TVRINews, Lampung
Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni bersama Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Kaja Glomm mengunjungi Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung, Minggu, 20 September 2026. Kunjungan tersebut untuk melihat langsung upaya perlindungan kawasan, mulai dari pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga mitigasi interaksi negatif manusia dan Gajah Sumatera.
Raja Juli menekankan pentingnya menjaga Way Kambas sebagai satu kesatuan bentang alam.
"Perlindungan kawasan tidak hanya menyangkut pencegahan kebakaran dan pengamanan habitat, tetapi juga bagaimana menciptakan ruang hidup yang lebih aman bagi satwa sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat di sekitar kawasan," ujar dalam keterangan tertulis, dikutip tvrinews.com dari laman Kementerian Kehutanan, Senin, 21 September 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Raja Juli terlebih dahulu meninjau perkembangan pengendalian karhutla di TN Way Kambas. Kawasan ini dalam beberapa waktu terakhir mengalami sejumlah kejadian kebakaran sehingga penguatan pencegahan, kesiapsiagaan personel, sumber air, serta sarana dan prasarana pemadaman menjadi perhatian.
Selanjutnya, Raja Juli dan rombongan meninjau kesiapan infrastruktur barrier yang disiapkan sebagai bagian dari mitigasi interaksi negatif antara Gajah Sumatera dan masyarakat.
Dalam peninjauan tersebut, Raja Juli didampingi Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatera, Brigjen TNI Sriyanto. Ia menjelaskan perkembangan pembangunan dan sistem mitigasi yang tengah dipersiapkan di lapangan.
Barrier tersebut tidak hanya ditujukan sebagai pembatas fisik, tetapi menjadi bagian dari sistem mitigasi terpadu untuk mengurangi potensi gajah keluar dari kawasan dan memasuki permukiman maupun lahan masyarakat.
Dengan infrastruktur dan sistem pengawasan yang semakin baik, upaya tersebut diharapkan dapat memberikan rasa aman kepada masyarakat sekaligus mendukung pengelolaan Gajah Sumatera yang lebih baik.
Perhatian Raja Juli juga tertuju pada gajah-gajah jinak yang selama ini membantu berbagai kegiatan pengelolaan dan mitigasi di Way Kambas.
Saat melihat kondisi gajah, Raja Juli menjelaskan kepada Kaja Glomm bahwa gajah-gajah tersebut perlu melalui proses adaptasi secara bertahap. Seiring semakin lengkap dan berfungsinya barrier serta sistem pengamanan kawasan, penggunaan rantai terhadap gajah jinak diharapkan dapat semakin dikurangi.
Kaja Glomm kemudian memastikan kembali arah pengelolaan tersebut.
"That’s the ambition, to unchain?," tanya Kaja Glomm.
"Yes," jawab Raja Juli.
Arah tersebut menggambarkan upaya pemerintah untuk menciptakan sistem pengelolaan yang semakin aman sehingga kesejahteraan gajah dapat ditingkatkan tanpa mengabaikan keselamatan masyarakat, petugas, maupun satwa.
Transisi dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur, perilaku dan adaptasi setiap individu gajah, serta sistem pengamanan kawasan.
Kunjungan ke Way Kambas juga menunjukkan pentingnya pendekatan terpadu dalam konservasi. Pengendalian karhutla dilakukan untuk menjaga habitat dari kerusakan, sementara mitigasi interaksi manusia dan gajah diarahkan untuk menciptakan ruang hidup yang lebih aman.
Selain itu, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi terus dikembangkan untuk mendukung upaya penyelamatan spesies yang populasinya semakin terbatas.










