TVRINews, Jakarta
Deputi BRIN Nunung Nuryartono sebut hilirisasi mineral transisi energi butuh kecerdasan teknologi dan tata kelola berkelanjutan.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan pentingnya penguasaan teknologi, pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta kolaborasi riset internasional dalam mengawal hilirisasi mineral di era transisi energi.
Dengan pendekatan ini, Indonesia didorong untuk bertransformasi dari sekadar pemasok bahan baku menjadi produsen teknologi, pengetahuan, dan produk bernilai tambah tinggi berdaya saing global.
Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan (DKP) BRIN, Prof. Nunung Nuryartono, menyatakan bahwa hilirisasi tidak cukup diukur dari banyaknya fasilitas pemurnian (smelter) yang dibangun. Menurutnya, daya saing industri saat ini sangat bergantung pada integrasi teknologi, tata kelola yang baik (good governance), serta prinsip keberlanjutan.
"Hilirisasi bukan sekadar membangun lebih banyak smelter. Hilirisasi adalah membangun kecerdasan dan akuntabilitas pada setiap tahapan rantai nilai industri," ujar Nunung, dikutip Minggu, 2 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, nilai suatu komoditas mineral kini ditentukan oleh efisiensi energi, intensitas karbon, serta kredibilitas data terkait pengelolaan lingkungan. Pemanfaatan AI dinilai krusial untuk mengoptimalkan proses manufaktur, namun harus diimbangi tata kelola yang ketat agar tidak merusak lingkungan.
"Teknologi tanpa tata kelola bukanlah kemajuan, melainkan kerentanan... Jika yang kita minta hanya produktivitas, maka produktivitas yang akan kita peroleh. Tetapi kita bisa membayarnya dengan kualitas air, kualitas udara, kondisi lahan, dan kepercayaan masyarakat," tegasnya.
Sebagai bentuk dukungan nyata, BRIN tengah mengembangkan National Life Cycle Inventory Database sebagai fondasi penghitungan jejak karbon dan standar perdagangan internasional, serta riset pemanfaatan limbah industri melalui pendekatan ekonomi sirkular.
Hilirisasi sebagai Strategi Penguatan Ekonomi Nasional
Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Ekonomi Nasional RI, Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan bahwa hilirisasi merupakan pilar utama dalam memperkuat struktur ekonomi nasional. Pemerintah kini tidak hanya berfokus pada hilirisasi mineral kritis seperti nikel, tetapi juga merambah sektor pertanian dan sumber daya hayati.
Luhut mengungkapkan bahwa transformasi ini turut didorong oleh pembangunan ekosistem data nasional yang terintegrasi dengan dukungan AI guna menghasilkan kebijakan publik yang cepat dan akurat. Ia juga menekankan pentingnya penguatan kolaborasi internasional, termasuk kemitraan strategis dengan Tiongkok dalam hal riset bersama dan pengembangan kapasitas SDM.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Presiden Northeastern University Tiongkok, Prof. Xu Wei, menilai bahwa AI industri dirancang khusus untuk mengoptimalkan proses manufaktur dan pertambangan cerdas.
Namun, ia mengingatkan agar teknologi tetap diposisikan sebagai alat bantu yang dikendalikan oleh manusia, dengan tetap mengandalkan pemahaman mendalam ilmuwan terhadap mikrostruktur material.
Melalui seminar internasional ini, BRIN memperkuat komitmen sinergi lintas sektor, meliputi pemerintah, lembaga riset, akademisi, dan industri guna mewujudkan industri mineral nasional yang cerdas, bernilai tambah tinggi, dan berkelanjutan.









