TVRINews, Jakarta
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran masih menjadi perhatian di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan penanganan karhutla terus dilakukan melalui pengerahan Satgas Darat dan Satgas Udara.
Di Kalimantan Barat, BNPB mencatat 46 titik api dengan luas lahan terbakar mencapai lebih dari 528 hektare. Dari luasan tersebut, lebih dari 354 hektare telah berhasil dipadamkan. Kondisi udara di Kalimantan Barat masih tergolong berbahaya, dengan jarak pandang di sejumlah wilayah berada di bawah satu kilometer.
"Lahan gambut menyebabkan sulitnya kebakaran ini dipadamkan. Kalau sudah terbakar dengan kedalaman tertentu sampai empat-lima meter lebih di dalam tanah, ini menyebabkan sulitnya untuk dibasahi," ujar Berton dalam konferensi pers update penanganan karhutla di Indonesia, Kamis, 3 September 2026.
BNPB mengerahkan lebih dari 14 ribu personel Satgas Darat untuk menangani karhutla di Kalimantan Barat. Selain itu, dua armada dikerahkan untuk patroli dan dua armada untuk operasi waterbombing.
Dalam operasi waterbombing, sebanyak 504 ribu liter air dijatuhkan untuk memadamkan sekitar dua hektare lahan. BNPB juga melakukan operasi modifikasi cuaca dengan menyemai 800 kilogram garam. Namun, pelaksanaannya terbatas karena minimnya pertumbuhan awan.
Sementara itu, di Kalimantan Tengah terdapat 72 titik api dengan luas lahan terbakar mencapai 739 hektare. Dari jumlah tersebut, lebih dari 459 hektare telah berhasil dipadamkan.
Sebanyak 10.700 personel Satgas Darat dikerahkan untuk menangani kebakaran. BNPB juga mengerahkan armada waterbombing dan melakukan operasi modifikasi cuaca dengan penyemaian 800 kilogram garam.
Kemudian, Berton menjelaskan bahwa proses pemadaman di lahan gambut tidak cukup hanya dengan mematikan api di permukaan. Tim harus memastikan api benar-benar mati dan lahan telah dingin agar tidak kembali terbakar.
"Api yang sudah dipadamkan belum tentu segera padam. Karena gambut tadi membuat karakteristiknya sulit, karena harus padam, mati, dingin. Kemudian baru dipastikan bahwa itu berpotensi tidak muncul kembali," terangnya.
Sedangkan di Kalimantan Selatan, BNPB mencatat 31 titik api dengan luas lahan terbakar sekitar 551 hektare. Sebanyak 103 hektare di antaranya telah berhasil dipadamkan.
"Untuk memadamkan api tersebut, Satgas Darat dikerahkan 1.408 orang dengan luas lahan yang dipadamkan yang berhasil 17 hektare lebih. Sedangkan Satgas Udara tetap melakukan patroli, melakukan waterbombing 5 unit armada kami yang sudah dikerahkan dengan menyebarkan air sebanyak 1.287.000 liter dan ini berhasil memadamkan 86 hektare lahan yang terbakar," jelasnya.
Namun, penanganan di Kalimantan Selatan masih menghadapi sejumlah kendala, seperti akses menuju lokasi yang sulit, jauhnya sumber air, luasnya lahan terbakar, serta angin dan asap yang menghambat jarak pandang.
BNPB menegaskan bahwa penanganan karhutla di tiga provinsi Kalimantan tersebut terus dilakukan secara terpadu. Patroli udara diarahkan untuk menemukan titik api baru, sementara Satgas Darat melakukan pemadaman dan pendinginan di lokasi yang masih terbakar.
Di tengah kondisi asap, BNPB mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk menggunakan masker dengan benar, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, seperti membakar sampah sembarangan dan membuang puntung rokok sebelum benar-benar padam.










