TVRINews, Jakarta
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut ketersediaan pangan nasional relatif terjaga hingga akhir 2026. Namun, pemerintah perlu menjaga kelancaran distribusi dan keseimbangan pasokan antarwilayah untuk mengantisipasi tekanan harga di sejumlah daerah.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Brigjen Pol Hermawan mengatakan, berdasarkan proyeksi neraca pangan nasional yang diperbarui pada 3 September 2026, ketersediaan sejumlah komoditas pangan masih mencukupi hingga akhir tahun.
Untuk beras, total ketersediaan diproyeksikan mencapai 47,26 juta ton, sementara kebutuhan tahunan sekitar 31,21 juta ton. Dengan demikian, stok akhir beras hingga Desember diproyeksikan mencapai sekitar 16,06 juta ton.
Sementara itu, stok akhir jagung diproyeksikan mencapai 6,91 juta ton dan kedelai 290,89 ribu ton. Bawang merah sekitar 12,35 ribu ton, bawang putih 94,82 ribu ton, cabai besar 69,56 ribu ton, dan cabai rawit sekitar 60,28 ribu ton.
Deputi Bapanas Hermawan menegaskan, pada 2026 tidak terdapat impor beras penugasan. Data impor yang tercatat merupakan beras industri yang berasal dari sisa perizinan 2025 dan beras khusus.
“Tantangan utama kita saat ini bukan semata-mata ketersediaan nasional, karena semuanya tercukupi sampai akhir tahun, tetapi kita harus menjaga distribusi dan keseimbangan antarwilayah,” ujar Hermawan, Senin, 21 September 2026.
Bapanas menyebut tekanan harga pangan saat ini bersifat spesifik berdasarkan komoditas dan wilayah. Karena itu, intervensi tidak cukup hanya melihat kondisi stok secara nasional, tetapi perlu dilakukan hingga tingkat provinsi, kabupaten, dan kota.
Upaya tersebut diarahkan untuk memastikan pangan tersedia, distribusi berjalan lancar, harga terkendali, serta petani dan peternak tetap memperoleh harga yang wajar dan daya beli masyarakat terlindungi.










