TVRINews, Jakarta
Badan Gizi Nasional (BGN) memandang Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 sebagai mitra strategis dalam mendukung implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk mempercepat peningkatan kualitas gizi sekaligus mendukung pembangunan sumber daya manusia di daerah. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Papua, di mana sekitar 1.200 peserta TEP akan ditempatkan untuk menjalankan tugas pengabdian.
Direktur Tata Kelola Pemenuhan Gizi BGN, Sitti Aida Adha Taridala mengatakan, penempatan peserta TEP di Papua sejalan dengan fokus pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) terhadap daerah-daerah tertinggal.
"Saya tahu informasi bahwa ada sekitar 1.200 peserta yang akan bekerja di Papua. Ini memang sejalan dengan fokus pemerintah dalam RPJMN untuk daerah-daerah tertinggal," ujar Sitti Aida dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Minggu, 2 Agustus 2026.
Menurutnya, penempatan peserta TEP di Papua juga sejalan dengan prioritas BGN dalam melakukan intervensi di daerah yang masih menghadapi prevalensi stunting dan persoalan gizi yang tinggi.

Kemudian Sitti Aida menegaskan, pelaksanaan MBG tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja. Dibutuhkan kolaborasi antara kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, perguruan tinggi, peserta TEP, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
"Program Makan Bergizi Gratis tidak mungkin terlaksana tanpa kolaborasi, sinergitas, dan kerja sama yang baik dengan kementerian lembaga lainnya, dengan pemerintah daerah, dan stakeholder lain," tuturnya.
Ia menjelaskan, MBG tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan status gizi masyarakat. Program tersebut juga diharapkan dapat memberikan dampak terhadap sektor pendidikan, membuka lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, serta menggerakkan perekonomian lokal.
Selain mendukung pelaksanaan di lapangan, TEP dan kalangan akademisi juga memiliki ruang untuk berkontribusi melalui penelitian, inovasi, serta pengabdian kepada masyarakat.
Lebih lanjut, Sitti Aida menyebut seluruh tahapan pelaksanaan MBG, mulai dari perencanaan menu, pengadaan bahan pangan lokal, distribusi hingga evaluasi, dapat menjadi bahan kajian dan penelitian sesuai bidang keahlian masing-masing.
"Dari awal sampai akhir di sana, dari satu sampai tujuh merupakan bahan kajian, bahan penelitian, bahan untuk kita pengabdian kepada masyarakat sesuai dengan bidang keahlian kita masing-masing," ucapnya.
BGN, lanjut Sitti Aida, terbuka terhadap berbagai masukan dari peserta TEP dan akademisi untuk menjadi bahan evaluasi dan penyempurnaan implementasi MBG.
Di sisi lain, BGN telah membangun jaringan pelaksana melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai daerah, termasuk wilayah 3T.
Keberadaan SPPG tersebut diharapkan dapat menjadi mitra koordinasi bagi peserta TEP selama menjalankan pengabdian di daerah. Dengan demikian, implementasi MBG dapat berjalan selaras dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Melalui sinergi BGN, TEP, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya, program tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat pemenuhan gizi masyarakat di wilayah 3T, tetapi juga mendukung pembangunan sumber daya manusia yang lebih sehat, produktif, dan berdaya saing.









