TVRINews, Jakarta
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 21,45 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi US$126,62 juta hingga kuartal III 2026. Capaian tersebut melampaui pertumbuhan pendapatan perusahaan yang meningkat 10,46 persen menjadi US$352,20 juta.
Kinerja positif tersebut tercatat dalam laporan keuangan PGE per 30 September 2026. Selain laba bersih dan pendapatan, perusahaan juga membukukan EBITDA sebesar US$287,77 juta atau tumbuh 15,58 persen secara tahunan. Sementara itu, kas dan setara kas tercatat mencapai US$713,68 juta.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan, pertumbuhan bisnis perusahaan tetap diarahkan untuk mendukung penyediaan energi bersih sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Tujuan kami adalah untuk melayani masyarakat, baik dengan menyediakan pasokan listrik berbasis energi panas bumi yang tersedia setiap saat maupun Beyond Electricity. Sejalan dengan agenda pemerintah dalam mendorong transisi energi dan ketahanan energi nasional, ekspansi bisnis yang kami lakukan difokuskan untuk memberikan manfaat panas bumi sebesar-besarnya. Oleh karena itu, kinerja positif ini menjadi bekal bagi kami untuk melayani masyarakat,” ujar Ahmad Yani dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat, 6 November 2026.
Sejalan dengan strategi ekspansi, PGE saat ini mengelola kapasitas terpasang secara mandiri (own operation) sebesar 727 megawatt (MW). Kapasitas tersebut ditargetkan meningkat menjadi 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan 1,8 GW pada 2033.
Target tersebut akan dicapai melalui pengembangan organik, anorganik, serta percepatan sejumlah proyek panas bumi. Perusahaan juga mengoptimalkan aset yang telah beroperasi, memperluas kapasitas pembangkit, dan mengembangkan sumber pendapatan baru.
Direktur Keuangan PGE Fransetya Hasudungan Hutabarat menjelaskan, pertumbuhan kinerja perusahaan merupakan hasil penerapan strategi bisnis yang efektif dan efisien. Menurutnya, pengembangan proyek panas bumi membutuhkan perencanaan jangka panjang sehingga pertumbuhan kapasitas harus diimbangi dengan kemampuan menjaga profitabilitas dan kesehatan keuangan.
“Proyek panas bumi PGE adalah proyek jangka panjang yang berjalan multi-years. Karena itu, pertumbuhan tidak hanya diukur dari penambahan kapasitas, tetapi juga dari kemampuan Perseroan menjaga profitabilitas dan kesehatan keuangan di setiap tahap pengembangan. Dengan prinsip growth with discipline, kami memastikan pertumbuhan tersebut berkualitas, menguntungkan, dan berkelanjutan. Harapannya, investasi yang kami tanam hari ini dapat memberikan multiplier effect bagi perekonomian dan masyarakat,” ungkap Fransetya.
Dari sisi keuangan, hingga akhir September 2026, total liabilitas PGE tercatat turun 3,37 persen menjadi US$955,55 juta. Kondisi tersebut turut memberikan ruang bagi perusahaan untuk melanjutkan pengembangan bisnis dan investasi.
Sementara itu, dari aspek operasional, PGE mencatatkan produksi listrik panas bumi sebesar 4.114 gigawatt hour (GWh) sepanjang Januari hingga September 2026 dari wilayah kerja yang dikelola secara mandiri. Realisasi tersebut menjadi produksi tertinggi sepanjang sejarah perusahaan untuk periode sembilan bulan. Capaian itu juga melampaui target sebesar 3.801 GWh atau mencapai 108,22 persen.
Dibandingkan periode yang sama pada 2025 dengan produksi 3.747 GWh, produksi listrik panas bumi PGE meningkat sekitar 9,86 persen. Peningkatan tersebut mencerminkan upaya perusahaan dalam menjaga keandalan operasional sekaligus mengoptimalkan aset yang dimiliki.
Untuk mempertahankan produksi dan meningkatkan kapasitas, PGE juga mengintensifkan kegiatan pengeboran di sejumlah wilayah operasional.
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE Edwil Suzandi mengatakan, kegiatan pengeboran menjadi bagian penting dalam strategi pengembangan energi panas bumi, baik untuk menemukan potensi kapasitas baru maupun mengoptimalkan aset yang sudah beroperasi.
“Pengeboran menjadi salah satu langkah konkret PGE dalam mengembangkan pemanfaatan energi panas bumi, baik untuk membuka potensi kapasitas baru maupun mengoptimalkan aset yang telah beroperasi. Bagi PGE, menjaga produksi dan ketersediaan pasokan uap sama pentingnya dengan mengembangkan kapasitas baru,” kata Edwil.
Sejumlah proyek yang saat ini dikembangkan PGE meliputi PLTP Hululais Unit 1 dan 2, PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4, serta PLTP Lahendong Unit 7 dan 8. PLTP Hululais telah memperoleh Perjanjian Jual Beli Uap (Steam Sales Contract/SSC) dan dipersiapkan memasuki tahap Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC). Pembangkit tersebut ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2028.
Sementara itu, PLTP Lumut Balai Unit 3 telah memperoleh Perjanjian Jual Beli Listrik (Power Purchase Agreement/PPA) dan menyelesaikan pengeboran dua sumur. Proyek tersebut juga telah memulai proses Front End Engineering Design(FEED), dengan target beroperasi secara komersial pada 2030.
Untuk mencapai target kapasitas terpasang 1 GW pada 2028, PGE memprioritaskan pengembangan 12 proyek dengan total kapasitas 320 MW. Lima proyek di antaranya dengan kapasitas gabungan 105 MW dipercepat dari jadwal awal yang direncanakan beroperasi setelah 2028.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari langkah PGE memperkuat kontribusi energi panas bumi dalam mendukung transisi energi dan ketahanan energi nasional, sekaligus mengoptimalkan potensi panas bumi Indonesia yang telah dikembangkan sejak penemuan di Kamojang, Jawa Barat, pada 1926.










