TVRINews – Jakarta
Aktivitas vulkanik Anak Krakatau kembali menguat pada 2026. Dari letusan berulang hingga erupsi menerus, gunung api di Selat Sunda ini kembali menjadi perhatian setelah aktivitasnya mengganggu penerbangan dan aktivitas masyarakat.
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Episode erupsi menerus yang dimulai pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB berlangsung hingga Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat aktivitas tersebut sebagai salah satu episode erupsi dengan intensitas tertinggi sepanjang 2026. Status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau melaporkan adanya pancaran lava atau lava fountain selama episode erupsi. Fenomena tersebut disertai suara gemuruh yang terdengar dari sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati sebelumnya menyatakan episode erupsi menerus tersebut telah berakhir, tetapi aktivitas gunung api masih harus dipantau secara intensif.
Badan Geologi juga mencatat bahwa aktivitas erupsi Anak Krakatau telah berlangsung berulang sejak kembali mengalami erupsi pada 2 Juli 2026. Hingga awal September, jumlah letusan yang tercatat telah mencapai lebih dari 240 kejadian.
Jejak Aktivitas Sejak 2016
Peningkatan aktivitas Anak Krakatau bukan fenomena baru. Gunung api yang berada di perairan Selat Sunda tersebut telah memperlihatkan rangkaian erupsi dalam satu dekade terakhir.
Pada 2016, letusan tercatat terjadi pada 20 Juni. Setahun kemudian, pada 19 Februari 2017, Anak Krakatau kembali mengalami letusan bertipe Strombolian yang menghasilkan lontaran material pijar di sekitar kawah. Catatan Badan Geologi menyebut karakter erupsi Anak Krakatau dapat berupa letusan eksplosif maupun aliran lava.

(Foto Ilustrasi Grafis: TVRINews.com)
Aktivitas kemudian meningkat pada 2018. Rangkaian erupsi dimulai pada 29 Juni dan berlanjut hingga Desember. Periode tersebut menjadi salah satu fase paling penting dalam sejarah modern Anak Krakatau. Pada 22 Desember 2018, longsoran sebagian tubuh gunung akibat aktivitas vulkanik memicu tsunami di kawasan pesisir Banten dan Lampung
Peristiwa itu menimbulkan korban jiwa dan kerusakan besar di kawasan pesisir Selat Sunda. Erupsi tersebut juga mengubah bentuk fisik Anak Krakatau secara signifikan. Setelah peristiwa tersebut, fase pertumbuhan kembali tubuh gunung berlangsung dalam beberapa tahun berikutnya.
Aktivitas Berlanjut pada 2020
Dua tahun setelah tsunami 2018, Anak Krakatau kembali memperlihatkan aktivitas erupsi. Salah satu episode yang cukup menonjol terjadi pada April 2020, ketika letusan menghasilkan kolom abu dan material vulkanik.
Aktivitas tersebut menjadi pengingat bahwa Anak Krakatau masih berada dalam fase konstruksi dan dapat kembali mengalami perubahan aktivitas sewaktu-waktu.
Pola serupa kembali terlihat pada 2022. Erupsi terjadi dalam beberapa periode dan menghasilkan kolom abu dengan ketinggian hingga sekitar satu kilometer. Pada salah satu periode aktivitas tersebut, Badan Geologi menetapkan zona larangan aktivitas di sekitar kawah sebagai bagian dari langkah mitigasi.
Erupsi Berulang pada 2023
Aktivitas vulkanik berlanjut pada 2023. Anak Krakatau beberapa kali mengalami erupsi dengan kolom abu mencapai ratusan meter hingga sekitar satu kilometer dari puncak.
Pada November 2023, PVMBG mencatat sejumlah letusan dalam satu hari dan tetap mempertahankan status aktivitas pada Level III atau Siaga. Masyarakat dan wisatawan diminta tidak melakukan aktivitas di sekitar kawah aktif sesuai radius bahaya yang ditetapkan saat itu.
Setelah rangkaian aktivitas tersebut, Anak Krakatau memasuki periode dengan aktivitas erupsi yang lebih rendah. Badan Geologi mencatat fase erupsi berskala rendah berlangsung hingga Desember 2023 sebelum kemudian mengalami jeda.
