TVRINews - Jakarta
Wapres Gibran Rakabuming tawarkan auditorium Istana Wakil Presiden sebagai tempat latihan Komunitas Aku Menari jelang pagelaran di TIM.
Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya terhadap inklusivitas dengan membuka akses fasilitas kenegaraan bagi kelompok penyandang disabilitas.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menawarkan auditorium Istana Wakil Presiden sebagai lokasi latihan rutin bagi Komunitas Aku Menari, sebuah wadah berekspresi bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Dukungan tersebut disampaikan Wapres saat menerima audiensi para pengurus dan anggota komunitas di Istana Wakil Presiden, Jakarta. Langkah ini diambil untuk menanggapi kendala operasional yang dihadapi komunitas tersebut, yang selama ini harus menyewa dan berpindah-pindah tempat latihan.
(Wapres ramah tamah dengan anak-anak berkebutuhan khusus. [Foto: TVRI DKI Jakarta])
"Silakan dilanjutkan persiapannya. Kami akan mendukung, atau mau pakai tempat kami [auditorium] di belakang," ujar Wapres Gibran dalam kesempatan tersebut.
Komunitas Aku Menari, yang didominasi oleh anak-anak dengan kondisi down syndrome, saat ini tengah merancang pertunjukan seni di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Founder Komunitas Aku Menari, Tati Dwi Indarti, menyambut positif perhatian dari pemerintah yang dinilai memberikan dorongan moral bagi para anak didik mereka.
Apresiasi dari Pegiat Inklusi
Kebijakan pembukaan akses Istana ini mendapat sorotan positif dari kalangan pegiat hak-hak disabilitas. Pegiat isu disabilitas nasional, Angkie Yudistia, menilai bahwa penyediaan sarana pusat pemerintahan bagi kelompok rentan merupakan wujud nyata pengakuan atas hak dan potensi seluruh warga negara secara setara.
"Langkah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka membawa pesan kepemimpinan yang sangat mendalam. Istana tidak sekadar menjadi simbol kekuasaan, melainkan pusat harapan bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa diskriminasi," kata Angkie dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta, Kamis, 15 Oktober 2026.
(Wapres ramah tamah dengan anak-anak berkebutuhan khusus. [Foto: TVRI DKI Jakarta])
Menurut Angkie, interaksi langsung antara pejabat publik dan penyandang disabilitas menghadirkan dampak psikologis yang signifikan dalam membangun kepercayaan diri generasi muda berkebutuhan khusus.
"Ketika anak-anak penyandang disabilitas diberi ruang untuk menampilkan bakatnya di Istana, kita sedang menegaskan bahwa setiap anak bangsa memiliki posisi yang sejajar," ujarnya.
Kendati demikian, Angkie menggarisbawahi bahwa inisiatif ini perlu ditindaklanjuti dengan kebijakan yang berkelanjutan di level nasional maupun daerah agar dampaknya dirasakan lebih luas.
"Ukuran keberhasilan inklusi bukan terletak pada seberapa sering penyandang disabilitas diundang ke acara penting, melainkan seberapa besar peluang nyata yang terbuka bagi mereka secara berkelanjutan," tutup Angkie.










