TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mengajak seluruh pelaku industri perjalanan wisata memperkuat kolaborasi dengan pemerintah untuk mendorong pariwisata Indonesia yang berkualitas, aman, dan berdaya saing di tengah tantangan global.
Berkesempatan secara resmi membuka Rapat Kerja Nasional Alliance of the Indonesian Tour & Travel Agencies (AITTA) Tahun 2026, Ni Luh menyampaikan harapan agar dapat menghasilkan rekomendasi konkret yang dapat diimplementasikan bersama demi kemajuan sektor pariwisata nasional.
“Saya mengucapkan selamat kepada AITTA dan seluruh anggota yang hari ini menyelenggarakan Rakernas. Kami dari Kementerian Pariwisata sangat berharap akan lahir rekomendasi-rekomendasi yang konkret dan dapat dieksekusi bersama demi kemajuan sektor pariwisata Indonesia,” ujar Ni Luh dalam keterangan tertulis yang dikutip oleh tvrinews.com, Kamis, 14 Mei 2026.
Ia menjelaskan sektor pariwisata global, termasuk Indonesia, saat ini menghadapi tantangan besar akibat dinamika geopolitik dan geoekonomi dunia. Meski demikian, kinerja pariwisata Indonesia pada kuartal I tahun 2026 tetap menunjukkan tren positif.
Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara tercatat mencapai 3,4 juta kunjungan atau tumbuh 8 persen. Sementara itu, pergerakan wisatawan nusantara mencapai 319,51 juta perjalanan atau meningkat 13,14 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil sinergi antara pemerintah dan seluruh pelaku industri pariwisata.
“Tahun 2025 lalu kita juga berhasil melampaui target yang ditetapkan dalam RPJMN. Saya yakin seluruh capaian ini dapat diraih berkat kerja sama yang kuat dengan para pelaku industri pariwisata,” kata Ni Luh.
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) juga telah menetapkan lima program unggulan tahun 2026, yakni Sinergi Peningkatan Keselamatan Wisata, Desa Wisata, Pariwisata Berkualitas, Event by Indonesia, serta Tourism 5.0.
Program-program tersebut dirancang untuk mendukung pembangunan pariwisata yang berkualitas, berkelanjutan, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan tren global.
Ni Luh menegaskan aspek keselamatan dan kenyamanan wisatawan menjadi faktor penting dalam penguatan kualitas destinasi wisata. Karena itu, kepatuhan pelaku usaha terhadap regulasi dan perizinan harus menjadi perhatian bersama.
“Kami berharap teman-teman di AITTA dapat bersama-sama mendorong seluruh anggota dan pelaku usaha pariwisata untuk patuh terhadap regulasi, melengkapi perizinan, dan menjaga standar usaha pariwisata,” ucap Ni Luh.
Dalam pengembangan desa wisata, Kementerian Pariwisata pada tahun ini juga akan meluncurkan peta jalan pengembangan desa wisata nasional sebagai arah strategis bagi desa-desa wisata agar semakin tangguh dan kompetitif di tingkat global.
Program ini sekaligus diharapkan mendukung Asta Cita Presiden, khususnya dalam membangun dari desa untuk pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.
“Kami juga berharap biro perjalanan dapat menjadikan desa wisata sebagai salah satu pilihan destinasi yang ditawarkan kepada wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” tutur Ni Luh.
Menutup sambutannya, Ni Luh menegaskan pemerintah akan terus menjalankan berbagai program strategis untuk mendorong pariwisata Indonesia naik kelas sebagai destinasi unggulan dunia.
Ia juga menekankan pentingnya masukan dan kolaborasi dari pelaku industri agar seluruh kebijakan yang dijalankan dapat memberikan dampak nyata bagi kemajuan sektor pariwisata dan kesejahteraan masyarakat.
“Kami menyadari bahwa apa yang dikerjakan pemerintah tentu belum sepenuhnya maksimal. Karena itu, kami sangat terbuka terhadap rekomendasi dan masukan dari AITTA demi kemajuan pariwisata Indonesia yang pada akhirnya bermuara pada kesejahteraan masyarakat,” ujar Ni Luh.










