TVRINews, Jakarta
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan perkembangan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kondisi pascagempa Flores, serta dukungan informasi cuaca dan oseanografi dalam operasi pencarian dan penyelamatan kepada Presiden RI Prabowo Subianto.
Laporan tersebut disampaikan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam rapat terbatas yang digelar secara hybrid dari Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 16 September 2026.
Faisal menyampaikan, kondisi pascagempa Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini relatif stabil. Dengan kondisi tersebut, proses rehabilitasi dan rekonstruksi mulai dapat dilakukan.
BMKG juga telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi NTT untuk menyediakan data dan informasi geofisika yang dapat menjadi dasar dalam pembangunan kembali wilayah terdampak.
“Kami sudah berdiskusi dengan gubernur dan Kepala Dinas PUPR untuk memberikan hasil survei kondisi tanah sehingga pembangunan kembali dapat dilakukan secara lebih terarah dan sesuai dengan kaidah bangunan tahan gempa,” ujar Faisal dalam keterangan tertulis, dikutip, Kamis, 17 September 2026.
Selain penanganan pascagempa, BMKG memberikan dukungan informasi meteorologi dan oseanografi dalam pencarian dan penyelamatan terkait insiden KMP Virgo Transport 8.
Dukungan tersebut dilakukan melalui pemodelan pergerakan kapal berdasarkan data Automatic Identification System (AIS), serta penyediaan informasi mengenai kondisi cuaca dan arus laut kepada instansi terkait.
“Pada saat kejadian, kondisi cuaca terpantau cerah berawan tanpa hujan, dengan kecepatan angin berkisar 15–20 knot, tinggi gelombang 1,5 hingga 2 meter, serta arus permukaan laut antara 0,4 sampai 1,2 knot. Informasi ini telah kami sampaikan kepada KSOP (Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan) dan digunakan sebagai salah satu referensi dalam operasi pencarian dan penyelamatan,” jelasnya.
Sementara itu, dalam penanganan karhutla, BMKG terus memantau kondisi atmosfer, sebaran asap, hingga arah pergerakan polutan. Informasi tersebut digunakan untuk mendukung langkah mitigasi pemerintah, termasuk pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BNPB, kementerian terkait, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya.
Berdasarkan analisis BMKG, sebagian asap yang terpantau di wilayah Riau dipengaruhi pergerakan massa udara dari wilayah lain di Sumatera.
Faisal menyebut kondisi musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Niño masih berpotensi meningkatkan risiko karhutla dalam beberapa pekan ke depan.
“Puncak musim kemarau diprakirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026. Oleh karena itu, upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan mitigasi perlu terus diperkuat sampai memasuki periode musim hujan,” tambahnya.
Dalam rapat tersebut, Presiden Prabowo Subianto meminta jajaran pemerintah menjaga kesiapsiagaan dan meningkatkan koordinasi menghadapi potensi karhutla yang masih berlangsung hingga sekitar satu setengah bulan ke depan.
“Kita harus punya stamina dan ketahanan. Tadi sudah dilaporkan satu setengah bulan ke depan masih cukup rawan, tetapi kita akan mencari langkah-langkah solusi yang menyeluruh,”ungkap Presiden Prabowo.
Presiden juga meminta agar penanganan karhutla menjadi bahan pembelajaran untuk meningkatkan sistem mitigasi di masa mendatang. Upaya pencegahan dan kesiapsiagaan dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan agar respons terhadap karhutla dapat berlangsung cepat dan terpadu.
Melalui penyediaan data, informasi, dan layanan peringatan dini, BMKG terus mendukung pemerintah dalam mengambil keputusan berbasis sains untuk penanganan bencana, pengurangan risiko, serta perlindungan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.










