TVRINews, Bengkulu
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono membuka kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Sentra Dharma Guna Bengkulu secara daring dari Jakarta. Pembukaan MPLS ini menandai dimulainya akses pendidikan kembali bagi anak-anak putus sekolah dan anak dari keluarga kurang mampu di wilayah Bengkulu.
Kehadiran SKB ini merupakan hasil kolaborasi nyata antara Kementerian Sosial dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk memberikan ruang bagi anak-anak rentan dalam merajut kembali cita-cita mereka.
“Melalui SKB, anak-anak kita yang tadinya tidak sekolah, putus sekolah, atau belum sekolah, akhirnya bisa bersekolah kembali. Ini adalah bentuk kolaborasi antara Kementerian Sosial dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk memberikan ruang kepada mereka membangun kembali harapan,” ujar Wamensos Agus Jabo dalam keterangannya, Senin 21 September 2026.
Wamensos menambahkan bahwa jalur pendidikan merupakan sarana paling fundamental untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Karena itu, penanganan anak putus sekolah akibat kendala ekonomi butuh kolaborasi inter-lembaga dan kerja bersama seluruh pihak.
“Jalur pendidikan adalah sarana yang paling fundamental untuk memutus transmisi kemiskinan. Tugas kita bersama adalah menjemput, mendampingi, dan mengantarkan anak-anak ini untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-cita hidupnya dan harapan orang tuanya,” kata Agus Jabo.
Ia juga menyemangati para peserta didik bahwa latar belakang ekonomi keluarga tidak membatasi potensi seorang anak untuk meraih prestasi di masa depan.
“Anak-anakku adalah anak-anak yang hebat, yang butuh peluang, yang butuh ruang untuk membuktikan dan memunculkan kehebatan kalian menjadi sesuatu yang bisa memberikan kebahagiaan dan harapan, terutama bagi kalian dan orang tua kalian,” tuturnya.
Di tengah keterbatasan kapasitas Sekolah Rakyat, kehadiran SKB difungsikan sebagai wadah penampung alternatif bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu agar tetap terfasilitasi hak belajarnya secara inklusif.
“Kalau yang mampu bisa bersekolah dengan biaya sendiri, yang tidak mampu negara yang harus mengantarkan mereka, menjemput mereka. Di sinilah pentingnya kita semua bergotong royong dan berkolaborasi antara institusi supaya seluruh anak Indonesia bisa bersekolah dan mewujudkan impian mereka,” ucapnya.
Agus Jabo turut menyampaikan apresiasi kepada para pendamping sosial, termasuk SDM PKH dan pendamping rehabilitasi sosial, yang terus aktif menjangkau serta mendata anak-anak di lapangan.
“Setelah adanya Sekolah Rakyat, harapan itu tumbuh kembali. Apalagi kemudian yang tidak bisa di Sekolah Rakyat ditampung melalui SKB-SKB yang diselenggarakan antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Sosial dan Dinas Sosial. Itu juga memberikan harapan baru bagi saudara-saudara kita yang miskin,” kata Agus Jabo.
Ia mengajak seluruh jajaran dinas sosial, dinas pendidikan, serta unit pelaksana teknis terkait untuk mengedepankan pendekatan humanis dalam menjalankan tugas pelayanan sosial.
“Janganlah kita hanya bekerja dengan tugas dan fungsi, tetapi mari kita bekerja dengan hati nurani. Kita harus menjemput anak-anak kita dari keluarga miskin agar mereka bisa sekolah dan kemudian mewujudkan apa yang menjadi cita-cita mereka,” pungkasnya.