Memasuki Fase Baru pada 2026
Aktivitas kembali berubah pada awal Juli 2026. Badan Geologi mencatat erupsi pada 2 Juli dan 3 Juli, sebelum rangkaian aktivitas berikutnya terus dipantau hingga September. Status gunung kemudian berada pada Level III atau Siaga.

(Ilustrasi aktivitas erupsi gunung api dalam pantauan satelit. , Minggu, 6 September 2026. [Foto: Satelit & NBSP])
Puncak peningkatan aktivitas terjadi pada awal September. Erupsi menerus yang dimulai pada 4 September menghasilkan pancaran lava yang menyerupai lava fountain. Aktivitas tersebut berlangsung sekitar 25 jam dan berakhir pada 6 September dini hari.
Intensitas erupsi juga berdampak pada aktivitas masyarakat di wilayah yang lebih luas. Abu vulkanik menyebar mengikuti kondisi angin dan mengganggu penerbangan.
Pada Senin, 7 September 2026, Kementerian Perhubungan Memastikan delapan bandara di Indonesia masih terdampak penutupan akibat sebaran abu vulkanik Anak Krakatau. Gangguan tersebut turut memengaruhi perjalanan udara dalam jumlah besar.
“Kondisi debu yang tadi siang anginnya mengarah ke Barat, sekarang informasi dari BMKG anginnya mengarah ke Timur dengan kecepatan 5 knot pada level 15.000 feet. Melihat informasi tersebut dan koordinasi dengan seluruh stakeholder penerbangan, maka kami memutuskan delapan bandara tersebut akan kami tutup sampai 24.00 WIB,” ujar Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi Minggu 6 September 2026.
Tidak Ada Indikasi Tsunami Saat Ini
Pengalaman tsunami pada 2018 membuat aktivitas Anak Krakatau kembali menjadi perhatian publik. Namun, kondisi gunung saat ini tidak menunjukkan indikasi ancaman tsunami yang sama seperti peristiwa delapan tahun lalu.
BNPB menyampaikan bahwa berdasarkan evaluasi PVMBG, tubuh Anak Krakatau yang tumbuh kembali setelah 2018 masih relatif kecil sehingga tidak menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Meski demikian, pemerintah tetap meminta masyarakat tidak mendekati kawasan gunung api dan mengikuti informasi resmi dari otoritas kebencanaan.
Badan Geologi mengimbau masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung untuk tetap tenang serta mengikuti perkembangan aktivitas melalui kanal resmi pemerintah.
Aktivitas yang Harus Terus Dipantau
Sejarah Anak Krakatau menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik gunung api tersebut berlangsung secara dinamis. Perubahan intensitas dapat terjadi dalam waktu relatif singkat sehingga pemantauan menjadi bagian penting dari mitigasi.
Erupsi 2026 sekaligus memperlihatkan bahwa dampak aktivitas gunung api tidak hanya berkaitan dengan wilayah di sekitar kawah. Sebaran abu dapat memengaruhi penerbangan, kesehatan masyarakat, pendidikan, hingga kegiatan ekonomi di wilayah yang lebih jauh.
Karena itu, masyarakat di sekitar Selat Sunda perlu mengandalkan informasi dari PVMBG, Badan Geologi, BNPB, BMKG, serta pemerintah daerah, terutama ketika terjadi perubahan status atau rekomendasi keselamatan.
Anak Krakatau sendiri merupakan gunung api muda yang tumbuh di kawasan kaldera Krakatau setelah erupsi besar 1883. Aktivitas pascapembentukannya mulai tercatat pada 1927, sementara tubuh gunung mulai muncul di atas permukaan laut pada 1929.
Lebih dari satu abad setelah kemunculannya, Anak Krakatau masih menjadi salah satu gunung api yang paling dinamis di Indonesia. Rangkaian erupsi sepanjang 2016 hingga 2026 memperlihatkan bahwa perubahan aktivitasnya perlu dibaca bukan hanya sebagai peristiwa vulkanik, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitar Selat Sunda.










