TVRINews, Papua Barat
Warga kawasan transmigrasi Teluk Wondama, Papua Barat, kini tak perlu lagi mengeluarkan biaya hingga jutaan rupiah untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan gigi. Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 12 Universitas Indonesia (UI) menghadirkan layanan kesehatan gigi keliling langsung ke sekolah dan permukiman warga.
Sebelumnya, warga harus menempuh perjalanan hingga 2,5 jam menggunakan kapal Johnson menuju Wasior untuk mendapatkan layanan kesehatan gigi. Biaya perjalanan bahkan bisa mencapai Rp3 juta untuk sekali jalan.
Ketua Tim 12 Ekspedisi Patriot UI, dr. Benso Sulijaya, mengatakan layanan tersebut dirancang tidak hanya untuk mengobati masalah gigi, tetapi juga mencegah munculnya penyakit gigi dan mulut melalui edukasi.
"Kami coba membawa program dengan sasaran untuk tindakan preventif-promotif dan juga kuratif. Preventif-promotifnya kami lakukan pendekatan ke sekolah-sekolah, mulai dari edukasi penyuluhan kesehatan gigi dan mulut hingga sikat gigi bersama," kata Benso dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Senin, 7 September 2026.
Sekitar 200 orang mendapat manfaat dari layanan tersebut. Mereka terdiri dari anak-anak, tenaga pendidik, hingga masyarakat umum. Layanan yang diberikan meliputi penambalan gigi, pencabutan, hingga pembersihan karang gigi.

Kehadiran tim menjadi penting mengingat keterbatasan tenaga kesehatan gigi di wilayah tersebut. Saat ini hanya terdapat satu perawat gigi yang melayani Werianggi dan Wasior secara bergantian. Sementara Rumah Sakit Nikiwar belum memiliki dokter gigi.
Selain memberikan pelayanan medis, TEP UI juga membagikan paket sikat dan pasta gigi kepada peserta didik. Edukasi tersebut diharapkan dapat membentuk kebiasaan menjaga kebersihan dan kesehatan gigi sejak dini.
Kemudian, Benso menyebut dampak edukasi bahkan masih terlihat setelah tim meninggalkan lokasi. Sejumlah anak yang ditemuinya mengaku tetap menggunakan sikat gigi yang diberikan dan menerapkan kebiasaan menyikat gigi. Menurutnya, kebiasaan tersebut juga diharapkan dapat diteruskan oleh anak-anak kepada anggota keluarga mereka di rumah.
Pendampingan TEP UI tidak berhenti pada pelayanan kesehatan gigi. Tim turut mengaktifkan kembali Unit Kesehatan Sekolah atau UKS dan Unit Kesehatan Gigi Sekolah atau UKGS yang sebelumnya belum berjalan optimal. Langkah ini diharapkan membuat sekolah mampu melanjutkan edukasi dan pelayanan kesehatan gigi secara mandiri setelah program ekspedisi berakhir.
Selain bidang kesehatan, TEP UI juga mendirikan Pojok Baca di sejumlah sekolah sebagai upaya mendukung peningkatan literasi pendidikan. Persiapan ruangan dan penyortiran buku hingga kini telah mencapai sekitar 50 persen.
Program tersebut menunjukkan bahwa pemerataan akses kesehatan di wilayah terpencil tidak selalu harus diawali dengan pembangunan fasilitas berskala besar.
Kehadiran tenaga ahli secara langsung, disertai edukasi yang berkelanjutan, dinilai mampu mengurangi beban biaya rujukan, mempercepat penanganan, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan gigi.
Ke depan, pengaktifan UKS dan UKGS secara mandiri diharapkan dapat memperluas jangkauan layanan kesehatan gigi bagi lebih banyak peserta didik dan masyarakat Teluk Wondama, khususnya kelompok yang selama ini menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan.










