian pariwisata))
Menurut Widiyanti, Desa Arborek menjadi contoh nyata pengembangan ekowisata yang mampu mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan pelestarian budaya serta ekosistem laut.
“Desa Arborek adalah bukti nyata bahwa ekowisata bukan hanya konsep di atas kertas. Di sini kita melihat bagaimana masyarakat mampu berdaya secara ekonomi tanpa mengabaikan warisan leluhur dan kelestarian laut. Keberhasilan Arborek harus menjadi inspirasi bagi desa-desa wisata lain di Indonesia,” kata Widiyanti.
Menutup rangkaian kunjungannya di Pulau Kri, Distrik Meos Mansar, Menpar meninjau program konservasi hiu di Sorido Bay Resort.
Dalam kesempatan tersebut, ia memberikan nama “Putri” kepada salah satu telur hiu zebra yang tengah berada dalam masa inkubasi dan akan segera menetas.
Pemberian nama itu menjadi simbol harapan akan terus tumbuhnya kehidupan laut yang lestari di perairan Raja Ampat, sekaligus memperkuat pesan pentingnya konservasi ekosistem laut bagi generasi mendatang.
Widiyanti juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memiliki rasa tanggung jawab dan kepemilikan bersama dalam menjaga keberlanjutan Raja Ampat sebagai destinasi unggulan dunia.
“Tugas kita bersama untuk Raja Ampat adalah memastikan keindahan ini tetap hidup, lestari, dan memberi manfaat bagi generasi hari ini maupun masa depan,” tutur Widiyanti.










