TVRINews, Cimahi
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, satuan pendidikan nonformal, mitra strategis, media, dan berbagai pemangku kepentingan. Sinergi tersebut dinilai menjadi kunci untuk memastikan semakin banyak anak kembali memperoleh akses pendidikan yang layak.
Dalam Rapat Koordinasi Penguatan Tata Kelola Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF) Tahun 2026 di Cimahi, Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis Andang Firmantria memaparkan praktik baik penanganan ATS yang dilakukan pemerintah daerah melalui penguatan koordinasi lintas sektor dan pembaruan data di lapangan.

Menurut Andang, meski menghadapi keterbatasan anggaran dan sumber daya aparatur, Pemerintah Kabupaten Ciamis tetap mengalokasikan 20 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk sektor pendidikan sebagai bentuk komitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Sebelum kolaborasi kami perkuat, proses verifikasi data ATS mengalami stagnasi. Hingga Maret 2026, capaian verifikasi baru mencapai sekitar 45,23 persen dari total data awal sebanyak 15.033 anak. Setelah melibatkan mitra strategis dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah desa, capaian tersebut kini meningkat menjadi sekitar 64 persen hanya dalam waktu kurang lebih tiga bulan,”kata Andang dalam keterangan tertulis, dikutip, Kamis, 23 Juli 2026.
Ia menjelaskan, kolaborasi tersebut tidak hanya mempercepat proses verifikasi data, tetapi juga membantu memetakan kondisi riil di lapangan, mengidentifikasi penyebab anak putus sekolah, serta memberikan pendampingan kepada keluarga agar anak dapat kembali mengenyam pendidikan.
Pemerintah Kabupaten Ciamis juga mendorong berbagai inovasi di tingkat desa, seperti penguatan pendidikan berbasis keterampilan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), pemberian bantuan pendidikan, hingga pembentukan komunitas belajar. Model tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam menangani ATS.
“Kami menargetkan capaian verifikasi data ATS ini menjadi lebih dari 90 persen pada akhir tahun 2026. Dengan data yang tepat dan akurat, kami akan mudah menentukan bentuk intervensi yang tepat, baik melalui pendidikan formal, PKBM, pendidikan berbasis keterampilan, maupun alternatif layanan pendidikan lainnya,"jelasnya.
Praktik baik lainnya disampaikan Pengelola PKBM Al Fattah Kabupaten Tasikmalaya, Feri Fauzi Firdaus. Ia mengatakan PKBM terus membangun kepercayaan diri warga belajar agar mampu berprestasi dan bersaing dengan peserta didik dari sekolah formal.
Pada 2026, PKBM Al Fattah berhasil mengantarkan tiga peserta didik lolos ke tingkat provinsi dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN), terdiri atas dua peserta jenjang SD dan satu peserta jenjang SMP bidang Matematika. Capaian tersebut menjadikan PKBM Al Fattah sebagai satu-satunya PKBM yang melaju hingga tingkat provinsi dalam ajang tersebut.
“Mengusung slogan Kami Ada Karena Kami Beda, kami terus membangun kepercayaan diri warga belajar untuk semangat meraih prestasi. Dalam penanganan ATS, sejak tahun ini kami juga sudah tergabung menjadi satuan tugas penanganan ATS di Kabupaten Tasikmalaya,”ungkap Feri.
Feri menambahkan, bantuan revitalisasi dan Interactive Flat Panel (IFP) yang diterima pada 2025 turut meningkatkan kualitas pembelajaran di PKBM. Ke depan, pihaknya akan memperluas kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri agar lulusan memiliki peluang lebih besar untuk bekerja maupun melanjutkan pendidikan.
“Ke depan, kami berkomitmen untuk memperluas kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri agar lulusan tidak hanya memperoleh ijazah, namun juga memiliki akses terhadap dunia kerja maupun pendidikan tinggi,”ucapnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq menilai pendidikan nonformal memiliki peran yang semakin strategis dalam memperluas akses pendidikan sekaligus meningkatkan keterampilan masyarakat melalui program pembelajaran yang fleksibel dan sesuai kebutuhan.
Fajar juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh penyelenggara pendidikan nonformal yang terus berupaya menghadirkan layanan pendidikan bagi masyarakat.
“Kami berkomitmen untuk terus membangun sistem pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan mampu menjawab tantangan masa depan melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan,”ujar Fajar.










