TVRINews, Jakarta
Menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo, BRIN andalkan enam inovasi berbasis riset untuk menjamin ketahanan air nasional.
Menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat penyediaan teknologi air guna menghadapi dampak perubahan iklim global. Kepala BRIN, Arif Satria, secara resmi memperkenalkan enam teknologi hasil riset unggulan yang siap diaplikasikan untuk menjamin ketahanan air nasional dari hulu hingga hilir.
Berbagai inovasi tersebut dirancang untuk mencakup seluruh siklus hidrologi, mulai dari atmosfer, daratan, hingga wilayah pesisir dan laut. Arif menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya air tidak lagi cukup mengandalkan infrastruktur konvensional, melainkan membutuhkan intervensi sains dan riset yang komprehensif.
"Keberlanjutan peradaban kita bergantung pada kemandirian dalam mengelola air. Teknologi yang dihadirkan BRIN memadukan keunggulan sains dasar dengan aplikasi praktis untuk memastikan setiap tetes air baik dari awan, celah bebatuan, maupun samudera dapat dioptimalkan," ujar Arif dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat, 24 Juli 2026.
6 Inovasi Teknologi Air BRIN
Berikut adalah enam pilar teknologi ketahanan air yang dikembangkan oleh BRIN:
1. Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC): Bukan sekadar menurunkan hujan, TMC bekerja sebagai manajemen sumber daya air atmosferik yang terukur untuk mengisi waduk, danau, embung, serta mengisi ulang (recharge) kantong air tanah melalui intervensi mikrofisika awan.
2. Eksplorasi Speleologi Karst dan Air Tawar Lepas Pantai (OFG): Memetakan aliran sungai bawah tanah di kawasan karst sebagai filter alami, serta mendeteksi cadangan air tawar purba (Offshore Fresh Groundwater) di bawah dasar laut sebagai lumbung air strategis masa depan.
3. Teknologi Nuklir dan Resonansi Magnetik Bumi: Memanfaatkan analisis isotop air sebagai "sidik jari" untuk melacak asal-usul sumber air dan mendeteksi kebocoran bendungan. BRIN juga menggunakan alat Nuclear Magnetic Resonance (NMR) senilai Rp15,8 miliar untuk memindai potensi air tanah hingga kedalaman 180 meter tanpa pengeboran destruktif.
4. Desalinasi Air Laut Berbasis IoT: Mengubah air laut dengan salinitas ekstrem hingga 40.000 ppm menjadi air minum melalui filtrasi berlapis dan membran Sea Water Reverse Osmosity (SWRO) mandiri berdesain kompak, serta inovasi membran ultrafiltrasi dari limbah selulosa daun mahkota nanas.
5. Teknologi ARSINUM (Air Siap Minum): Solusi pengolahan air marginal (seperti air gambut dan air keruh) yang terintegrasi otomatisasi IoT. Hadir dalam bentuk unit statis maupun Mobile Unit yang telah teruji andal menyuplai air bersih di berbagai wilayah bencana nasional.
6. Konservasi dan IPAL Domestik: Sistem pemanenan air hujan serta Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk mengolah air bekas wudhu (diuji coba di Masjid Agung Wonosari) agar dapat digunakan kembali secara hemat energi dan ramah lingkungan.
Melalui penerapan keenam teknologi ini, BRIN berkomitmen menggeser paradigma pengelolaan air di Indonesia dari yang mulanya bersifat reaktif menjadi sistem yang adaptif, berbasis ilmu pengetahuan, dan berkelanjutan demi menyongsong Indonesia Emas 2045.









