TVRINews, Bandung
Perkembangan kendaraan listrik dan energi terbarukan mendorong meningkatnya kebutuhan tenaga kerja dengan kompetensi di bidang green jobs atau pekerjaan hijau. Kesiapan sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting agar perkembangan teknologi dapat diikuti tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengatakan, kebutuhan tenaga kerja hijau diperkirakan terus meningkat seiring perkembangan ekonomi dan teknologi yang mengarah pada transisi hijau. Indonesia menargetkan jumlah tenaga kerja hijau mencapai sekitar 5,01 hingga 5,32 juta orang pada 2029.
“Teknologinya berkembang, tenaga kerjanya juga harus kita siapkan. Jangan sampai teknologinya sudah tersedia, tetapi tenaga kerja yang mampu mengoperasikan, merawat, dan mengembangkannya belum siap,” kata Yassierli dalam keterangan tertulis, dikutip Senin, 21 September 2026.
Ia menjelaskan, perkembangan kendaraan listrik dan energi terbarukan tidak hanya menghadirkan produk serta teknologi baru, tetapi juga meningkatkan kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan keahlian khusus. Kompetensi tersebut antara lain teknisi kendaraan listrik, instalasi tenaga surya, pengoperasian stasiun pengisian, pemeliharaan, serta keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
“Transisi hijau membutuhkan teknologi, investasi, dan yang paling penting, tenaga kerja yang kompeten,” jelasnya.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Yassierli menilai pelatihan vokasi perlu terhubung langsung dengan kebutuhan dunia kerja. Keterlibatan industri diperlukan mulai dari penyusunan kurikulum, penyediaan instruktur, pelaksanaan praktik kerja, sertifikasi, hingga penempatan lulusan.
“Fokus kita jelas: peserta selesai pelatihan, kompetensinya diakui, kemudian bekerja atau berusaha,” lanjutnya.
Yassierli juga menekankan pentingnya aspek K3 dalam pengembangan kompetensi tenaga kerja di bidang teknologi hijau. Materi pelatihan perlu mencakup kompetensi kelistrikan, penanganan baterai, pencegahan kebakaran, serta prosedur menghadapi kondisi darurat.
"Kita ingin peserta pelatihan memiliki kompetensi yang utuh. Bukan hanya mampu memasang, mengoperasikan, dan memperbaiki sistem, tetapi juga memahami aspek keselamatannya," pungkasnya.










