TVRINews, Jakarta
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong penguatan ekosistem sastra nasional melalui penerjemahan dan publikasi karya-karya sastra klasik Indonesia ke berbagai bahasa asing. Upaya tersebut dilakukan untuk memperluas jangkauan sastra Indonesia sekaligus memperkenalkan kekayaan literasi Nusantara kepada masyarakat internasional.
Hal itu disampaikan Fadli Zon saat menjadi pembicara utama dalam kegiatan Mengenang 130 Tahun Aman Datuk Madjoindo sekaligus peluncuran buku Tambo Minangkabau di Graha Utama Kompleks Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta.
Dalam sambutannya, Fadli Zon mengapresiasi kontribusi Aman Datuk Madjoindo terhadap perkembangan sastra Indonesia. Sastrawan yang lahir pada 1896 tersebut tercatat menghasilkan 54 karya sastra, termasuk 20 novel. Salah satu karya terkenalnya adalah Si Doel Anak Betawi yang diterbitkan Balai Pustaka pada 1932.
Novel tersebut kemudian berkembang menjadi fenomena budaya populer di Indonesia. Kisahnya diadaptasi dalam berbagai bentuk, mulai dari karya musik, film layar lebar garapan Sumanjaya pada 1970-an, hingga serial televisi yang populer pada periode 1994–2006.
“Aman Datuk Madjoindo merantau dan hidup di Jakarta, menjadi orang Jakarta, bahkan dalam novel-novelnya termasuk Si Doel Anak Betawi, percakapannya menggunakan bahasa dan dialek Betawi serta membawa gaya hidup budaya Betawi. Sastra merupakan bagian yang sangat penting dalam pemajuan kebudayaan. Di era globalisasi ini, dunia menjadi global village tanpa tembok batas, karena itulah Kementerian Kebudayaan akan terus mendorong ekosistem sastra agar karya klasik ini dapat dibaca oleh masyarakat internasional,” ujar Menbud Fadli dalam keterangan yang diterima tvrinews, Jumat, 6 November 2026.
Selama 38 tahun mengabdi di Balai Pustaka pada 1920–1958 dan penerbit Djambatan, Aman Datuk Madjoindo produktif menghasilkan karya melalui kegiatan mengarang, menyadur, dan menerjemahkan. Karya-karyanya mencakup berbagai genre, mulai dari sastra dewasa hingga bacaan anak.
Sejumlah karya monumental Aman Datuk Madjoindo antara lain Si Doel Anak Betawi (Si Dul Anak Djakarta), Pertolongan Dukun, Rusmala Dewi, Si Cebol Rindukan Bulan, Srigunting, Pak Janggut, Cindur Mata, dan Cerita si Penidur.

(Foto: TVRINews/HO-Kemenbud/Hebusa)
Fadli Zon menjelaskan, penguatan literatur dan pemajuan kebudayaan merupakan bagian dari pelaksanaan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang mencakup 10 objek pemajuan kebudayaan, di antaranya tradisi lisan, manuskrip, pengetahuan tradisional, dan seni.
Untuk memperluas jangkauan sastra Indonesia di tingkat internasional, Kementerian Kebudayaan melalui program Manajemen Talenta Nasional juga mendorong pembibitan sastrawan muda serta peningkatan pengakuan terhadap karya sastra Indonesia melalui penerjemahan.
Pada 2026, pemerintah menargetkan penerjemahan 15 buku kontemporer dan enam buku klasik terbitan Balai Pustaka ke berbagai bahasa asing. Fadli Zon secara khusus berharap novel Si Doel Anak Betawi dapat segera diterjemahkan agar bisa dinikmati pembaca di berbagai negara.
Dalam kesempatan yang sama, Kementerian Kebudayaan juga meluncurkan buku Tambo Minangkabau yang mengangkat kekayaan tradisi lisan dan pengetahuan budaya masyarakat Minangkabau.
“Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang setinggi-tingginya atas penyelenggaraan acara dan peluncuran buku Tambo Minangkabau. Semoga buku ini dapat memperkaya khazanah literatur kebudayaan, memperkuat dokumentasi pengetahuan tradisional. Saya berharap kegiatan ini tidak berhenti pada seremoni atau peluncuran buku saja, tetapi menjadi momentum untuk memperluas akses masyarakat terhadap karya-karya beliau, serta menjaga agar karya dan pemikiran para pendahulu tetap relevan dan hidup di tengah masyarakat,” tambahnya.
Kegiatan Mengenang 130 Tahun Aman Datuk Madjoindo diselenggarakan oleh Direktorat Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual, Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan.
Acara tersebut turut dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1993–1998 Wardiman Djojonegoro, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, Anggota DPD RI DKI Jakarta Dailami Firdaus, Ketua Yayasan Aman Datuk Madjoindo Boy Rafli Amar, Direktur Utama Balai Pustaka Achmad Fachrodji, serta sejumlah tokoh dan akademisi.
Melalui kegiatan ini, Kementerian Kebudayaan berharap generasi muda semakin mengenal sosok dan pemikiran Aman Datuk Madjoindo serta memahami relevansi karya-karyanya. Selain menjadi bentuk penghargaan terhadap kontribusinya dalam dunia literasi, upaya tersebut diharapkan dapat menjaga warisan sastra Indonesia sekaligus memperluas pengenalannya di panggung internasional.










